Covid-19 Menuju 4 Juta Kasus, Belajar Tatap Muka Bisa Molor Sampai 2022
Ada banyak pertimbangan soal dimulainya belajar tatap muka. Pertama, kemampuan sekolah dalam menerapkan prokes ketat yang masih meragukan.
MAKASSAR, PEDOMANMEDIA - Covid-19 Indonesia menuju 4 juta kasus. Kurva tak terkendali ini dikhawatirkan akan membuat agenda belajar tatap muka tertunda lebih lama.
"Melihat tren kasus sepertinya belajar tatap muka masih sulit dilakukan dalam 3 bulan. Sangat mungkin molor ke 2022," ujar Fakhri Supardi, pengamat pendidikan Sulsel, Senin (23/8/2021).
Menurut Fakhri, ada banyak pertimbangan soal dimulainya belajar tatap muka. Pertama, kemampuan sekolah dalam menerapkan prokes ketat yang masih meragukan.
Kedua, angka kasus masih relatif tinggi. Belum ada penurunan secara merata di semua daerah.
"Jadi belum bisa berlaku menyeluruh," katanya.
Fakhri menyinggung soal pembelajaran daring selama setahun lebih. Menurutnya, dampaknya sangat terlihat pada penurunan kualitas siswa. Durasi belajar yang pendek dan hilangnya iklan ruang kelas, membuat daya serap siswa juga menurun.
"Efeknya sangat komplet. Semua menurun secara kualitas. Bukan saja siswa tapi juga guru," jelasnya.
Mendikbud Ristek Nadiem Makarim sendiri belum akan memastikan jadwal belajar tatap muka secara nasional. Belajar tatap muka hanya akan dilakukan per zona.
Ia mengatakan, belajar tatap muka harus mempertimbangkan banyak hal. Sehingga proyeksi ini diharapkan dilaksanakan benar benar sesuai standar keamanan.
Menurut Nadiem, panduan penerapan prokes di sekolah telah dikaji dengan matang. Panduan itu dipercaya bisa diterapkan dengan baik sehingga sekolah tidak menjadi klaster penyebaran Corona.
Sebelumnya Nadiem menyetujui belajar tatap muka dipercepat. Ia beralasan, riset di banyak negara membuktikan tingkat infeksi Covid-19 pada anak sangat rendah.
"Riset di banyak negara sudah membuktikan bahwa anak usia 3-18 tahun itu memiliki tingkat mortalitas yang sangat rendah dibandingkan usia yang lain. Makanya banyak negara sudah membuka sekolah tatap muka," ujar Nadiem.
Ia mengungkapkan, anak-anak di bawah usia 18 tahun memiliki tingkat risiko infeksi yang rendah dibanding orang dewasa. WHO juga menyampaikan rendahnya kasus penularan Covid-19 pada anak di seluruh dunia. Ini menjadi pertimbangan banyak negara memulai sekolah tatap muka meski memiliki kasus Corona yang cukup tinggi.
Pemerintah sendiri telah beberapa kali menunda belajar tatap muka. Sempat ada rekomendasi dimulainya pembelajaran tatap muka Januari 2021. Namun rencana itu ditunda menyusul naiknya kembali angka kasus Corona.
"Kita tak bisa lama-lama lagi menunda belajar tatap muka. Kita sudah tertinggal jauh. Kita harapkan target secepatnya sekolah bisa dibuka," ujar Nadiem.
Ia menyebutkan, hasil uji coba belajar tatap di beberapa daerah cukup efektif. Angka kasus Corona juga relatif lebih landai. Belum ada laporan adanya klaster baru pada sekolah.
Sehingga menurut Nadiem, target belajar tatap muka bisa diorientasikan lebih cepat. Ia menyebut target memulai akhir tahun nanti diharapkan tak lagi ditunda.
