Sabtu, 17 Juli 2021 10:38

Jerit Para Pengusaha Sambut Perpanjangan PPKM Darurat: Habis Kita

Ilustrasi (int)
Ilustrasi (int)

Akan banyak yang dikorbankan dari perpanjangan PPKM Darurat. Selain menurunnya omzet, perusahaan juga akan merumahkan karyawan.

JAKARTA, PEDOMANMEDIA - Pengusaha mulai merasakan imbas skema panjang PPKM Darurat. Mereka mulai was-was dan mempertimbangkan untuk memangkas karyawan.

"Kalau PPKM sampai enam pekan mau tidak mau kami lakukan dulu pengurangan karyawan. Nda bisa kita hindari karena omzet ini terjun bebas," ujar Alisia, pemilik salah saru kafe di Makassar, Sabtu (17/7/2021).

Menurut Alisia, dua pekan pemberlakuan PPKM Darurat, omzetnya menurun hingga 60%. Sementara jumlah karyawan tetap sama meski dilakukan pemecahan shif.

Baca Juga

Ia menyebut, gaji karyawan tidak dipangkas dengan adanya PPKM. Sementara omzet menurun drastis dan nyaris tidak mampu menutupi lagi biaya operasional.

"Karena itu satu satunya cara ya kita rumahkan dulu 30 sampai 40% karyawan. Kalau kita tetap paksakan habis kita," keluh Alisia.

Sejumlah pengusaha juga makin pesimis bisa bangkit dari keterpurukan jika PPKM benar benar diterapkan hingga 6 pekan.

"Sulit kita perbaiki kondisi usaha karena pembatasan menurunkan produktivitas. Apalagi kalau sampai 6 pekan PPKM kinerja semua sektor usaha pasti jatuh," jelas pengusaha ritel Sudarman Afif..

Menurut Sudarman, akan banyak yang dikorbankan dari perpanjangan PPKM Darurat. Selain menurunnya omzet, perusahaan juga akan menempuh kebijakan prinsipil dengan merumahkan karyawan untuk perimbangan usaha.

Di sisi lain, jumlah karyawan yang tidak ideal akan membuat perusahaan semakin sulit menormalisasi pendapatan. Karena itu kata Sudarman, harus ada kebijakan yang lebih mendukung dunia usaha.

"Kalau kebijakannya tidak berubah kita makin sulit. Harus ada formulasi baru agar produktivitas tak benar benar menurun karena PPKM," imbuhnya.

Para ekonom juga menilai Indonesia sulit mencapai proyeksi pertumbuhan ekonomi di atas 4% jika PPKM Darurat diterapkan berkepanjangan. Sejumlah sektor penopang justru diramal melambat.

"PPKM Darurat akan membuat sektor sektor penopang ekonomi tidak produktif. UMKM akan terdampak, industri sampai jasa juga ikut terimbas," terang pengamat ekonomi, Sjamsul Ridjal dalam keterangan tertulis, Senin (12/7/2021).

Menurut Sjamsul, PPKM Darurat banyak membatasi pergerakan arus barang dan jasa. Sirkulas distribusi yang mengalami hambatan membuat biaya operasional naik dan memperlambat produktivitas.

Pada gilirannya, lanjut Sjamsul, jika kondisi ini berkepanjangan akan memberi tekanan pada sektor usaha. Biaya operasional membangkak, produksi melemah dan akhirnya satu satunya upaya untuk tetap bertahan adalah memangkas biaya karyawan.

"Ujungnya adalah pengurangan karyawan. Dan akan terulang kembali kondisi seperti tahun lalu saat terjadi PHK besar besaran," papar Sjamsul.

Karena itu Sjamsul tidak yakin pemerintah mampu mengembalikan prospek ekonomi tahun ini. Apalagi sampai menargetkan pertumbuhan di atas 4%.

"Tahun ini bisa bertahan di posisi 3% saja sudah bagus. Karena ini tahun pemulihan. Kalau sampai Agustus PPKM masih diperpanjang maka pemulihan akan sampai akhir tahun," jelasnya.

Sjamsul menyarankan agar upaya terpenting sekarang adalah menjaga konsumsi. Jangan sampai kembali terpuruk dan memicu resesi.

Dalam proyeksi, pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi RI akan menyentuh level positif 4% di akhir tahun. Kasus Corona yang kembali memuncak, diyakini tidak akan merusak skenario penanganan ekonomi.

Editor : Muh. Syakir
#ppkm darurat #Omzet Pengusaha Turun #Covid-19
Berikan Komentar Anda