Nurjaya Ungkap Kondisi PDAM Bulukumba Jelang Dilantik: Sakit Parah
Saat ini PDAM Bulukumba sedang sakit parah. Salah satu penyebabnya adalah sumber daya manusia (SDM) yang minim.
BULUKUMBA, PEDOMANMEDIA - Pasca ditetapkan pada Mei 2021 lalu, Andi Nurjaya hingga kini belum dilantik sebagai Direktur PDAM Bulukumba. Meski begitu, mantan Direktur PDAM Bantaeng tersebut, mengaku sudah action.
"Belum pelantikan. Sisa menunggu petunjuk pemerintah daerah. Mungkin dalam waktu dekat ini. Kalau SK (Surat Keputusan) sudah ada," katanya kepada awak media, kemarin.
Menurut dia, pelantikan hanya bersifat seremonial. Yang terpenting dan yang dibutuhkan adalah yuridis-formilnya, yaitu SK. Selain itu, yang dibutuhkan adalah action.
"Ya itulah profesionalisme karena direktur itu bukan hanya sebagai pemikir. Tapi dia juga harus pekerja. Nah, tiga bulan ke depan kita akan lihat keadaan perusahaan," katanya.
Ia juga menilai PDAM di Bulukumba saat ini, sedang sakit parah "stadium IV". Diperlukan, terobosan dan reaksi cepat untuk penanganan.
Lantas "Pil" apa untuk mengobati PDAM Bulukumba yang sakit?
Menurut Nurjaya, salah satu penyebabnya adalah sumber daya manusia (SDM) yang minim. Olehnya, dia mengutus delapan orang untuk berangkat sekolah di Akademi Air di Magelan sebagai cikal bakal keilmuan di bidang air ke depan.
"Tahun 2027 tidak ada lagi direktur umum seperti saya. Semuanya dari akademi. Tiga tahun di sana, begitu dia datang, kita sudah tempatkan. Tidak perlu lagi seperti sekarang karena mereka sudah mengerti 'job describtion'." Jelas pria kelahiran 15 Juni 1965 tersebut.
Selanjutnya tata kelola manajemen yang dia lakukan, yaitu menempatkan Ahli IT agar kelak jika terjadi kebocoran, maka pihaknya tidak perlu lagi ke lapangan untuk mengecek.
"Insyaa Allah Desember kita tidak perlu lagi ke lapangan untuk melihat di mana ada kebocoran. Jadi sudah dilihat di kantor saja," bebernya.
"Semua karyawan juga punya ID card. Ada chip di situ. Dan itu terkontrol di Hp saya. Terus ada namanya posko 1 x 24 jam atau unit reaksi cepat," jelas Nurjaya menambahkan.
Ia mengurai bahwa sebenarnya PDAM itu adalah operator yang mengatur semua gerakan atau pelayanan air. Maka, empat bulan sekali bak itu harus dicuci. Sebulan sekali pipa di bawah tanah itu dikuras. Di saat tidur.
"Ada dua jenis kebocoran, yaitu fisik dan non fisik. Kebocoran fisik yakni lubang-lubang, bocor-bocor yang tidak dipedulikan. Terus kebocoran non fisik yaitu pencurian air, pelanggan tidak pakai meteran dan lain-lain," tukasnya.
Selain itu, untuk mengatasi kebocoran, kata Nurjaya, juga diperlukan pola komunikasi yang baik antara pihak PDAM dengan masyarakat.
"Kita berikan pemahaman ke masyarakat. Seperti, mengambil air berarti pencurian. Daripada masyarakat itu tersangkut hukum, lebih baik kita duduk sama-sama. Kita buatkan pentil udara. Kita buatkan penampungan. Kita bagi di situ. Aman kan," imbuhnya.
Sekadar diketahui, panitia seleksi direksi PDAM Bulukumba mengumumkan nama Andi Nurjaya pada 17 Mei 2021. Adapun pengumuman itu dengan nomor: 05/Pnt/V/2021.
Sebelumnya juga, ada dua calon direktur PDAM Bukukumba yang bersaing, yaitu Andi Nurjaya dan Suratman. Keduanya pun dianggap punya pengalaman mumpuni dalam manajemen pengelolaan PDAM.
Andi Nurjaya yang lahir pada 15 Juni 1965 adalah mantan Direktur PDAM Bantaeng. Sementara, Suratman lahir 16 Juni 1966 merupakan mantan Direktur PDAM Sinjai.
