JAKARTA, PEDOMANMEDIA - Pemerintah merancang skema panjang PPKM Darurat hingga enam pekan ke depan. Merespons kemungkinan ini, pengusaha semakin pesimis bisa bangkit dari keterpurukan.
"Sulit kita perbaiki kondisi usaha karena pembatasan menurunkan produktivitas. Apalagi kalau sampai 6 pekan PPKM kinerja semua sektor usaha pasti jatuh," jelas pengusaha ritel Sudarman Afif, Senin (12/7/2021).
Menurut Sudarman, akan banyak yang dikorbankan dari perpanjangan PPKM Darurat. Selain menurunnya omzet, perusahaan juga akan menempuh kebijakan prinsipil dengan merumahkan karyawan untuk perimbangan usaha.
Di sisi lain, jumlah karyawan yang tidak ideal akan membuat perusahaan semakin sulit menormalisasi pendapatan. Karena itu kata Sudarman, harus ada kebijakan yang lebih mendukung dunia usaha.
"Kalau kebijakannya tidak berubah kita makin sulit. Harus ada formulasi baru agar produktivitas tak benar benar menurun karena PPKM," imbuhnya.
Para ekonom juga menilai Indonesia sulit mencapai proyeksi pertumbuhan ekonomi di atas 4% jika PPKM Darurat diterapkan berkepanjangan. Sejumlah sektor penopang justru diramal melambat.
"PPKM Darurat akan membuat sektor sektor penopang ekonomi tidak produktif. UMKM akan terdampak, industri sampai jasa juga ikut terimbas," terang pengamat ekonomi, Sjamsul Ridjal dalam keterangan tertulis, Senin (12/7/2021).
Menurut Sjamsul, PPKM Darurat banyak membatasi pergerakan arus barang dan jasa. Sirkulas distribusi yang mengalami hambatan membuat biaya operasional naik dan memperlambat produktivitas.
Pada gilirannya, lanjut Sjamsul, jika kondisi ini berkepanjangan akan memberi tekanan pada sektor usaha. Biaya operasional membangkak, produksi melemah dan akhirnya satu satunya upaya untuk tetap bertahan adalah memangkas biaya karyawan.
"Ujungnya adalah pengurangan karyawan. Dan akan terulang kembali kondisi seperti tahun lalu saat terjadi PHK besar besaran," papar Sjamsul.
Karena itu Sjamsul tidak yakin pemerintah mampu mengembalikan prospek ekonomi tahun ini. Apalagi sampai menargetkan pertumbuhan di atas 4%.
"Tahun ini bisa bertahan di posisi 3% saja sudah bagus. Karena ini tahun pemulihan. Kalau sampai Agustus PPKM masih diperpanjang maka pemulihan akan sampai akhir tahun," jelasnya.
Sjamsul menyarankan agar upaya terpenting sekarang adalah menjaga konsumsi. Jangan sampai kembali terpuruk dan memicu resesi.
Dalam proyeksi, pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi RI akan menyentuh level positif 4% di akhir tahun. Kasus Corona yang kembali memuncak, diyakini tidak akan merusak skenario penanganan ekonomi.
"PPKM darurat tidak akan sampai membuat pertumbuhan ekonomi jatuh. Target sampai 4% tetap memungkinkan dicapai pada akhir tahun," terang Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.
Ia mengatakan, dengan berbagai kebijakan yang ada, sektor sektor ekonomi akan lebih baik. Dampak dari berbagai stimulus muktisektor akan membuat pertumbuhan ekonomi lebih baik.
Dia mengatakan, Indonesia terbantu dengan surplus neraca perdagangan yang surplus selama 13 bulan berturut-turut. Di mana hal tersebut ditopang oleh peningkatan harga-harga komoditas.
Selain itu, ekspor selain CPO dan turunannya dari logam, dari copper dan turunannya, juga ada yang terkait dengan perhiasan.
Tantangan paling utama terjadi di kuartal III. Sebab, kuartal III sebelumnya diprediksi lebih tinggi dibanding kuartal II.
BERITA TERKAIT
-
PPKM Kian Longgar, Pengusaha Ramal Dalam 4 Bulan Bisnis Pulih
-
PPKM Level 4 Meluas, ini Analisis Ekonom Terhadap Kemungkinan PHK Massal
-
PPKM Dilonggarkan Besok, Sejumlah Usaha Bisa Beroperasi Hingga Pukul 21.00
-
Pemerintah Suntik UMKM, Indonesia Tetap Dibayangi PHK Massal
-
Ini Langkah Ekstrem Pengusaha Jika PPKM Diperpanjang Sampai Agustus