Senin, 07 Juni 2021 07:45

Utang Indonesia Sentuh Rp6.500 Triliun, Ekonom: Alarm Bahaya

Ilustrasi (int)
Ilustrasi (int)

Data sebelumnya, utang pemerintah RI per Desember 2020 menyentuh Rp 6.074 triliun. Angka ini melejit Rp 136,92 triliun dalam tempo satu bulan.

JAKARTA, PEDOMANMEDIA - Utang Indonesia meroket Rp6.500 triliun di periode April 2021. Rasio kenaikan utang  hingga Rp82 triliun hanya dalam kurun empat pekan dinilai sebagai alarm bahaya.

"Langkah Jokowi bisa menjadi masalah besar bagi keuangan negara. Beban utang yang ada sekarang sudah sangat berat," ujar ekonom Sjamsul Ridjal, dalam keterangan tertulis, Senin (7/6/2021).

Dengan rasio yang ada sekarang, butuh minimal 4 periode kepemimpinan untuk menyelesaikan utang utang itu. Dalam enam bulan terakhir Indonesia menambah limit utang di atas angka rata rata dibanding satu dekade.

Baca Juga

Maret lalu, pemerintah Indonesia kembali manambah utang luar negeri usai menerima pinjaman dari Jerman. Pinjaman bilateral yang ditarik Indonesia senilai 550 juta Euro atau setara Rp 9,1 triliun.

Perjanjian itu ditandatangani secara terpisah di kantor Bank Pembangunan Jerman (KFW) di Frankurt, Jerman dan di Kementerian Keuangan, Jakarta. Pinjaman tersebut akan dialokasikan untuk penanganan Corona.

Sebelumnya, pemerintah Indonesia juga mendapat pinjaman dari Pemerintah Australia dengan nilai mencapai 1,5 miliar dollar Australia. Angka tersebut setara dengan Rp 15 triliun lebih.

"Beban negara semakin berat karena utang utang itu akan menguras APBN. Seharusnya di masa pandemi utang dihentikan dulu. Tidak ada urgensi utang untuk mengatasi Corona. Fase kita sekarang adalah memulihkan ekonomi," kata Sjamsul.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menilai pertumbuhan utang Indonesia masih lebih normal dibanding negara negara maju di Eropa. Analogi perbandingan Menkeu ini dinilai sesat.

"Sangat tidak tepat analogi perbandingannya. Indonesia dibandingkan dengan Eropa. Amerika. Potensi masalahnya beda. Percepatan pemulihan ekonomi Eropa dan Indonesia juga sangat jauh. Jadi sesat pemikiran itu," terang pengamat ekonomi Sjamsul Ridjal.

Sri menyebut kontraksi ekonomi RI lebih baik. Ada negara yang lebih baik seperti Vietnam, China, dan Korea Selatan. Namun hampir sebagian besar negara G20 atau negara ASEAN terjatuh lebih dalam dari Indonesia.

Termasuk beberapa negara Eropa dan Amerika. Soal utang luar negeri RI yang sudah melampaui Rp6.000 triliun, Menurutnya, angka ini juga masih terbilang lebih baik dibanding negara negara maju.

Indonesia tumbuh di bawah 6% per tahun. Sementara Amerika dan beberapa negara Eropa di atas 10%.

Menurut Sjamsu, di sinilah kekeliruannya. Membandingkan dua negara dengan asas masalah yang berbeda. Indonesia terjerat utang bukan hanya karena Corona. Indonesia sudah mencatat grafik kenaikan utang jauh sebelum pandemi.

Dalam data sebelumnya, utang pemerintah RI per Desember 2020 menyentuh level Rp 6.074 triliun. Angka ini melejit Rp 136,92 triliun hanya dalam tempo satu bulan.

Pada November 2020, utang RI masih di kisaran Rp 5.910 triliun. Kenaikan itu menjadi yang tertinggi sepanjang 2020 dilihat dari pertumbuhan per bulan.

Sjamsul menambahkan, Eropa terbukti mampu keluar dari krisis lebih cepat. Begitu juga Amerika. Meski mengalami kejatuhan hebat, tetapi mereka memiliki terapi ekonomi yang jelas.

Sementara Indonesia banyak bergantung pada utang luar negeri. Bahkan APBN akan mengalami defisit besar jika tak berutang.

"Sehingga tingkat ketergantungan kita pada utang mutlak. Jadi meski tidak ada pandemi kita akan tetap berutang," jelasnya.

Sementara itu, Indonesia juga mengalami kenaikan utang, namun rasio terhadap PDB di level 38,5 persen sehingga masih dalam posisi prudent dibandingkan negara maju dan ASEAN. Seperti Malaysia 66 persen, Singapura 131 persen, Filipina 54,8 persen dan Thailand 50 persen.

 

Editor : Muh. Syakir
#Utang Indonesia #Menkeu Sri Mulyani Indrawati #APBN 2021 #Pengamat Ekonomi
Berikan Komentar Anda
Epaper
Cover Epaper
Populer