Jusrianto : Sabtu, 24 April 2021 22:37
Pestisida Nabati Petani Koppe, Bone.

BONE, PEDOMANMEDIA - Petani di Desa Liliriawang, Kecamatan Bengo, Bone membuat inovasi baru. Salah satunya dengan menciptakan pestisida nabati untuk mengendalikan hama cabai.

Dimana, inovasi itu dengan pendampingan pihak Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Unit Kerja Instalasi Peramalan Pengamatan dan Pengendalian (IP3) Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) Wilayah II Bone.

Pihak BPTPH IP3 OPT Wilayah II Bone melalui Tenaga Harian Lepas (THL) Pengendali Orgnisme Pengganggu Tanaman (POPT) Suriati mengatakan, saat ini tanaman cabai petani mengalami gangguan hama buah busuk dan daun keriting. Menghadapi itu, ia bersama petani akan menggunakan inovasi pestisida nabati ala petani.

"Inovasi pestisida nabati buatan petani ini diberi nama Arkuka (Arang kulit kapuk) yang merupakan inovasi petani Muh Jafar. Inovasi ini rencananya juga akan dilombakan dalam Inovasi Teknologi Tingkat Kabupaten," ungkap Suriati, Sabtu (24/4/2021).

"Paling kita akan semprot nanti sore. Kita akan pakai pestisida yang aman ini. Kita sebut pestisida nabati, itu yang akan kita pakai di lahan Cabai Penerapan Dampak Penomena Iklim (PDPI) Cabe sekala luas Kelompok Tani Mattiro Deceng. Lokasi PDPI adalah lokasi demplot dari Pak Jafar," lanjutnya.

Lebih lanjut ia menyampaikan, berdasarkan pengalaman tahun sebelumnya, penggunaan pestisida nabati dinilai ampuh memberantas hama buah busuk dan daun kriting. Olehnya itu, ia mendampingi petani untuk melakukan penyemprotan tanaman cabai dengan pestisida nabati yang dinilai lebih aman ini.

"Kami harap hasil penyemprotan pestisida nabati ini seperti tahun-tahun sebelumnya, yakni ampuh mengatasi hama buah busuk dan daun kriting," harapnya.

Diberitakan sebelumnya, Tim BPTPH Unit Kerja Instalasi Peramalan Pengamatan dan Pengendalian (IP3) Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) Wilayah II Bone bersama petani di desa Liliriawang (Koppe), Kecamatan Bengo, berburu tikus, Rabu (31/3). BPTPH mendampingi petani dalam upaya pengendalian hama tikus di lahan pertani setempat.

Kepala BPTPH Unit Kerja IP3 OPT II Bone Wilayah Bosowasi Haji Sabran menjelaskan, potensi hama tikus akan kian berkembangbiak secara cepat jika tidak ditangani secara cepat dan tepat oleh para petani. Kata dia, salah satu upaya untuk mendukung peningkatan produktivitas pangan adalah dengan Gerakan Pengendalian (Gerdal) Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).

"Gerdal dilaksanakan agar OPT tidak menimbulkan kerusakan lebih luas. Bayangkan, sepasang tikus itu, jika dibiarkan, dalam setahun bisa berkembang biak menjadi lebih 1000 ekor. Kalau ada puluhan pasang tikus dibiarkan tidak dibasmi, maka dalam satahun tikus itu berkembang menjadi 10.000 atau 20.000-an tikus,"jelasnya

Menurutnya, jika saat kegiatan Gerdal OPT ini mampu membasmi sepuluh pasang tikus, maka itu artinya membasmi potensi munculnya puluhan ribu ekor tikus dalam setahun kedepan. Olehnya itu, kata dia, kesadaran petani akan pentingnya Gerdal OPT penting ditanamkan secara dini dan digalakkan terus.

"Saat ini, mungkin kalau tikusnya tidak dibasmi, mungkin tanaman padi masih aman. Namun kedepan, jika terus dibiarkan, pasti akan menjadi masalah serius. Bisa gagal panen," terangnya.

"Olehnya itu petani diminta rutin kurangi tikus. Hingga saat ini, sudah ada puluhan tikus yang berhasil dibasmi dengan memakai bom asap, belerang," tambahnya.

Hal senada disampaikan THL Pengendali Orgnisme Pengganggu Tanaman (POPT) Suriati. Ia mengatakan, Gerdal OPT sangat penting digalakkan secara dini guna meningkatkan produktivitas petani.

"Kita harus bersama-sama antisipasi serangan hama tikus, agar tidak semakin luas merusak tanaman padi petani," ungkapnya.