Muh. Syakir : Jumat, 23 Oktober 2026 19:49

JAKARTA, PEDOMANMEDIA - Menteri Pertanian Amran Sulaiman memperkirakan ketersediaan pangan nasional berupa beras mampu memenuhi kebutuhan masyarakat hingga Juli 2027.

Hal tersebut dia sampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (21/10).

Amran mengatakan perkiraan tersebut didasarkan pada total kekuatan pangan Indonesia yang mencapai sekitar 25 juta ton, terdiri atas stok di gudang, estimasi produksi tanaman yang masih berada di lahan, serta persediaan di sektor hotel, restoran, dan rumah tangga.

“(Stok pangan) total 25 juta ton. Kebutuhan per bulan itu 2,5 juta ton. Artinya apa? Kalau 25 juta ton bagi 2,5 itu 10 bulan, sampai bulan Juli tahun depan stok kita aman,” sebut Amran dalam paparannya di Istana Kepresidenan, dikutip Jumat (23/10).

Amran menyebut stok beras di gudang pada Oktober 2026 mencapai 4,56 juta ton, menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah. Bahkan, stok beras disebut pernah menyentuh 5,37 juta ton.

Selain stok yang tersedia di gudang, pemerintah memperhitungkan potensi produksi dari tanaman yang masih tumbuh di lahan atau standing crop dengan estimasi mencapai 10 juta ton.

“Kemudian horeka, hotel, rumah tangga, dan seterusnya, itu ada 10 juta ton. Di gudang, 4,5 juta ton. Total 25 juta ton,” lanjut Amran.

Amran juga menyoroti peningkatan kesejahteraan petani yang tercermin dari kenaikan Nilai Tukar Petani (NTP). NTP disebut meningkat dari level 48 menjadi 131, seiring kebijakan penurunan harga pupuk sebesar 20 persen dan kenaikan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah dan beras.

“Karena kebijakan Bapak Presiden, harga pupuk turun 20 persen dinikmati 115 juta petani Indonesia. Kemudian HPP, harga gabah beras naik, sehingga sekarang NTP-nya, Nilai Tukar Petani 131, dan ini tertinggi sejak '92 bahkan sejak merdeka,” tutur Amran.

Dari sisi kinerja ekonomi, produk domestik bruto (PDB) sektor pertanian dilaporkan tumbuh 5,74 persen, yang disebut sebagai pertumbuhan tertinggi dalam periode 2001–2025. Sementara itu, nilai ekspor sektor pertanian meningkat Rp 166 triliun, sedangkan impor turun Rp 41 triliun.

“Totalnya 208 triliun. Itu nilai tambah yang didapatkan petani karena harga pupuk turun 20 persen, HPP dinaikkan oleh Bapak Presiden,” sebut Amran.

Ke depan, Amran menyatakan pemerintah juga menyiapkan pengembangan lahan pertanian seluas 2 juta hektare di lahan mineral untuk memperkuat kapasitas produksi pangan nasional. Pengembangan itu diperkirakan dapat mendukung penyediaan pangan bagi kebutuhan hingga 500 juta penduduk.

“Beras, jagung, kedelai, apa saja tanaman pangan yang kita butuhkan, itu kita tanam. Jadi yang mana minus, ini yang kita tanam nanti ke depan,” lanjutnya.

Ia pun menyatakan telah berkoordinasi dengan Menteri Pertahanan dan TNI untuk menyiapkan tahap awal penggarapan lahan seluas 500.000 hektare.