Bahlil Pastikan Harga BBM Subsidi tak Naik hingga Akhir Tahun
Bahlil juga menjelaskan bahwa sampai akhir tahun sebenarnya harga BBM subsidi masih aman.
JAKARTA, PEDOMANMEDIA - Menteri ESDM Bahlil Lahadalia merespons harga minyak dunia yang sudah menembus USD 100 per barel. Meski harga naik, ia memastikan harga BBM untuk masyarakat menengah ke bawah tetap dijaga.
Adapun harga minyak dunia pada penutupan perdagangan Kamis (10/9) melonjak lebih dari 6 persen. harga minyak mentah Brent berjangka ditutup naik USD 6,42 atau 6,34 persen menjadi USD 107,63 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) jenis West Texas Intermediate (WTI) naik USD 6,43 atau 6,69 persen menjadi USD 102,48 per barel.
“Saya selalu berkoordinasi terus dengan Menteri Keuangan atas arahan Bapak Presiden Prabowo. Selalu melakukan dan mengikuti secara seksama terhadap berbagai dinamika perkembangan global. Khususnya menyangkut dengan hargaminya dunia yang tidak menentu. Tetapi pemerintah sampai dengan hari ini memutuskan untuk tetap menjaga harga minyak subsidi tidak ada kenaikan,” kata Bahlil, Jumat (11/9).
Bahlil menjelaskan fluktuasi harga minyak dunia memang bukanlah hal yang mudah diatasi. Meski demikian, pemerintah tetap memprioritaskan untuk tetap menjaga harga BBM subsidi salah satunya dengan menambahkan anggaran subsidi.
“Presiden Prabowo berpandangan bahwa membela dan menjaga daya beli masyarakat untuk menengah ke bawah itu jauh lebih penting sekalipun dengan berbagai macam hal-hal yang harus kita lakukan menambah anggaran subsidi, saya pikir itu bagian daripada langkah yang kita lakukan,” ujarnya.
Bahlil juga menjelaskan bahwa sampai akhir tahun sebenarnya harga BBM subsidi masih aman. Hal ini karena rata-rata harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) sampai September menurutnya masih ada pada kisaran USD 85 sampai 90 per barel
“Sekalipun sekarang sudah menjadi USD 106 sampai 108 per barrel (minyak dunia) tapi rata-rata ICP dari Januari sampai dengan bulan September sekarang itu kurang lebih di angka sekitar USD 85 sampai USD 90. Jadi masih overall masih oke,” kata Bahlil.
Adapun ICP Agustus 2026 naik ke level USD 89,43 per barel. Hal ini salah satunya dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak dunia sepanjang Agustus 2026 karena faktor geopolitik. Kenaikan terjadi sekitar USD 7,75 per barel dibandingkan ICP Juli 2026 yang berada di level USD 81,68 per barel.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman menjelaskan kenaikan ICP memang sejalan dengan kenaikan harga minyak mentah utama di pasar internasional selama Agustus 2026. Di samping itu, kekhawatiran terhadap gangguan jalur maritim, sanksi sanksi politik-ekonomi dan kebuntuan diplomasi internasional termasuk juga membatasi peluang penurunan harga minyak dunia.
“Rata-rata ICP Agustus 2026 yang naik menjadi US$ 89,43 per barel akibat dinamika pasar global yang dipengaruhi oleh tingginya risiko geopolitik serta potensi gangguan pasokan di jalur-jalur krusial. Berbagai ketegangan di kawasan Selat Hormuz dan Laut Merah, termasuk serangan terhadap kapal tanker dan fasilitas kilang, telah memicu kekhawatiran pasar terhadap pasokan minyak dunia,” kata Laode dalam keterangan tertulis.
Laode juga memproyeksi, memasuki September 2026, ICP akan tetap berada pada level tinggi di kisaran USD 83,00 sampai USD 87,00 per barel. Adapun proyeksi tersebut disebabkan oleh kendala pasokan di Selat Hormuz serta perkiraan penurunan cadangan minyak di Amerika Serikat (AS).
Walau demikian, ia menyatakan akan terus menjaga pergerakan harga minyak mentah dunia sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan energi nasional.
