Sabtu, 29 Agustus 2026 18:03

Program TJSL PLN Dorong Produktivitas, Nilai Panen KWT Wulasi Mandiri Naik Dua Kali Lipat

Program TJSL PLN Dorong Produktivitas, Nilai Panen KWT Wulasi Mandiri Naik Dua Kali Lipat

Menurutnya, pemberdayaan KWT Wulasi Mandiri menjadi bagian dari komitmen PLN dalam menghadirkan manfaat sosial dan ekonomi.

LUTIM, PEDOMANMEDIA - Sisa tanaman yang dahulu hanya dibiarkan membusuk, kini mulai diolah menjadi kompos. Pengetahuan budidaya yang sebelumnya belum dikenal mulai diterapkan di lahan, sementara hasil panen perlahan meningkat. Perubahan tersebut dirasakan Kelompok Wanita Tani (KWT) Wulasi Mandiri di Desa Manurung, Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur, setelah memperoleh pendampingan melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Sulawesi.

Salah satu perubahan yang paling terasa terlihat dari hasil budidaya kangkung. Jika sebelumnya nilai penjualan dalam satu kali panen berada di kisaran Rp200 ribu, kini KWT Wulasi Mandiri mampu memperoleh sekitar Rp485 ribu dalam satu kali panen. Nilai tersebut masih berpotensi bertambah seiring tanaman timun yang saat ini mulai berbuah dan siap memasuki masa panen.

Peningkatan hasil panen tersebut berjalan seiring dengan perubahan cara anggota kelompok mengelola lahan. Melalui pelatihan yang didampingi penyuluh pertanian, sebanyak 14 anggota KWT memperoleh pengetahuan mengenai pembuatan kompos serta Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR), yang kemudian mulai mereka praktikkan secara mandiri.

Baca Juga

Sebelumnya, sisa hasil pertanian hanya ditempatkan dalam wadah dan dibiarkan mengalami pembusukan. Setelah mengikuti pelatihan, anggota KWT mulai memahami bahwa proses pembuatan kompos perlu dikontrol, mulai dari tingkat kelembapan hingga kondisi bahan selama proses penguraian, agar dapat menghasilkan kompos yang layak dimanfaatkan untuk tanaman.

Ketua KWT Wulasi Mandiri, Nurhapidah, mengatakan pengetahuan tersebut menjadi pengalaman baru bagi anggota kelompok. Selain mulai memproduksi kompos, kelompok juga telah mencoba menerapkan PGPR pada lahan pertanian mereka.

“Dari pelatihan kami belajar bahwa membuat kompos bukan hanya mencampur bahan yang ada di sekitar. Kondisinya juga harus diperhatikan, apakah terlalu basah, terlalu kering, atau mengalami pembusukan. Sekarang kami mulai membuat kompos sendiri dan sudah menerapkan PGPR di lahan KWT,” ujar Nurhapidah.

PGPR yang dibuat anggota KWT memanfaatkan bahan-bahan yang mudah ditemukan di sekitar, seperti akar bambu, dedak, terasi, dan air. Setelah melalui proses pengolahan dan fermentasi, hasilnya dimanfaatkan untuk membantu mendukung pertumbuhan tanaman.

Pengetahuan baru tersebut melengkapi dukungan fasilitas yang sebelumnya diberikan PLN UIP Sulawesi berupa green house, rumah kompos, sistem pengairan sederhana, serta sarana pendukung budidaya. Keberadaan fasilitas tersebut membuat proses pembibitan dan pemeliharaan tanaman menjadi lebih terarah, termasuk membantu kelompok menjaga ketersediaan air bagi tanaman pada musim kemarau.

Bagi Nurhapidah, perubahan yang dirasakan kelompok tidak hanya terlihat dari peningkatan hasil panen. Aktivitas KWT yang semakin berkembang juga meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap kelompoknya.

“Dulu sekali panen kalau sudah menyentuh Rp200 ribu itu sudah terhitung banyak sekali. Sekarang alhamdulillah bisa sampai hampir Rp500 ribu, dan ini belum termasuk timun yang nanti kami panen. Orang-orang juga semakin percaya dengan KWT kami setelah adanya bantuan PLN. Sekarang sudah ada yang datang meminta bibit dari kami,” ungkapnya.

General Manager PLN UIP Sulawesi, I Gusti Made Aditya San Adinatha, mengatakan keberhasilan program TJSL tidak hanya diukur dari tersedianya fasilitas, tetapi juga dari kemampuan program dalam meningkatkan kapasitas dan kemandirian masyarakat.

“Yang ingin kami tumbuhkan bukan hanya sarana pertaniannya, tetapi juga pengetahuan, keterampilan, dan kemandirian kelompok. Ketika fasilitas yang diberikan dapat dimanfaatkan, pengetahuan baru diterapkan, kemudian produktivitas masyarakat ikut meningkat, di situlah manfaat program TJSL menjadi semakin nyata dan berkelanjutan,” ujar Aditya.

Menurutnya, pemberdayaan KWT Wulasi Mandiri menjadi bagian dari komitmen PLN dalam menghadirkan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat di sekitar pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan, khususnya SUTET 275 kV Wotu–Bungku.

“PLN ingin keberadaan pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan juga menghadirkan nilai tambah bagi masyarakat sekitar. Melalui program TJSL, kami berupaya mendorong pemberdayaan yang tidak hanya bersifat bantuan, tetapi juga membangun kemampuan masyarakat untuk tumbuh secara mandiri,” tambahnya.

Kini, green house dan rumah kompos tidak sekadar menjadi fasilitas baru bagi KWT Wulasi Mandiri. Keduanya berkembang menjadi ruang belajar dan ruang produksi bagi para anggota untuk mencoba pengetahuan baru, meningkatkan hasil pertanian, serta membuka peluang pengembangan usaha kelompok ke depan.

Penulis : Edo

Editor : Muh. Syakir
#PLN UIP Sulawesi
Berikan Komentar Anda