67 Anak Palestina Tewas Sejak Gencatan Senjata, UNICEF Kecam Israel
Dengan ratusan ribu anak tinggal di tenda-tenda di atas reruntuhan rumah mereka, musim dingin menjadi ancaman tambahan.
GAZA, PEDOMANMEDIA - Sedikitnya 67 anak Palestina dilaporkan tewas di Jalur Gaza sejak perjanjian gencatan senjata yang ditengahi Amerika Serikat mulai berlaku bulan lalu. Data tersebut disampaikan oleh United Nations Children's Fund (UNICEF), memunculkan kembali pertanyaan besar mengenai aktivitas dan keseriusan implementasi gencatan senjata di wilayah yang porak-poranda itu.
Dalam konferensi pers di Jenewa pada Jumat, juru bicara UNICEF Ricardo Pires mengungkapkan bahwa korban jiwa termasuk seorang bayi perempuan yang meninggal akibat serangan udara Israel di sebuah rumah di Khan Younis, Gaza Selatan, pada Kamis (20/11/2025). Sehari sebelumnya, tujuh anak juga tewas setelah Israel melancarkan gelombang serangan baru di wilayah kantong tersebut.
"Ini terjadi selama gencatan senjata yang disepakati. Polanya mengejutkan," kata Pires. Ia mengatakan bahwa setiap korban bukan sekedar angka -- mereka adalah anak-anak dengan keluarga, impian, dan masa depan yang kini terputus akibat kekerasan yang terus berlangsung.
Dilansir dalam Al Jazeera, Jumat (21/11/2025) UNICEF sebelumnya memperkirakan bahwa sejak perang dimulai pada Oktober 2023, sekitar 64.000 anak Palestina telah tewas maupun terluka akibat serangan Israel. Di tahun 2024, laporan Save the Children mencatat rata-rata 475 anak mengalami disabilitas permanen setiap bulan, termasuk cedera otak traumatis dan luka bakar berat.
Gaza bahkan kini disebut sebagai wilayah dengan jumlah anak amputasi terbesar dalam sejarah modern, sebuah gambaran tragis dari skala kekerasan yang dialami populasi mudanya.
Selain serangan udara, Israel juga dituduh menggunakan kelaparan sebagai senjata perang dengan membatasi masuknya bantuan. Situasi ini memicu krisis kemanusiaan yang parah, termasuk kematian anak-anak akibat kekurangan gizi dan kelaparan.
Dalam beberapa hari terakhir, militer Israel melancarkan serangan udara baru di Gaza, mengklaim bahwa pasukannya ditembaki di Khan Younis. Namun, Hamas menolak klaim tersebut dan menyebutnya sebagai "eskalasi berbahaya" yang menunjukkan keinginan Israel untuk melanjutkan apa yang mereka sebut sebagai "genosida".
Doctors Without Borders (MSF) melaporkan bahwa tim medis mereka merawat banyak perempuan dan anak-anak dengan luka tembak, patah tulang terbuka, hingga luka serius di kepala.
Zaher, seorang perawat MSF di Kota Gaza, menceritakan bagaimana mereka merawat seorang perempuan yang mengalami cedera kaki dan seorang anak perempuan berusia sembilan tahun dengan luka tembak di wajah akibat serangan quadcopter Israel.
Kesaksian lain datang dari Mohammed Malaka, pasien di Rumah Sakit al-Shifa. Ia menceritakan detik-detik ketika dua rudal menghantam area tempat tinggalnya.
"Saya membuka mata dan melihat ayah saya tergeletak di tanah. Ketiga saudara laki-laki saya juga berlumuran darah dan debu," ujarnya. "Orang-orang berteriak di mana-mana... tenda-tenda menjadi abu."
Selain ancaman langsung dari serangan, warga Gaza kini menghadapi tantangan baru: pembatasan bantuan kemanusiaan. Tenda, obat-obatan, makanan, hingga air bersih sangat sulit masuk akibat kontrol ketat Israel terhadap distribusi bantuan.
Pires menegaskan banyak anak tidur di ruang terbuka, gemetar ketakutan di tempat penampungan darurat yang kerap banjir. "Tidak ada tempat yang aman bagi mereka," katanya. "Dunia tidak boleh menormalkan penderitaan mereka."
Dengan ratusan ribu anak tinggal di tenda-tenda di atas reruntuhan rumah mereka, musim dingin menjadi ancaman tambahan. Malam-malam panjang dilewati dengan tubuh menggigil tanpa pemanas, tanpa insulasi, dan minim selimut, menambah risiko hipotermia, penyakit, hingga kematian.
