TATOR, PEDOMANMEDIA - Setiap orang tentu menginginkan anggota keluarganya selalu sehat. Namun bagi Anastasia Ambabunga (48), cobaan datang ketika sang suami, Yonatan Rerung (49), harus berjuang melawan penyakit tetanus yang menyerang sistem sarafnya.
Ditemui di Rumah Sakit Fatima, Senin (20/10), Anastasia menceritakan pengalaman mendampingi suaminya selama menjalani perawatan dan pengobatan lanjutan di poli saraf rumah sakit tersebut dengan memanfaatkan JKN.
Anastasia menuturkan bahwa seluruh biaya pengobatan dan perawatan suaminya ditanggung sepenuhnya oleh BPJS Kesehatan melalui Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Saat ini, ia dan suami aktif sebagai peserta JKN segmen Pekerja Penerima Upah (PBPU), dimana saat ini ia bekerja sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) dengan iuran JKN dipotong dari gaji.
Ia merasa bersyukur karena tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan, bahkan untuk tindakan seperti penyuntikan obat tetanus pun sudah sepenuhnya ditanggung JKN.
“Semua biaya perawatan selama diopname itu sudah ditanggung oleh Program JKN dan waktu suami saya disuntik obat tetanus pun kami tidak bayar sama sekali. Kalau tidak ada JKN, mungkin kami akan sangat kesulitan karena biaya pengobatan penyakit seperti ini pasti besar, apalagi dirawat inap sampai sembilan hari lamanya,” tambahnya.
Tetanus sendiri merupakan penyakit serius yang disebabkan oleh bakteri clostridium tetani. Bakteri ini dapat masuk ke dalam tubuh melalui luka terbuka seperti luka tusuk, goresan dalam, atau luka yang terkontaminasi tanah, debu, maupun karat.
Setelah masuk, bakteri akan menghasilkan racun yang menyerang sistem saraf, menyebabkan kekakuan dan kejang otot terutama pada bagian rahang, leher, dan perut. Penyakit ini tidak menular dari orang ke orang, namun bisa sangat berbahaya jika tidak segera ditangani. Pencegahan terbaik adalah dengan vaksinasi tetanus yang diberikan sejak kecil dan diperbarui setiap sepuluh tahun sekali.
“Awalnya suami saya mengeluh sakit di bagian rahang dan lehernya terasa kaku. Tak lama kemudian, tubuhnya juga ikut tegang dan sulit digerakkan. Ototnya kaku dan sulit untuk menelan. Setelah diperiksa, dokter mengatakan bahwa suami saya terkena tetanus yang sudah menyerang bagian saraf,” tutur Anastasia.
Yonatan sendiri telah menjalani perawatan intensif selama sembilan hari di RS Fatima pada September lalu.
“Setelah opname, dokter menyarankan agar suami saya tetap rutin kontrol di poli saraf, puji tuhan sekarang kondisinya sudah mulai membaik. Ia masih harus menjalani terapi dan minum obat, tapi yang penting sudah bisa beraktivitas ringan di rumah,” ungkapnya.
Selain pelayanan medis yang baik, Anastasia juga merasakan manfaat dari layanan digital yang disediakan BPJS Kesehatan, terutama Aplikasi Mobile JKN. Ia mengatakan dalam kunjungan kontrol kali ini, dirinya menggunakan fitur antrean online untuk mendapatkan antrean tanpa perlu menunggu lama di rumah sakit.
“Tadi juga saya pakai Aplikasi Mobile JKN untuk ambil antrean online. Memang lebih memudahkan saya. Jadi tidak perlu buru-buru datang ke rumah sakit atau antre lama di depan loket. Cukup ambil antrean dari rumah, dan saat tiba di rumah sakit tinggal menunggu dipanggil sesuai jadwal,” jelasnya.
Anastasia berharap, Program JKN terus berlanjut dan semakin banyak masyarakat yang menyadari manfaatnya. Menurutnya, kehadiran BPJS Kesehatan sangat membantu masyarakat, terutama yang berasal dari keluarga dengan penghasilan pas-pasan, agar bisa mendapatkan layanan kesehatan tanpa terkendala biaya.
“Sekarang kalau sakit, kami tidak takut lagi ke rumah sakit, semua sudah dijamin dan dilayani dengan baik. Saya sangat bersyukur menjadi peserta JKN karena dengan kartu ini, suami saya bisa mendapatkan pengobatan terbaik tanpa perlu memikirkan biaya,” tutupnya.
BERITA TERKAIT
-
BPJS Kesehatan-Unhas Kampanyekan Hidup Sehat Melalui Fun Run 5K
-
Permudah Akses Layanan JKN, BPJS Keliling Hadir di Pasar Baru Sangalla
-
JKN Jadi Andalan Sarafina, Biaya Pengobatan Tak Lagi Jadi Masalah
-
Rostika Bersyukur, Operasi Kuret hingga Usus Buntu Anak Ditanggung JKN
-
BPJS Kesehatan-Dinkes Tator Dorong Peningkatan Mutu Layanan melalui Monev KBK