Muh. Syakir : Rabu, 12 November 2025 13:39
Selvi (40) bersama anaknya, Meysia (14), usia menjalani operasi usus buntu.

TATOT, PEDOMANMEDIA - Terdaftar sebagai peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) segmen Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI JK), Selvi (40) merasakan langsung manfaat kepesertaannya ketika anaknya, Meysia (14), harus menjalani operasi usus buntu di Rumah Sakit Fatima Makale. Selvi merasa sangat terbantu karena seluruh biaya pengobatan hingga perawatan anaknya ditanggung penuh oleh BPJS Kesehatan.

Warga asal Rantealang, Kabupaten Tana Toraja ini mengira anaknya hanya sakit perut biasa. Namun, setelah tiga hari rasa sakit yang dirasakan tidak kunjung hilang bahkan terasa hingga ke bagian punggung.

“Awalnya saya kira hanya sakit perut biasa, jadi saya biarkan saja. Tapi setelah tiga hari sakitnya tak kunjung reda dan justru semakin parah hingga terasa tembus ke belakang dan membuatnya tidak masuk sekolah,” cerita Selvi, Senin (20/10).

Melihat kondisi anaknya yang tambah parah, Selvi pun segera membawa anaknya ke Unit Gawat Darurat (UGD) RS Fatima untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

“Pemeriksaan awal menunjukkan kalau anak saya mengalami gejala usus buntu. Setelah di USG hasilnya memang menunjukkan adanya peradangan pada usus buntu dan harus segera dioperasi. Malam minggunya anak saya menjalani operasi, dan puji tuhan, semuanya berjalan lancar,” jelasnya.

Kini, ia bersyukur karena operasi sang anak berjalan lancar, dan saat ini menjalani perawatan pasca operasi. setelah operasi selesai, Meysia juga menjalani rawat inap selama empat hari untuk proses pemulihan.

“Puji tuhan, selama dirawat inap selama empat hari di sini proses pengobatan dan operasinya berjalan lancar tanpa kendala. Kini hanya menjalani proses pemulihan saja. Sekarang Meysia sudah bisa makan seperti biasa dan kondisinya semakin membaik,” ungkap Selvi.

Dengan terdaftar aktif sebagai peserta JKN membuat Selvi semakin lega. Ia menuturkan bahwa selama proses pengobatan hingga perawatan di rumah sakit, sama sekali tidak ada biaya yang harus ia keluarkan. Semua pelayanan, mulai dari pemeriksaan, USG, operasi, hingga obat-obatan, sepenuhnya ditanggung oleh BPJS Kesehatan melalui Program JKN.

“Kalau tanpa JKN mungkin saya pasti berat cari biaya untuk pengobatan Meysia. Apalagi operasi itu biayanya sangat mahal dan belum tentu saya sanggup untuk itu. Dengan jadi peserta JKN, saya bersyukur sekali karena anak saya bisa tertolong tanpa mengeluarkan biaya sedikit pun,” ungkapnya.

Ia juga mengapresiasi pelayanan yang diberikan rumah sakit. Menurutnya, pelayanan di RS Fatima sangat baik, ramah, dan cepat. Ia tidak merasakan adanya perbedaan pelayanan antara pasien umum dan peserta JKN.

“Pelayanannya sangat bagus. Semua petugasnya ramah, dari bagian pendaftaran sampai perawat di ruang rawat inap. Kami dilayani dengan baik tanpa dibeda-bedakan,” tambahnya.

Program JKN hadir memberikan perlindungan dan ketenangan bagi setiap peserta. Melalui prinsip gotong royong, program ini memastikan bahwa tidak ada satu pun warga yang tertinggal dalam mendapatkan hak atas pelayanan kesehatan yang layak dan berkualitas.

Bagi Selvi, pengalaman ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya memiliki jaminan kesehatan. Keberadaan Program JKN benar-benar menjadi penolong bagi masyarakat, terutama bagi mereka yang terbatas secara ekonomi. Ia pun berharap program ini terus berjalan agar masyarakat kecil tetap memiliki akses kesehatan yang setara dan terjamin.

“Program JKN ini sangat membantu orang seperti kami. Tidak semua orang punya uang untuk berobat atau operasi. Jadi saya harap program ini terus berlanjut supaya makin banyak yang bisa tertolong seperti anak saya dan terjamin kesehatannya,” tutupnya.