Muh. Syakir : Minggu, 31 Agustus 2025 16:27
Nurmaidah

TATOR, PEDOMANMEDIA – Trimester pertama kehamilan merupakan fase paling rentan bagi ibu hamil. Di masa ini, tidak sedikit ibu hamil yang mengalami berbagai keluhan bahkan kondisi darurat yang membutuhkan penanganan cepat.

Oleh karena itu, pemeriksaan kehamilan secara rutin dan perhatian ekstra dari keluarga menjadi sangat penting.

Hal itulah yang dialami oleh Nurmaidah (27), seorang ibu muda asal Desa Siambo, Kecamatan Anggeraja, Kabupaten Enrekang. Pada usia kehamilan yang baru menginjak 10 minggu, Nurmaidah harus menghadapi kondisi darurat yang hampir membuatnya kehilangan janin yang sedang dikandungnya.

Kejadian bermula pada dini hari, sekitar pukul 02.00 WITA. Nurmaidah tiba-tiba merasakan nyeri hebat di bagian perut. Rasa sakit yang tidak biasa itu membuatnya panik dan khawatir akan kondisi janinnya. Tanpa berpikir panjang, ia bersama suami dan adiknya langsung meluncur ke Rumah Sakit Fatima Makale.

“Waktu itu saya merasakan nyeri luar biasa di perut. Karena takut terjadi sesuatu pada kandungan saya, akhirnya saat itu juga langsung dibawa ke rumah sakit ditemani oleh adik dan suami,” ungkap Nurmaidah saat ditemui di ruang perawatan pada Kamis (10/07).

Sesampainya di rumah sakit, Nurmaidah langsung mendapat penanganan dari tim medis di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Fatima Makale. Setelah diperiksa, ia dinyatakan mengalami kondisi kehamilan yang berisiko tinggi mengalami keguguran. Tim medis pun segera mengambil tindakan cepat agar kondisi janin dapat diselamatkan.

“Sekitar jam empat subuh saya tiba di rumah sakit. Alhamdulillah, berkat pertolongan yang cepat dari tim medis, janin saya dapat diselamatkan. Tak hanya itu, tidak butuh waktu lama bagi saya mendapatkan ruang perawatan sesaat setelah diperiksa oleh dokter dan perawat,” tutur Nurmaidah.

Nurmaidah yang telah terdaftar sebagai peserta JKN pada segmen Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehtaan (PBI JK) merasa lega karena selama masa perawatan di rumah sakit, seluruh biaya tindakan medis dan pengobatan dijamin penuh oleh Program JKN. Ia tidak diminta untuk membayar biaya tambahan sedikit pun.

“Saya sangat bersyukur karena bisa mengandalkan kepesertaan JKN saya di kondisi darurat seperti ini. Dengan JKN, seluruh rangkaian perawatan dan fasilitas yang saya gunakan telah ditanggung oleh BPJS Kesehatan. Jadi, saya tak pusing lagi,” tambahnya.

Nurmaidah juga menyoroti kemudahan dalam proses administrasi. Saat masuk ke IGD, suaminya hanya perlu menunjukkan KTP tanpa harus menyiapkan fotokopi dokumen seperti sebelumnya.

“Proses administrasinya juga sangat mudah. Suami saya hanya dimintai KTP saja, tidak perlu repot cari fotokopian. Saya benar-benar terbantu dengan Program JKN, semua langsung ditangani, tidak ada yang dipersulit, dan pelayanannya juga sangat baik,” jelasnya.

Ia merasa puas dengan layanan yang diberikan rumah sakit, baik dari sisi medis maupun non medis. Tidak ada perbedaan perlakuan antara dirinya sebagai peserta JKN dengan pasien umum lainnya. Semua tindakan medis diberikan sesuai dengan kebutuhan tanpa diskriminasi.

“Semua layanan yang saya terima sangat memuaskan. Tidak ada yang dibeda-bedakan dan semuanya diberikan dengan tulus oleh para tenaga medis,” ucapnya.

Sebagai ibu muda yang tengah menjalani masa awal kehamilan, Nurmaidah mengaku pengalaman ini menjadi pelajaran berharga. Baginya, Program JKN bukan hanya soal pembiayaan, tetapi juga memberikan rasa aman dan ketenangan di tengah situasi darurat yang tidak bisa diprediksi.

“Semoga Program JKN tetap ada dan semakin baik ke depannya. Saya sudah merasakan sendiri manfaatnya. Di situasi darurat seperti ini, JKN menjadi andalan untuk saya. Terima kasih kepada pemerintah dan BPJS Kesehatan atas program yang sangat bermanfaat ini,” tutupnya.