TORUT, PEDOMANMEDIA - BPJS Kesehatan melalui Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) terus memberikan perlindungan kesehatan yang cepat, mudah, setara, dan terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat di Indonesia. Manfaat program ini dirasakan secara langsung oleh Elisabeth (29), warga asal Rantepao, Kabupaten Toraja Utara, yang setia mendampingi ayahnya, Anton Toka (70), dalam menjalani pengobatan untuk Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) yang telah lama diderita.
Elisabeth dan keluarganya telah terdaftar sebagai peserta segmen Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI JK) yang iurannya ditanggung oleh pemerintah.
Menurut Elisabeth, ayahnya telah lama mengidap gangguan pernapasan kronis, dengan gejala seperti sesak napas, batuk berdahak, menggigil, dan demam berkepanjangan, terutama saat terserang flu. Awal Mei lalu, Anton sempat menjalani perawatan inap di rumah sakit akibat penyakitnya kembali kambuh. Kini, ia menjalani kunjungan kontrol ketiga pasca rawat inap untuk memantau kondisi kesehatannya.
“Bapak sudah lama sakit paru-paru. Kalau flu, pasti lama sekali sembuhnya. Batuknya juga berdahak terus. Tapi kami bersyukur karena sejak jadi peserta JKN, semua proses pengobatannya berjalan lancar, tanpa harus memikirkan biaya,” tuturnya pada Tim Jamkesnews ketika ditemui di Poli Paru, Rumah Sakit Elim Rantepao, Kamis (05/06).
Elisabeth mengaku tidak menghadapi kendala besar selama mendampingi ayahnya berobat. Ia hanya sempat mengalami masalah teknis ketika lupa password akun Aplikasi Mobile JKN miliknya.
“Saya sempat lupa password Aplikasi Mobile JKN,akhirnya saya langsung ke kantor BPJS Kesehatan. Petugasnya ramah dan membantu sekali. Saya juga diberi flyer panduan penggunaan aplikasinya,” jelasnya.
Saat ini, Elisabeth memiliki dua akun pada Aplikasi Mobile JKN satu untuk dirinya sendiri, dan satu lagi untuk sang ayah yang memang tidak menggunakan telepon seluler. Ia mengungkapkan bahwa penggunaan antrean online pada Aplikasi Mobile JKN membantu mempercepat dan mempermudah proses pelayanan.
“Kontrol pertama dan kedua kami masih mengantre manual, tapi mulai kontrol ketiga ini saya sudah pakai antrean online lewat aplikasi. Ternyata sangat mudah, tinggal klik, langsung dapat nomor antrean. Sekarang kami jadi tidak khawatir kalau harus berobat, saya bisa mengatur waktu datang ke ke puskesmas atau ke rumah sakit,” tambahnya.
Tak hanya ayahnya, Elisabeth dan anggota keluarganya yang lain juga merupakan peserta JKN dan telah merasakan manfaatnya. Ia sendiri rutin menggunakan layanan JKN untuk memeriksakan kesehatan matanya, dan sejauh ini tidak pernah mengalami kendala berarti. Pelayanan yang ia terima pun selalu maksimal, baik dari sisi tenaga medis maupun administrasi.
Menurut Elisabeth, keberadaan Program JKN benar-benar meringankan beban keluarga, terutama bagi mereka yang berasal dari kalangan tidak mampu atau lansia seperti ayahnya.
“Kalau tidak ada JKN, mungkin kami akan kesulitan membayar biaya pengobatan yang terus-menerus ini. Apalagi penyakit bapak termasuk kronis, jadi pengobatannya juga jangka panjang. Untung ada JKN, semuanya ditanggung,” ungkapnya.
Ia berharap masyarakat semakin sadar akan pentingnya memiliki jaminan kesehatan, karena sakit bisa datang kapan saja tanpa diduga. Ia juga mengapresiasi upaya BPJS Kesehatan yang terus meningkatkan kemudahan layanan digital melalui Aplikasi Mobile JKN.
“Terima kasih kepada BPJS Kesehatan dan pemerintah. Berkat Program JKN, ayah saya bisa mendapatkan pengobatan yang layak tanpa harus memikirkan biaya. Saya juga tidak perlu repot antre lama-lama karena sudah pakai antrean online. Semoga program ini terus maju dan makin banyak masyarakat yang terbantu,” tutupnya.
BERITA TERKAIT
-
BPJS Kesehatan-Unhas Kampanyekan Hidup Sehat Melalui Fun Run 5K
-
Permudah Akses Layanan JKN, BPJS Keliling Hadir di Pasar Baru Sangalla
-
JKN Jadi Andalan Sarafina, Biaya Pengobatan Tak Lagi Jadi Masalah
-
Rostika Bersyukur, Operasi Kuret hingga Usus Buntu Anak Ditanggung JKN
-
BPJS Kesehatan-Dinkes Tator Dorong Peningkatan Mutu Layanan melalui Monev KBK