Dirawat karena Tipes, Petani Asal Makale Tak Khawatir Biaya Berkat JKN
Ia juga mengimbau warga lain yang belum menjadi peserta JKN untuk segera mendaftarkan diri.
TATOR, PEDOMANMEDIA - Herman Gandu (63), seorang petani asal Makale Utara Kabupaten Tana Toraja, merasakan betul manfaat dari Program JKN ketika dirinya terserang penyakit tipes dan harus jalani perawatan saat ini. Penyakit ini membuat Herman harus menjalani perawatan di Rumah Sakit Fatima, sudah tiga hari ia mendapatkan perawatan intensif dari petugas medis.
Saat ditemui oleh tim Jamkesnews, Herman tengah menjalani rawat inap di Rumah Sakit Fatima Makale, ia mengisahkan bahwa beberapa hari sebelumnya mengalami demam disertai sakit kepala dan tubuh yang terasa lemas. Awalnya ia mengira hanya kelelahan biasa karena aktivitas bertani, sehingga memilih beristirahat di rumah. Namun, kondisinya tak kunjung membaik dan suhu tubuhnya terus meningkat, hingga akhirnya keluarga membawanya ke rumah sakit.
“Dua hari yang lalu saya masuk rumah sakit. Beberapa hari sebelumnya saya hanya merasa demam biasa, badan panas dan kepala pusing, saya pikir cukup istirahat saja. Tapi ternyata kondisi saya tidak membaik. Justru demamnya makin tinggi, badan makin lemas. Akhirnya saya dibawa ke UGD RS Fatima dan sekarang dirawat inap karena sakit tipes,” ujar Herman, Kamis (10/07).
Tipes atau demam tifoid adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. Penyakit ini menyebar melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi dan cukup umum terjadi di negara-negara berkembang, terutama di daerah dengan sanitasi yang kurang memadai. Gejalanya mencakup demam tinggi, nyeri kepala, lemas, gangguan pencernaan, dan kehilangan nafsu makan.
Selama menjalani perawatan di rumah sakit, Herman merasa sangat terbantu dengan kemudahan proses administrasi serta pelayanan medis yang diberikan. Sebagai peserta JKN dari segmen Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI JK), seluruh biaya pengobatannya ditanggung oleh pemerintah. Hal ini sangat meringankan beban, terutama bagi dirinya yang berpenghasilan terbatas.
“Puji tuhan, semuanya berjalan lancar. Mulai dari masuk rumah sakit, pengurusan administrasi, hingga pengobatan, tidak ada yang memberatkan. Pelayanan dari rumah sakit dan BPJS Kesehatan juga sangat baik,” tuturnya.
Herman juga menyampaikan bahwa selama dirawat, ia tidak pernah merasa dibeda-bedakan dengan pasien umum lainnya. Hal tersebut membuatnya semakin yakin bahwa Program JKN memberikan perlakuan yang adil kepada seluruh peserta, tanpa memandang status sosial ataupun ekonomi.
“Meski saya peserta BPJS Kesehatan, saya tidak merasa dibedakan. Semua dilayani dengan baik, petugas rumah sakit juga sigap membantu,” tambahnya.
Sebagai warga lanjut usia, Herman merasa keberadaan Program JKN sangat penting untuk memberikan perlindungan kesehatan di masa tua. Ia mengaku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika harus membayar seluruh biaya perawatan secara mandiri.
“Kalau tanpa JKN, mungkin saya sudah bingung cari biaya pengobatan. Tapi karena saya peserta aktif dan iurannya ditanggung pemerintah, saya sangat bersyukur karena tak perlu keluar biaya sepeser pun,” ungkapnya.
Menutup perbincangan, Herman menyampaikan apresiasi kepada pemerintah dan BPJS Kesehatan atas program yang sangat membantu masyarakat. Ia juga mengimbau warga lain yang belum menjadi peserta JKN untuk segera mendaftarkan diri.
“Terima kasih kepada pemerintah dan BPJS Kesehatan yang telah menjadi penolong di saat-saat seperti ini. Untuk masyarakat jangan ragu untuk menjadi peserta JKN, mumpung masih sehat. Jangan menunggu sampai sakit parah, baru daftar. Dengan menjadi peserta aktif JKN, kita punya jaminan atau perlundingan kesehatan jadi jika sewaktu saat sakit, kita bisa berobat tanpa terkendala biaya pengobatan yang mahal," pungkasnya.
