Muh. Syakir : Selasa, 11 Maret 2025 14:15
Sriwahyuni

TATOR, PEDOMANMEDIA - BPJS Kesehatan terus berkomitmen meningkatkan mutu layanan bagi peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Upaya ini dilakukan demi memberikan kemudahan akses layanan kesehatan di fasilitas kesehatan, sehingga masyarakat dapat berobat tanpa harus terbebani biaya yang besar.

Salah satu peserta yang merasakan manfaat Program JKN adalah Sriwahyuni (29), warga asal Baroko, Kabupaten Enrekang, yang saat ini sedang menemani sang ibu, Aisyah (59), untuk berkonsultasi dengan dokter mata di Rumah Sakit Fatima Makale.

"Saat ini saya tengah menemani ibu saya untuk menjalani pemeriksaan di dokter mata karena ada gangguan pada penglihatannya. Dalam beberapa waktu terakhir, ibu sering merasa pandangannya terasa berkabut, berembun dan terkadang terasa tertusuk-tusuk," ungkap Sriwahyuni pada Tim Jamkesnews.

Diduga bahwa gangguan ini mungkin disebabkan oleh penyakit Diabetes Melitus yang telah lama ia derita dan bisa saja mengarah pada katarak.

"Sebelumnya, gula darah ibu saya masih tinggi, sehingga pemeriksaan mata harus ditunda dulu sampai gula darahnya lebih stabil. Sekarang, setelah kadar gulanya turun, barulah kami bisa berkonsultasi ke dokter mata untuk memastikan penyebab pastinya agar ibu mendapatkan penanganan yang tepat," sambung Sriwahyuni.

Sebagai peserta JKN, Sriwahyuni mengikuti prosedur layanan kesehatan yang berlaku. Sebelum mendapatkan rujukan ke RS Fatima, ia terlebih dahulu membawa ibunya ke Puskesmas Baroko untuk pemeriksaan awal.

Setelah diperiksa, dokter di puskesmas menyarankan agar ibunya dirujuk ke Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL) guna mendapatkan penanganan lebih lanjut.

“Saya bersyukur seluruh prosesnya berjalan dengan lancar, mulai dari periksa di Puskesmas Baroko sampai periksa di rumah sakit. Prosedurnya jelas, pelayanannya juga cepat, sehingga kami tidak perlu menunggu terlalu lama untuk mendapatkan tindakan medis yang diperlukan. Semua ini tentu sangat membantu, apalagi bagi pasien lansia seperti ibu saya yang membutuhkan perhatian ekstra,” tuturnya.

Lebih lanjut, Sriwahyuni juga menceritakan bahwa ibunya telah lama mengidap diabetes dan sebelumnya hanya mengonsumsi obat. Sayangnya, hal itu tidak memberikan perubahan yang signifikan pada kondisinya. Setelah berkonsultasi dengan dokter, ibunya kini diberikan insulin dan kadar gulanya mulai menurun.

"Sebelumnya, ibu saya hanya minum obat tapi tak ada perubahan. Kadar gulanya tetap tinggi. Tapi setelah konsultasi dengan dokter, beliau menyarankan agar ibu mulai menggunakan insulin. Alhamdulillah, setelah rutin memakai insulin, kadar gula darah ibu yang sebelumnya berkisar di angka 200-250 mg/dL, sekarang sudah lebih stabil di angka 100 mg/dL, dan tentunya seluruh biaya ini ditanggung oleh BPJS Kesehatan," jelas Sriwahyuni.

Tak hanya itu, Sriwahyuni juga menceritakan manfaat Program JKN yang didapatkannya saat ibunya harus menjalani rawat inap di puskesmas pada bulan Oktober tahun lalu.

"Waktu itu ibu saya harus dirawat inap di puskesmas selama tiga hari karena kadar hemoglobinnya sangat rendah. Kami sempat khawatir dengan biaya perawatannya, tapi ternyata semuanya ditanggung oleh BPJS Kesehatan, termasuk pemeriksaan laboratorium dan obat-obatannya. Saya benar-benar bersyukur karena kalau tidak ada JKN, mungkin kami akan kesulitan membiayai semua pengobatan ibu secara mandiri," jelas Sriwahyuni.

Ia berharap agar Program JKN terus ditingkatkan dan semakin mempermudah akses layanan kesehatan bagi masyarakat.

“Menurut saya, Program JKN sudah bagus dan sangat membantu. Saya sangat bersyukur karena berkat program ini, ibu saya yang menderita diabetes melitus bisa berobat dengan tenang tanpa perlu khawatir dengan biaya pengobatan. Saya berharap program ini terus ditingkatkan agar pelayanan kepada masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan semakin maksimal,” tutupnya.