TOP SEPEKAN: Jeneponto-Parepare-Bulukumba Zona Rawan Tinggi di Pemilu, Bendungan Jenelata Ditangani China
Untuk di Sulsel, termasuk salah satu dari 8 provinsi atau 24 persen yang termasuk kategori IKP rawan rendah.
MAKASSAR, PEDOMANMEDIA - Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Sulsel menyatakan, Indeks Kerawanan Pemilu (IKP) di Sulsel berada di angka 10,20 atau kategori rawan rendah. Meski begitu, ada tiga daerah dengan tingkat kerawanan tinggi.
Kabar ini menempati berita terfavorit pekan ini di PEDOMANMEDIA. Disusul kabar soal bendungan Jenelata Gowa yang bakal menghabiskan Rp4 triliun. Pembangunan bendungan ini melibatkan China.
Ketua Bawaslu Sulsel, Mardiana Rusli, menjelaskan, IKP merupakan hasil pemetaan Bawaslu terhadap segala hal yang berpotensi mengganggu atau menghambat proses Pemilu yang demokratis. Secara umum, ia menyebut Sulsel rawan rendah.
"Tujuannya adalah memetakan potensi kerawanan di Pemilu/pemilihan di seluruh wilayah di Indonesia, melakukan proyeksi dan deteksi dini terhadap potensi pelanggaran Pemilu/pemilihan, menjadi basis untuk program pencegahan dan pengawasan tahapan Pemilu/pemilihan," jelasnya.
Untuk di Sulsel, termasuk salah satu dari 8 provinsi atau 24 persen yang termasuk kategori IKP rawan rendah. Skor IKP Sulsel yaitu 10,20.
Mardiana mengaku, mengindentifikasi dan memetakan potensi pelanggaran Pemilu ini menjadi salah satu tugas Bawaslu. Hal itu berdasarkan Pasal 98 ayat (1) Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Republik Indonesia nomor 1 tahun 2022 tentang perubahan Undang-Undang Republik Indonesia nomor 7 tahun 2017 tentang Pemilihan Umum.
Sementara itu, Kepala Kesbangpol Sulsel, Muhammad Firda, mengatakan, dari hasil pengukuran IKP oleh Bawaslu, untuk tingkat Kabupaten/Kota, sebanyak tiga daerah kategori rawan tinggi, 19 kategori rawan sedang, dan dua kategori rawan rendah.
"Dari data Bawaslu, untuk IKP tingkat Kabupaten/Kota, yang kategori tinggi adalah Kabupaten Bulukumba, Kota Parepare, dan Kabupaten Jeneponto," jelasnya.
Dirinya pun berharap, Pemilu yang akan segera berlangsung pada Februari 2024 di Sulsel dapat berjalan dengan kondusif dan aman.
Bendungan Jenelata Telan Rp4,1 Triliun
Pj Sekprov Sulsel Andi Muhammad Arsjad, melakukan peletakan batu pertama proyek pembangunan Bendungan Jenelata di Dusun Manyampa, Desa Tana Karaeng, Kecamatan Manuju, Kabupaten Gowa, Senin 19 Desember 2023. Bendungan Jenelata akan menelan anggaran Rp4,1 triliun.
Andi Muhammad Arsjad mengatakan, pembangunan Bendungan Jenelata, akan menggunakan dana loan agreement dan juga dana pendampingan dari Kementerian PUPR. Untuk pengerjaan konstruksi, bendungan ini akan dilakukan oleh PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) Bersama PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, dengan KSO CAMC Engineering Co.Ltd dari Cina.
"Insya Allah bendungan ini akan menjadi bendungan yang terbesar di Sulsel dan merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) dan merupakan proyek kerjasama terbesar dan pertama di Sulsel dengan Pemerintah Cina dengan nilai anggaran yang cukup besar yakni Rp4,1 triliun," ucap Arsjad.
Ia menambahkan, ke depan keberadaan bendungan ini bisa memberikan banyak manfaat. Tidak hanya dari segi penyiapan air baku. Akan tetapi juga untuk kepentingan pertanian dan juga tentu pembangkit listrik.
Serta tak kalah pentingnya ini juga bisa memberi kontribusi dalam upaya pengendalian mitigasi bencana kedepannya.
"Kita berharap agar kegiatan yang direncanakan 2023 hingga 2028 kurang lebih lima tahun nanti, rencana masa pekerjaannya dan tentu kita Pemerintah Provinsi Sulsel patut bersyukur dengan adanya program strategis yang ditempatkan di Sulsel dan Kabupaten Gowa khususnya yang memiliki manfaat yang multidimensi untuk kita," harapnya.
Selain itu juga, kata Arsjad, kemarin dengan adanya el-nino produktivitas pertanian terganggu dan tidak hanya itu, pemenuhan persoalan air baku juga menjadi terkendala. Sehingga dengan adanya bendungan ini, kedepannya persoalan-persoalan seperti ini bisa diminimalisir lagi.
Di tempat yang sama, Direktur Bendungan dan Danau Direktorat Jendral Sumber Daya Air (SDA) Kementerian PUPR RI, Adenan Rasyid, mengatakan, kegiatan yang dilakukan ini tidak akan terjadi jika tanpa dukungan dari semua pihak.
"Kita berharap ke depannya kerja sama, kolaborasi, terus berlangsung dan berjalan sehingga tujuan yang kita ingin capai dan bisa terlaksana dengan yang kita harapkan tepat waktu, tepat mutu dan tepat sasaran," imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang (BBWSPJ), Suryadarma Hasyim, menjelaskan, Bendungan Bili-bili kapasitasnya hanya 3,3 meter kubik per detik untuk produksi banjir. Di mana, pada tahun 2019 terjadi banjir besar. Untuk itu, dipercepat pembangunan Jenelata ini .
"Kita berharap dengan fungsi dari bendungan ini akan lebih optimal. Pertama, mereduksi banjir di Kota Makassar, serta membantu saat kekeringan. Sehingga dengan adanya tampungan air sebanyak 27 juta meter kubik ini, memberikan taman air ketika terjadi El-Nino," harapnya.
"Jadi, pada musim hujan kita cegah banjir, pada musim kemarau kita manfaatkan airnya untuk pertanian, suplay air baku, tetapi juga untuk kebutuhan masyarakat," tandasnya.
