JAKARTA, PEDOMANMEDIA - Pada 24 Februari 2022, adalah titik kelam bagi Ukraina. Di hari itu setahun yang lalu, Rusia melakukan invasi besar-besaran ke negara tetangganya tersebut.
Perang Rusia Ukraina pun berkobar sejak itu, tanpa tahu kapan akan berakhir. Bau kematian dan kehancuran meruap di seluruh negeri. Ribuan warga sipil Ukraina tewas, puluhan ribu tentara di kedua sisi tewas, jutaan orang mengungsi, seluruh kota dan desa Ukraina rata dengan tanah.
Tahun kedua perang, Rusia Ukraina sama-sama mempersiapkan serangan besar-besaran. Puluhan ribu tentara yang baru direkrut, dikirim ke garis depan. Baik Rusia maupun Ukraina, percaya diri akan segera mencatat kemenangan.
Pada peringatan menjelang setahun perang, Presiden Amerika Serikat Joe Biden diam-diam meluncur ke Kyiv, pada Senin, 20 Februari 2023. Ia bertemu Presiden Zelensky dan menjanjikan dukungan penuh kepada Ukraina. Biden berjanji mengucurkan bantuan militer baru untuk Ukraina senilai US$ 500 juta atau sekitar Rp 7,5 triliun.
"Ketika (Presiden Rusia Vladimir) Putin meluncurkan invasinya hampir satu tahun lalu, dia mengira Ukraina lemah dan Barat terbagi. Dia pikir dia bisa mengalahkan kita. Tapi dia salah besar," kata Biden.
Zelensky mengatakan bahwa kunjungan Biden itu sangat berarti. "Kunjungan Presiden AS ke Ukraina ini, yang pertama selama 15 tahun, adalah kunjungan terpenting dalam seluruh sejarah hubungan Ukraina-AS," kata Zelensky dilansir dari Reuters. Dalam pertemuan dengan Biden itu, Zelensky berharap perang akan selesai pada akhir tahun 2023.
Lalu kapankah perang Rusia Ukraina berakhir? Pakta Pertahanan Atlantik Utara atau NATO dan sejumlah pengamat mengungkapkan perang bisa terjadi dalam beberapa bulan, tahun atau bahkan hingga waktu yang tak terbatas.
Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg mengatakan tak ada yang tanda-tanda bahwa Putin akan melunak.
“Kami melihat sebaliknya. Dia tidak merencanakan perdamaian. Dia merencanakan lebih banyak perang,” katanya dilansir dari CNN, Selasa, 21 Februari 2023.
“Mereka sudah meluncurkan operasi ofensif,” kata Stoltenberg. Ia mengacu pada pertempuran di timur Ukraina, terutama di kota Bakhmut. “Apakah ini serangan musim semi yang besar atau hanya semacam pendahuluan, agak sulit untuk mengatakannya. Tapi Rusia mengerahkan lebih banyak pasukan dan senjata,” katanya.
Stoltenberg mengatakan Rusia sedang berusaha menggunakan lebih banyak pasukan karena buruknya peralatan dan logistik. "Jika Anda tidak terlalu peduli dengan kehidupan manusia, maka Anda hanya akan membuang lebih banyak lagi," katanya.
Stoltenberg mengatakan tak jelas bagaimana konflik akan berakhir. Dia juga menyatakan pentingnya dukungan militer barat untuk Ukraina. “Jika Anda ingin Ukraina menang sebagai negara berdaulat dan jika Anda menginginkan solusi negosiasi damai besok, maka Anda perlu memberikan dukungan militer hari ini,” katanya. Ia menambahkan bahwa efektivitas negosiasi untuk Ukraina bergantung pada kekuatan di medan perang.
Nada pesimistis diungkapkan pula oleh Yohann Michel, seorang analis riset di Berlin dengan think tank International Institute for Strategic Studies. Ia mengatakan pertarungan di bulan-bulan mendatang akan lebih sengit. Sementara Michael Kofman, direktur program penelitian di Program Studi Rusia di Pusat Analisis Angkatan Laut di Washington, meramalkan perang masih terjadi hingga tahun depan.
“Sejarah mengajarkan kita bahwa perang yang berlangsung selama ini kemungkinan besar akan berlarut-larut, berlangsung beberapa tahun,” ujar Kofman.
Mungkin analis Italia Lucio Caracciolo adalah yang paling pesimis. “Perang ini akan berlangsung tanpa batas waktu, dengan jeda panjang untuk gencatan senjata,” katanya. “Itu hanya akan berhenti ketika Ukraina atau Rusia atau keduanya runtuh, karena bagi kedua belah pihak ini adalah masalah hidup atau mati,” ujar Caracciolo, editor publikasi geopolitik Italia, Limes.
Pertempuran Rusia Ukraina di musim semi ini diperkirakan akan berlangsung lebih sengit. Kedua pihak mengerahkan kekuatan besar-besaran. Ukraina mendapat pasokan senjata dari negara-negara Barat, sedangkan Rusia akan memobilisasi pasukan secara besar-besaran. Lagu kebangsaan Ukraina bahwa musuh akan lenyap, seperti embun di bawah sinar matahari mungkin tak akan terjadi di tahun ini.
BERITA TERKAIT
-
Rusia Tuding Ukraina Dalangi Serangan ke Kafe yang Tewaskan 24 Orang
-
Rusia Bombardir Pokrovsk Ukraina, Tewaskan Belasan Orang
-
Zelensky Bocorkan Rencana Rusia: Akan Serang Eropa setelah Taklukkan Ukraina
-
Zelensky: Rusia Serang Pusat Transfusi Darah, ini Kejahatan Perang
-
Rusia Gempur Tempat Penampungan Bantuan Kemanusiaan, Tewaskan 3 Perempuan