TOP SEPEKAN: Guru Borong 300.000 Jatah CPNS, Gantung Diri karena Stres Belum Naik Haji
Formasi CPNS tahun ini akan diprioritaskan pada perekrutan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
JAKARTA, PEDOMANMEDIA – Pemerintah akan merekrut calon pegawai negeri sipil (CPNS) tahun ini. Sebanyak 300.000 kuota akan diberikan kepada guru untuk menutupi kekurangan di daerah.
Kabar ini menempati berita terpopuler TOP SEPEKAN PEDOMANMEDIA, pekan ini. Lalu disusul berita soal perempuan di Soppeng yang gantung diri lantaran stres belum juga naik haji.
Kami mengulas dua berita ini kembali dalam TOP SEPEKAN.
Formasi CPNS tahun ini akan diprioritaskan pada perekrutan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Total yang dibutuhkan sekitar 500.000 lebih. 300.000 di antaranya adalah guru dan 92.000 tenaga kesehatan.
Kementerian PAN RB menyebut, perekrutan akan dilakukan bertahap. Kebutuhan guru di pelosok akan mendapat porsi terbanyak. Ini untuk menyiasati penyebaran yang tidak merata selama ini.
Jumlah kebutuhan ASN 2022
Dikutip dari laman resmi Menpan-RB, ada sebanyak 530.028 kebutuhan aparatur sipil negara (ASN) nasional tahun 2022 (data per 6 September 2022). Jumlah tersebut merupakan total dari penetapan kebutuhan untuk instansi pusat sebanyak 90.690 dan instansi daerah sebanyak 439.338.
Kebutuhan daerah terinci sebanyak:
319.716 PPPK Guru,
92.014 PPPK Tenaga Kesehatan, dan
27.608 PPPK Tenaga Teknis.
Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan-RB) Abdullah Azwar Anas mengatakan, salah satu prioritas pemerintah saat ini adalah penataan tenaga non-ASN. Karenanya, penetapan kebutuhan ASN tahun 2022 sekaligus menjadi komitmen nyata pemerintah dalam pemenuhan kebutuhan guru dan tenaga kesehatan secara nasional.
"Arah kebijakan pengadaan ASN tahun 2022 kita fokus pada pelayanan dasar yaitu guru dan tenaga kesehatan. Fokus lainnya adalah keberpihakan kepada eks tenaga honorer kategori II (THK-II)," jelas Menteri Anas.
Anas menguraikan, saat ini fenomena yang terjadi secara nasional adalah penyebaran ASN tidak merata dan masih menumpuk di kota besar.
Sementara proses rekrutmen, penyebaran, dan kebutuhan tiap tahun sudah sangat transparan.
Ia menegaskan bahwa arahan Presiden Joko Widodo sangat jelas, yaitu pemerataan SDM ASN. Rekrutmen pun harus jelas dan akuntabel.
"Jadi masalahnya tidak hanya kekurangan tetapi juga penyebaran. Padahal Pak Presiden sangat memperhatikan luar Pulau Jawa," ungkap Anas.
Ketimpangan ini bukan semata-mata perkara jumlah saja, tetapi adanya fenomena ASN yang suka berpindah-pindah ketika mereka sudah masuk menjadi ASN. Hal ini menyebabkan distribusi ASN menjadi tidak merata, di samping alasan karena minimnya pendaftar calon ASN di daerah-daerah terpencil.
Anas berharap, bahwa ASN bukan menjadi ladang mencari pekerjaan, tetapi untuk pengabdian dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
"Tetapi setelah diterima banyak yang minta pindah ke kota lain. Maka setiap tahun banyak tempat di luar Pulau Jawa yang kekurangan nakes dan guru," ujar mantan Bupati Banyuwangi tersebut.
Anas menilai seberapa banyak pun ASN tenaga kesehatan maupun tenaga pendidikan yang direkrut, ketimpangan akan terus terjadi.
"Sehingga kita berdiskusi dengan pemda karena tidak mungkin ini diselesaikan oleh pemerintah pusat saja kalau tidak ada goodwill semua kepala daerah," imbuhnya.
Leher Terlilit Kain Sarung
Seorang ibu rumah tangga di Kabupaten Soppeng nekat mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. Korban diduga stres karena tak kunjung naik haji.
Peristiwa yang menggegerkan warga kampung ini terjadi di Dusun Waepute, Kecamatan Marioriwawo, Soppeng, Jumat siang (16/9/2022). Korban berinisial R (58) pertama kali ditemukan oleh suaminya TS (59).
Menurut TS, saat itu ia baru saja pulang salat Jumat. Ia menemukan istrinya dalam keadaan tergantung di dalam rumah.
"Lehernya tergantung menggunakan sarung. Terlilit di lehernya. Waktu saya dekati memang sudah tidak bernyawa," terang TS.
Saudara korban, Hj Agustina menuturkan, korban memang sering sakit karena kepikiran tak kunjung naik haji. Ia menduga, korban R stres.
"Iya sering sakit karena kepikiran kapan naik haji," ujar Hj Agustina.
Kapolsek Marioriwawo Iptu Muh Ali membenarkan, sesuai keterangan keluarga, korban diduga nekat bunuh diri dengan cara gantung diri karena depresi dan stres.
Penulis: Syaharuddin
- 1
- 2
- 3
- 4
- 5
