Rabu, 13 Juli 2022 18:47

Sri Lanka Bangkrut karena Utang, Sri Mulyani: RI Aman tapi Waspada

Sri Mulyani Indrawati
Sri Mulyani Indrawati

Sri Mulyani menjelaskan, saat ini seluruh dunia memang sedang mengalami tekanan ekonomi akibat pandemi Covid-19

JAKARTA, PEDOMANMEDIA - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, kalkulasi ekonomi Indonesia menunjukkan tren lebih baik dibanding banyak negara di dunia. Dari analisis ini ia yakin RI tidak akan jatuh pada jurang resesi yang membawa pada kebangkrutan seperti Sri Lanka.

"Kita dalam kondisi lebih baik karena ketahanan pangan kita stabil. Tapi bukan berarti kita terlena. Tetap waspada," ujar Sri Mulyani, dalam konferensi pers di Bali, Rabu (13/7/2022).

Menurut Sri Mulyani, RI tetap akan menggunakan semua instrumen kebijakan, baik itu fiskal, moneter, sektor finansial, dan regulasi lainnya untuk memonitor potensi resesi. Termasuk kondisi dari korporasi Indonesia.

Baca Juga

Seperti diketahui, Sri Lanka saat ini bangkrut setelah gagal mengatasi krisis ekonomi yang parah selama berbulan-bulan. Negara ini memiliki tumpukan utang, mengalami gagal bayar, dan cadangan devisa yang menipis.

Sri Mulyani menjelaskan, saat ini seluruh dunia memang sedang mengalami tekanan ekonomi akibat pandemi Covid-19, serta situasi geopolitik Rusia-Ukraina yang berdampak pada lonjakan harga komoditas pangan dan energi.

"Seluruh dunia sekarang menghadapi konsekuensi dari geopolitik dalam bentuk kenaikan harga bahan-bahan makanan dan energi yang mendorong lebih tinggi lagi inflasi, setelah tadinya sudah meningkat akibat pandemi," ujarnya

Kenaikan inflasi yang tinggi bahkan dialami pula oleh negara-negara maju yang biasanya mengalami deflasi. Kondisi lonjakan inflasi tersebut pada akhirnya membuat negara-negara mengambil kebijakan antisipatif, namun tidak semua negara memiliki ketahanan yang cukup untuk mampu bertahan di tengah ketidakpastian global.

"Beberapa negara kalau kondisi awalnya tidak kuat, apalagi sesudah dua tahun dihadapkan pada pandemi, ketidakuatan itu dilihat dari berbagai faktor. Pertama, neraca pembayarannya yaitu apakah trade account, capital account, dan cadangan devisa negara tersebut memadai dampaknya kepada nilai tukar," jelas Sri Mulyani.

Selain itu, yang juga menjadi faktor adalah ketahanan ekonomi suatu negara berbeda-beda. Terlebih mengingat terjadinya kenaikan harga pangan dan energi, serta kondisi perekonomian yang belum sepenuhnya pulih akibat pandemi Covid-19 selama dua tahun terakhir.

"Jadi kalau mereka mengalami kontraksi akibat pandemi dan belum pulih, ditambah dengan kemudian inflasi yang sekarang terjadi, ini akan makin menimbulkan kompleksitas suatu negara," ucap Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu.

Faktor lain yang turut mempengaruhi kemampuan bertahan suatu negara yaitu kebijakan moneter dan kondisi fiskalnya, serta kondisi utang pemerintah maupun swasta dan kemampuan membayarnya. Hal itu sangat mempengaruhi kemungkinan terjadinya krisis suatu negara.

Sri Mulyani pun menilai, indikator-indikator ekonomi Indonesia saat ini dalam kondisi yang cukup baik. Sehingga risiko resesi ekonomi yang dialami Indonesia hanya sebesar 3 persen, berdasarkan hasil survei yang dilakukan Bloomberg.

Kondisi tersebut jauh lebih baik jika dibandingkan dengan negara lainnya yang bahkan memiliki potensi resesi lebih dari 70 persen. Kendati demikian, ia memastikan, pemerintah tidak akan terlena dengan hal itu dan akan tetap mewaspadai ketidakpastian global.

 

Editor : Muh. Syakir
#Sri Lanka Bangkrut #Utang RI #Menkeu Sri Mulyani Indrawati
Berikan Komentar Anda
Epaper
Cover Epaper
Populer