1 Tahun Ombas-Dedy Pimpin Torut: Duet Sang Peletak Dasar Perubahan
Salah satu terobosan di tahun pertamanya adalah Program Kantor Bupati Mobile. Lewat program ini Ombas memutus sekat antara desa dan kota.
TORUT, PEDOMANMEDIA - Pasangan Yohanis Bassang - Frederik V Palimbong (Ombas-Dedy), hari Selasa (26/4/2022) tepat setahun memimpin Kabupaten Toraja Utara. Ombas-Dedy telah menoreh sederet perubahan.
Di awal kepemimpinannya Ombas tampil dengan identitas berbeda. Gayanya blakblakan. Ia tak banyak retorika. Sikapnya pun cenderung praktisme.
Bagi ASN, tipikal Ombas tentu tidak lazim di birokrasi. Karena ia cenderung tak mementingkan hal-hal formal. Ombas terbiasa kerja pragmatis. Langsung menyentuh rakyat banyak.
"Saya melihat ASN terlalu banyak berkutak pada teori. Padahal rakyat tak butuh itu. Mereka butuh action," ucapnya.
Akhirnya, dua bulan pertama Ombas melakukan transformasi pola pikir di kalangan ASN. ASN diajak meninggalkan pola pola lama yang cenderung pasif dalam pelayanan. Menjadi lebih agresif.
Bagi Ombas, perubahan pola pikir ASN ini menentukan keberhasilan program.
"Karena itu fokus saya di awal adalah mengubah pola pikir mereka. Ini penting agar ASN paham bahwa mereka bukan lagi dilayani, tapi melayani rakyat," ujar Ombas.
Mindset ini kata Ombas ia bangun dari hulu ke hilir. Dimulai dari klaster pejabat. Baru ditularkan ke staf.
Itu terus dilakukan berjenjang. Sehingga terbentuk satu pola pikir yang sama. Menurut Ombas, hanya butuh 3 sampai 6 bulan, dasar dasar pola pikir itu berhasil dibangun. Sampai kemudian mental melayani mulai diterapkan ASN Torut. Tingkat kedisiplinan juga kian membaik.
"Akhirnya kita bisa lihat sekarang perubahan pola pelayanan ASN di Torut. ASN mulai bisa melayani dengan hati. Para pejabat tidak lagi menghabiskan waktu seharian duduk di belakang meja. Mereka mulai aktif turun lapangan," terang Ombas.
Menurut Ombas, ia selalu menekankan agar pejabat, mulai dari kepala OPD, camat hingga kepala lembang jangan hanya tahu terima laporan. Setelah itu beres.
Kata dia, problem di masyarakat sangat komplet. Tidak mungkin semua bisa diselesaikan hanya dengan laporan dari staf.
"Pejabat harus melihat langsung kondisi rakyatnya. Dengan begitu dia akan tahu bagaimana menemukan solusi. Itu yang saya maksud melayani dengan hati," paparnya.
Salah satu terobosan di tahun pertamanya adalah Program Kantor Bupati Mobile. Lewat program ini Ombas memutus sekat antara desa dan kota. Pelayanan yang dulunya hanya dinikmati orang orang kota, akhirnya bisa menjangkau hingga ke pelosok.
"Ini persoalan mengakar di Torut dari dulu. Warga di pelosok merasakan diskriminasi pelayanan. Karena jarak mereka jauh dari pusat pemerintahan. Sampai sampai untuk sekadar mengurus KTP saja mereka harus ke kota berhari-hari," tutur Ombas.
Tapi dengan hadirnya Kantor Bupati Mobile, diskriminsi pelayanan bisa diputus. Tanpa harus ke ibukota kabupaten, warga dari pedalaman pun bisa mengurus dokumen dalam hitungan jam.
Fokus Tata Kota
Ombas dan Dedy juga memiliki perhatian besar dalam penataan kota. Ada dua problem yang jadi fokus di tahun pertama. Yakni penataan kebersihan di Kota Rantepao. Dan kedua, kemacetan serta perbaikan sistem transportasi.
Di sektor kebersihan, lomba kebersihan tingkat kecamatan, lembang/desa, dan kelurahan membawa perubahan signifikan.
"Semua camat, kepala lembang, dan lurah berlomba membersihkan wilayahnya dan sehingga tercipta lingkungan yang bersih dan indah, apalagi penanaman bunga tabang dan belo bubun di sepanjang jalan dan fasilitas umum sudah mulai nampak. Ini juga termasuk hal-hal kecil yang kami lakukan tapi dampaknya bagus karena Toraja Utata ini adalah daerah wisata. Orang akan senang berkunjung kalau daerah kita indah dan membuat nyaman," ujarnya.
Tak hanya itu, Ombas-Dedy mampu mengatasi kemacetan di kota Rantepao.
Program Bupati Cup dan Festival Paduan Suara yang rutin digelar setiap tahunnya juga membuat Toraja Utara mendapat respons positif. Kegiatan seperti ini juga turut membangkitkan perekonomian masyarakat.
Hari Pasar Tradisional juga yang sudah dikembalikan ke momen semula mendapat apresiasi tinggi dari masyarakat. Soalnya hari pasar yang bergulir otomatis dianggap sebagai kalender khusus dan budaya khas orang Toraja yang sudah ada dari sejak nenek moyang.
