Biden akan Beri Angin Segar Bagi Pemulihan Ekonomi RI
Biden berpeluang membuka hubungan yang lebih hangat dengan China. Persaingan dagang dua negara tetap akan berlanjut tetapi pendekatan AS akan berubah lebih bersahaja.
JAKARTA, PEDOMANMEDIA - Presiden AS terpilih Joe Biden bakal memberi sentuhan berbeda pada pendekatan kerja sama Ekonomi dengan negara-negara di Asia. Indonesia bisa mengambil keuntungan dari kebijakan Biden yang dinilai cukup longgar itu.
"Pendekatan ekonomi Biden dan Trump itu berbeda dalam kultur psikologi. Biden akan lebih condong memberi ruang pada Asia," terang pengamat ekonomi Nursyam Surhadi, dalam tulisan di blog pribadinya, Ahad kemarin.
Nursyam menulis, Biden berpeluang membuka hubungan yang lebih hangat dengan China. Persaingan dagang dua negara tetap akan berlanjut tetapi pendekatan AS akan berubah lebih bersahaja.
"Kebijakan ini akan banyak memengaruhi upaya pemulihan ekonomi Asia. Indonesi bisa ikut mengambil keuntungan lewat peran aktif dalam hubungan dagang," paparnya.
Seperti Nursyam, beberapa ekonom sudah memprediksi ekonomi Indonesia jika akhirnya Trump benar benar tumbang. Fakhira Sunanjati, peneliti pasar global mengatakan, akan ada perubahan besar pada konsepsi ekonomi AS jika Biden berkuasa. Biden kemungkinan akan mencoba menancapkan pengaruh di Asia dan negara-negara pendukung AS.
"Biden punya konsep global yang lebih harmonis. Akan ada beberapa program ekonomi yang menyentuh ke negara-negara berkembang," jelas Fakhira.
Akan tetapi konsep dasar AS dalam mempertahankan reputasi sebagai negara adikuasa tak akan berubah di tangan Biden. Ia tetap akan memberi prioritas pada sistem pertahanan dan militer.
Sehingga kata Fakhira, AS akan memberi tekanan dan mengontrol ekonomi dunia lewat pendekatan-pendekatan militeristik. Menurut dia, ekonomi dunia masih akan bergantung pada pasang surut hubungan AS dengan Rusia.
Di sisi lain, Biden akan sedikit berbeda dengan Trump yang anti-China. Biden memungkinkan memulihkan hubungan dengan China yang memburuk dalam 4 tahun terakhir.
"Rekonstruksi hubungan AS-China akan membawa perbaikan pada ekonomi Asia. Indonesia akan merasakan dampak positif terutama untuk pemulihan dunia usaha pascapandemi," terang Fakhira.
Tapi dari sisi investasi, Biden masih tanda tanya. Apakah dia akan memberi prioritas pada investasi industrialisasi di Asia atau tidak. Kata Fakhirah, jika dia melihat kebangkitan ekonomi Asia sebagai sesuatu yang menguntungkan AS maka memungkinkan keran itu ia buka lebar-lebar.
"Tapi itu akan tergambar pada pola kebijakan Biden nanti. Apakah dia punya orientasi pada Asia atau tidak," katanya.
Pengamat ekonomi Sjamsul Ridjal berpendapat, dunia menantikan Biden mengubah kebijakan ekonomi AS. Di era Trump, AS menunjukkan ego dalam menerapkan program global.
Hal itu ditandai dengan meruncingnya persaingan ekonomi AS dengan China. AS masih berambisi menguasai perdagangan Asia. Tapi China juga kata Sjamsul, menjadi sandungan AS.
"China dianggap oleh Trump sebagai matahari Asia. Trump khawatir monopoli perdagangan China meruntuhkan pengaruh AS di Asia. Ini membuat ekonomi kita menjadi kurang stabil," katanya.
Menurut Sjamsul, Biden diharapkan bisa mengubah situasi itu. Dengan membaiknya hubungan dagang AS dan China, ekonomi akan lebih kuat.
