Warga Protes Angkot Makassar Naikkan Tarif, ini Penjelasan Organda
Organda berdalih terjadi kenaikan harga BBM jenis Pertalite. Maka pihaknya sepakat untuk menaikan tarif angkutan umum.
MAKASSAR, PEDOMANMEDIA - Sejumlah angkutan umum di Kota Makassar menaikkan tarif sepihak. Organda menyebut kenaikan ini imbas dari penyesuaian harga BBM.
Ketua Organda Makassar, Zainal Abidin mengatakan, kenaikan tersebut dipicu adanya penyesuaian tarif BBM jenis Pertalite dengan harga Rp7.850 per liter. Organda berdalih terjadi kenaikan harga BBM jenis Pertalite. Maka pihaknya sepakat untuk menaikan tarif angkutan umum.
"Beberapa hari ini tidak ada pengumuman resmi dari pemerintah bahwa BBM jenis Premium itu naik harganya. Namun BBM jenis Premium itu tidak ada yang dijual di SPBU. Maka secara otomatis di anggota kami dipaksakan untuk beralih menggunakan BBM jenis Pertalite," jelasnya.
Ia juga menerangkan, jika angkot bertahan dengan tarif yang lama, yakni Rp5.000 dengan harga Pertalite saat ini, maka dipastikan sopir angkutan mengalami kerugian.
"Makanya kami melakukan penyesuaian sambil menunggu penetapan tarif yang ditetapkan oleh wali kota kalau pemerintah mau tetapkan itu," katanya.
Zainal mengatakan, berdasarkan aspirasi dari sopir angkutan di lapangan dan berdasarkan penyesuaian tarif yang dilakukan oleh Organda terhadap anggotanya, maka pihaknya mengajukan penyesuaian tarif angkutan umum kepada Pemerintah Kota Makassar.
"Berdasarkan dengan surat saya kemungkinan 1-2 hari ini, Dinas Perhubungan sudah mengundang kami untuk melakukan rapat koordinasi secara bersama untuk membahas dan menetapkan tarif sesuai dengan kajian dalam penyesuaian," ungkapnya.
"Kalau tidak ada halangan hari Kamis jam 10 rapatnya," tambahnya.
Zainal mengkhawatirkan ada sopir angkutan yang menaikkan tarif angkutan lebih tinggi. Olehnya itu, pihaknya akan segera menyesuaikan tarif angkutan untuk meredakan gejolak yang ada di lapangan.
"Kami khawatirkan ada sopir yang memanfaatkan ini dengan menaikkan tafir terlalu jauh. Makanya kami cepat mengantisipasi dengan melakukan penyesuaian tarif. Sehingga kita akan menempelkan di masing-masing angkot," tutur Zainal.
Zainal mengungkapkan, sejak 2017 lalu perlahan aktivitas angkutan kota mulai menurun dan terkikis dengan hadirnya angkutan online. Artinya masyarakat Kota Makassar lebih banyak memilih angkutan online.
"Dari itu sampai saat ini anggota kami menurun. Menurut survei dan pendataan kami kurang lebih 2.500 sampai 3.000 angkot saat ini. Jadi ada hilang kurang lebih 1.500-an. Itu disebabkan hadirnya angkutan online," ungkapnya.
Namun, dari 1.500 mobil angkutan, ada yang sudah dijual ke daerah lain karena sudah tidak terpakai.
"Ada juga yang betul-betul disimpan di rumahnya, tidak lagi beroperasi. Ada yang di dalam bengkel tapi tidak bisa dibiayai sehingga rata-rata dijadikan mobil tua untuk saat ini. Artinya kurang lebih 2.500 yang aktif," tuturnya.
Selain itu, adanya pandemi Covid-19 berdampak pula pada aktivitas angkutan umum. Banyak sopir angkutan yang beralih pekerjaan lain dengan membuka usaha baru.
Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) juga membuat masyarakat lebih banyak tidak bepergian. Sehingga aktivitas angkutan umum sangat berkurang.
"Angkutan kota dilarang ini, dilarang itu kan. Makanya saat ini yang cukup bertahan sopir yang memang tidak ada pekerjaan lain yang masih bertahan," pungkasnya.
