Soal Prediksi Gelombang 3 Corona Desember, Pelaku Usaha Ngaku Was-was
Kondisi ini akan lebih rumit dari sebelumnya. Karena saat ini semua sektor usaha sedang dalam transisi setelah dihantam pandemi.
MAKASSAR, PEDOMANMEDIA - Pelaku usaha menanggapi kemungkinan adanya gelombang baru Corona pada Desember nanti. Mereka memberi gambaran situasi jika prediksi ini benar benar terjadi
"Tentu kalau ada gelombang baru, akan ada pula kebijakan yang lebih ketat. Dan kita tahu setiap kebijakan pembatasan, yang paling merasakan dampaknya adalah dunia usaha," terang Zaenal Abidin, pelaku UMKM Sulsel, Senin (4/10/2021).
Menurut Zaenal, kondisi ini akan lebih rumit dari sebelumnya. Karena saat ini semua sektor usaha sedang dalam transisi setelah dihantam pandemi.
Jika masa masa kebangkitan ini kembali diganggu oleh kebijakan pembatasan, usaha akan kembali jatuh. Karena itu kata Zaenal, pemerintah tidak boleh reaktif jika terjadi kenaikan kasus Corona.
"Kita ini jujur was was terus. Ya jangan ada lagilah pembatasan seperti sebelumnya. Harus ada pendekatan berbeda. Yang jelas orientasinya penyelamatan dunia usaha," pintanya.
Sebelumnya ekonom memperingatkan dampak luas yang bisa muncul jika gelombang Corona Desember nanti tak bisa dibendung. Ekonomi disebut akan sampai di fase paling mematikan.
"Ya mati suri. Sekarang saja ekonomi sudah jatuh sangat dalam," ujar pengamat ekonomi Asriadi Djamaluddin, beberapa waktu lalu.
Ia menjelaskan, pemerintah sudah melonggarkan PPKM dengan membuka interaksi sosial. Namun kebijakan ini belum sepenuhnya mampu mereduksi ekonomi nasional.
"Kita belum bisa melihat dampaknya secara positif. Kita akan melihatnya apakah pelonggaran ini cukup prospektif atau tidak. Butuh berbulan-bulan. Kalau ada lagi gelombang baru maka apa yang kita bangun sekarang akan sia-sia," ujar Asriadi.
Menurut Asradi, jika situasi pandemi terus membaik, recoveri ekonomi akan lebih cepat. Tetapi jika terjadi anomali kasus, maka proses pemulihan juga akan alot.
"Semua tergantung kondisi. Naik turunnya pandemi ini membuat ekonomi sulit stabil. Pembatasan sosial itu efeknya multi," paparnya.
Pengamat juga menilai pelonggaran hanya sedikit memberi dampak pada sektor ritel. Adapun pada industri dan jasa masih terjadi tekanan yang menyebabkan biaya operasional membengkak.
Namun dibanding PPKM darurat, pelonggaran ini sedikit memberi ruang pada usaha kecil dan menengah. Banyak jenis UMKM bisa mulai bangkit dengan toleransi waktu beroperasi yang lebih panjang.
"Karena tidak sedikit UMKM itu mengais pendapatan di malam hari. Kalau waktunya lebih longgar maka potensi market juga membaik. Sebaliknya pembatasan waktu operasi membuat UMKM kehilangan pangsa," ujar analis ekonomi Sjamsul Ridjal.
Sjamsul menganalisis, pada industri masih ada potensi negatif terjadinya PHK massal. Pasalnya upaya pemulihan industri bukan sekadar pada pelonggaran jam operasi. Tapi juga kebijakan sektoral.
Ia memprediksi Indonesia sulit mencapai proyeksi pertumbuhan ekonomi ideal jika PPKM diterapkan berkepanjangan. Sejumlah sektor penopang justru diramal melambat.
PPKM akan membuat sektor sektor penopang ekonomi tidak produktif. UMKM akan terdampak, industri sampai jasa juga ikut terimbas.
Kata Sjamsul, PPKM Darurat banyak membatasi pergerakan arus barang dan jasa. Sirkulas distribusi yang mengalami hambatan membuat biaya operasional naik dan memperlambat produktivitas.
Pada gilirannya, jika kondisi ini berkepanjangan akan memberi tekanan pada sektor usaha. Biaya operasional membangkak. Poduksi melemah dan akhirnya satu satunya upaya untuk tetap bertahan adalah memangkas karyawan.
"Ujungnya adalah pengurangan karyawan. Dan akan terulang kembali kondisi seperti tahun lalu saat terjadi PHK besar besaran," katanya.
- 1
- 2
- 3
- 4
- 5
