Muh. Chaidir : Rabu, 08 September 2021 19:28
Pengamat intelijen dan terorisme Susaningtyas Nefo Kertopati singgung banyak sekolah yang bermashab pada Taliban dan memperbanyak bahasa Arab (int)

JAKARTA, PEDOMANMEDIA - Dianggap mencederai bahasa Islam, pengamat intelijen Susaningtyas Nefo Kertopati dicecar Hidayat Nur Wahid di akun Twitternya, Rabu (8/9/2021).

Hidayat berang, Susaningtyas membawa-bawa bahasa Arab dan mengasosiasikannya sebagai ciri-ciri radikalisme.

"Memperbanyak Bahasa Arab disebut sebagai salah satu ciri penyebaran terorisme," ujarnya kesal.

Diapun kemudian mengatakan bagaimana bisa bahasa teroris diserap dan digunakan dalam Pancasila, seperti adil, rakyat, adab, hikmat, musyawarat dan lainnya.

"Bisa jadi teror terhadap Pancasila yang banyak ungkapannya diserap dari Bahasa Arab seperti adil (sila ke 2&5), rakyat (sila 4&5), adab, hikmat, musyawarat, wakil," tanyanya menyinggung sekaligus membantah teori dangkal Susaningtyas.

Tidak hanya itu dia juga menyinggung soal OPM. Kata Ketua Umum PKS itu, Apakah OPM yg menteror kedaulatan NKRI berbahasa Arab?

Tidak hanya Nurwahid, Ketua Majelis Ulama (MUI) Pusat, Kiyai Muhammad Cholil Nafis menilai apa yang disampaikan Susaningtyas Nefo Kertopati bahwa bahasa Arab sebagai ciri teroris, merupakan tuduhan yang tak punya dasar.

Kiyai Cholil merasa lucu dengan pernyataan tersebut. Dia menduga Susaningtyas tidak memahami bahasa Arab sehingga disangkutkan dengan teroris. Kiyai Cholil menyebut Susaningtyas bukan pengamat. Tapi penyesatan.

“Mengamati atau menuduh. Gara-gara tak mengerti bahasa Arab maka dikiranya sumber terorisme atau dikira sedang berdoa hahaha. Ini bukan pengamat tapi penyesat,” ucap Kiyai Cholil.

Lebih lanjut, Kiyai Cholil merasa aneh dengan pernyataan Susaningtyas yang menganggap orang yang tak hafal nama-nama Partai merupakan ciri teroris. Dia menilai Susaningtyas punya logika yang kacau.

“Masa’ tak hafal nama-nama parpol dianggap radikal, nanti kalau tak kenal nama-nama menteri dikira tak nasionalis. Kacau nihh logikanya,” tuturnya.

Diketahui sebelumnya Pengamat intelijen Susaningtyas Nefo Kertopati menyebutkan banyaknya sekolah yang berkiblat pada Taliban dan mengutamakan bahasa Arab.

Dia kemudian membeberkan ciri-ciri sekolah dan para gurunya yang mulai berkiblat ke Taliban atau ke radikalisme, diantaranya tidak mau hafal nama-nama Partai Politik.

Dia mengatakan bahwa gerakan sekolah yang berkiblat pada Taliban ini, tentu harus diwaspadai. Karena sekolah merupakan pabrik pencetak para pemimpin negeri di masa depan, sekolah pula yang mencerdaskan bangsa.

Mantan anggota DPR Komisi I ini juga menyebut ciri anak muda yang terpapar radikalisme adalah dengan perbanyak belajar bahasa Arab.

“Bagaimana saya tak khawatir, anak muda kita sudah tak mau lagi hormat pada bendera RI, tak mau menyanyikan lagu Indonesia Raya. berbahasa Arab,” ujarnya.

“Bukan berarti Arab itu memiliki konotasi teroris, namun kalau arahnya ke terorisme bahaya. Karena sebenarnya mereka juga ingin berkuasa, ingin punya kekuasaan, tapi mereka ingin berkuasa dengan cara mereka sendiri,” tukasnya dalam sebuah progam "Crosscheck" yang disiarkan di YouTube.