Korban Tewas Gempa Haiti Sudah 304 Orang
Beberapa jam setelah gempa diumumkan jumlah korban tewas melonjak menjadi 304 orang. Laporan pertama hanya 29 orang.
PORT-AU-PRINCE, PEDOMANMEDIA - Korban gempa 7,2 magnitudo di Haiti terus bertambah. Hingga Sabtu malam korban tewas dilaporkan telah mencapai 304 orang.
Gempat terjadi kurang lebih pukul 08.30 (12.30 GMT) Sabtu pagi di sekitar 160 km barat pusat ibu kota Haiti, Port-au-Prince, seperti yang dilansir dari AFP pada Minggu (15/8/2021).
Bangunan gereja, bisnis, sekolah, dan rumah-rumah runtuh diterjang gempa yang menyebabkan ratusan orang jadi korban. Setidaknya 1.800 orang terluka.
Tim penyelamat berpacu melawan waktu untuk menemukan para korban. "Baik penyelamat profesional dan anggota masyarakat telah membantu menarik banyak orang dari reruntuhan," tweet badan perlindungan sipil.
Beberapa jam setelah gempa, badan tersebut mengumumkan jumlah korban tewas melonjak menjadi 304 orang dari laporan pertama 29 orang. Badan perlindungan sipil mengatakan, di departemen Selatan negara saja tercatat setidaknya 160 orang tewas.
"Banyak rumah hancur, orang meninggal, dan beberapa berada di rumah sakit," kata Christella Saint Hilaire (21 tahun), yang tinggal di dekat pusat gempa, kepada AFP.
Menurut Jerry Chandler, kepala badan perlindungan sipil bahwa rumah sakit di daerah yang paling parah terkena gempa sudah kesulitan untuk memberikan perawatan darurat, yaitu rumah sakit di kota Pestel, Corailles, dan Roseaux, yang benar-benar penuh.
Keadaan darurat
Kementerian Kesehatan dengan cepat mengirim personel dan obat-obatan ke semenanjung barat daya, tetapi keamanannya terancam oleh geng-geng bersenjata.
Satu-satunya jalan yang menghubungkan ibu kota ke bagian selatan Haiti yaitu melewati Martissant, sebuah daerah yang berada di bawah kendali ketat geng-geng bersenjata sejak awal Juni, menghalangi jalan bebas hambatan.
"Kita semua tahu bahwa kita memiliki masalah di Martissant," kata Perdana Menteri Ariel Henry saat jumpa pers pada Sabtu malam waktu setempat (14/8/2021).
Namun, pihaknya telah memutuskan untuk semua bantuan harus dapat sampai ke daerah-daerahyang terkena dampak. Untuk berjaga, pasukan polisi dan militer telah dikerahkan untuk tujuan itu, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.
Amerika Serikat dan negara-negara lain dengan cepat menjanjikan dukungan kepada negara yang dilanda krisis. Presiden AS Joe Biden menyetujui upaya bantuan "segera".
"Dalam masa yang sudah menantang bagi rakyat Haiti, saya sedih dengan gempa bumi yang menghancurkan," kata Biden.
Negaranya siap untuk "menilai kerusakan dan membantu upaya untuk memulihkan kerusakan serta yang harus sekarang dibangun kembali", lanjut Biden.
Gambar-gambar yang beredar di media sosial setelah bencana menunjukkan orang-orang dengan panik berusaha menarik korban dari reruntuhan bangunan, sementara yang lainnya berteriak mencari perlindungan di jalan-jalan di luar rumah mereka.
"Rumah-rumah dan tembok-tembok di sekitarnya telah runtuh. Atap katedral telah runtuh," kata penduduk Job Joseph kepada AFP dari kota Jeremie di ujung barat Haiti.
Kerusakan parah dilaporkan terjadi di pusat kota, yang merupakan rumah bagi sekitar 200.000 orang dan sebagian besar terdiri dari tempat tinggal dan bangunan satu lantai.
Di kota Les Cayes, kerusakan signifikan terlihat dari runtuhkan sebuah hotel bertingkat.
Perdana menteri, yang mensurvei kerusakan melalui helikopter, menyatakan keadaan darurat selama satu bulan sambil menyerukan bangsanya untuk "menunjukkan solidaritas" dan tidak panik.
Tak lama setelah gempa, US Geological Survey (USGS) mengeluarkan peringatan tsunami, tetapi segera mencabut peringatan itu.
