MAKASSAR, PEDOMANMEDIA - Presiden Joko Widodo mengingatkan Kementerian Pertanian mengantisipasi ancaman krisis pangan di 27 provinsi di Tanah Air. Beberapa daerah di Indonesia timur menjadi salah satu yang terparah.
"Kemungkinan itu ada. Banyak faktor pemicunya. Produksi pangan, kondisi pandemi dan paceklik yang mungkin berkangsung sampai akhir tahun," terang Adi Pradiyta, peneliti ekonomi sosial dari Lembaga Riset Publik, Senin (27/9/2020).
Menurut Adi, produksi pangan RI masih mencukupi sampai akhir tahun. Tetapi jika pandemi berkepanjangan di 2021, produksi akan anjlok dan ada beberapa komoditi akan mengalami krisis.
Belum lagi kata Adi, kemarau yang mungkin melanda sebagian daerah sampai Januari nanti. Faktor-faktor sangat mungkin menurunkan produktivitas pangan.
"Kita juga memasuki resesi. Daya beli menurun tajam. Sehingga produksi otomatis menurun," kata Adi.
Adi memperkirakan beberapa daerah di Indonesia timur akan merasakan dampak besar. Meski Sulsel bisa menopang beberapa komoditi pangan tetapi hanya bisa bertahan secara normal sampai 2021.
"Sulsel masih mampu jadi penyangga utama. Tapi itu juga tidak bisa dalam waktu lama. Sampai pertengahan 2021 itu sudah sangat ideal," paparnya.
Karena itu harus ada terobosan sektor pertanian agar bisa menjaga ketahanan pangan sampai pandemi berakhir. Sejauh ini Kementan cukup baik menjaga stok pangan.
"Kita akan lihat sampai batas mana semua itu bisa dipertahankan. Saya melihat itu tadi. Program belum menyentuh sampai hal yang substansial," imbuhnya.
Sebelumnya Mentan Syahrul Yasin Limpo mengungkapkan, stok pangan masih cukup ideal. Ia menyebut strategi subsidi silang antardaerah penyangga pangan bisa menjadi jalan keluar.
"Sulsel punya stok beras cukup melimpah. Sulsel bisa memberi subsidi beras kepada daerah daerah yang mengalami krisis beras," katanya.
Syahrul Yasin Limpo juga melakukan kebut Gerakan Percepatan Tanam dan Panen Padi. Gerakan ini digencarkan di berbagai lumbung padi di Indonesia, antara lain di Provinsi Jawa Timur yang merupakan lumbung pangan nasional. Mentan SYL menegaskan bahwa butuh kebersamaan untuk memastikan pertanian bisa berjalan dengan akselerasi yang cepat.
"Caranya dengan mempercepat pertanaman supaya target MT II seluas 5,6 juta hektar bisa dipenuhi. Jika semua bergerak bersama maka bisa dipastikan kondisi pangan kita aman sampai akhir tahun," katanya.
BERITA TERKAIT
-
Cegah Inflasi, SYL Minta Pemda Perpendek Rantai Distribusi Pangan
-
5 Instruksi Mentan SYL Hadapi Krisis Pangan di Papua Barat
-
Kementan: Sulsel Bisa Hadapi Krisis Pangan jika Jaga Produktivitas Sagu
-
Jokowi Kembali Wanti-wanti Badai Resesi: Siapkan Opsi Terburuk
-
Krisis Pangan di Depan Mata, Andi Utta Singgung Pertanian Bulukumba yang Kokoh