Insentif TGC Covid-19 RSUD Bulukumba Cair, Nilainya Bervariasi
Besaran dana insentif yang cair bervariasi. Tim TGCÂ dibentuk untuk mengambil langkah-langkah cepat dalam menghadapi kasus Covid-19.
BULUKUMBA, PEDOMANMEDIA - Pelaksana tugas (Plt) Direktur RSUD HA Sulthan Daeng Radja Bulukumba, dr Rizal Dappi menjelaskan bahwa insentif TGC (Tim Gerak Cepat) untuk penanganan Covid-19, telah dibayarkan. Nilai insentif dibayar bervariasi.
Menurutnya pembayaran insentif tersebut, dari dana BLUD rumah sakit yang bersumber dari APBD Kabupaten Bulukumba.
"Insentif TGC penangan Covid-19 di rumah sakit pada bulan Juni sampai Desember 2020 telah dicairkan. Jumlah keseluruhan Rp386.750.000," kata dr Rizal Dappi kepada Wartawan, Selasa (25/5/2021).
Ia menjelaskan, besaran dana insentif yang cair bervariasi. Sebab katanya, Tim TGC dibentuk untuk mengambil langkah-langkah cepat dalam menghadapi kasus Covid-19 saat itu.
"Tim TGC bukan hanya tim teknis saja, tapi juga terdiri dari tim medis dan penunjang," katanya.
Perawat yang bersentuhan langsung itu, katanya, adalah yang bertugas di perawatan petunia dan Bougenville saat awal Covid-19 yang mendapat insentif langsung dari Kementrian Kesehatan.
"Awalnya semua Tim TGC sudah dianggarkan untuk mendapatkan insentif dari pemda yaag dibebani ke dana BLUD," jelasnya.
Hanya saja seiring berjalannya waktu muncul juknis dari pusat, untuk tim medis dan nakes lainnya mendapatkan insentif dari kementrian kesehatan.
"Dengan juknis yang sudah ditentukan, di mana sebagian tidak bisa mendapat insentif dari dana APBD," tambah Rizal.
Rizal menerangkan adapun insentif para TGC bervariasi, Tim Utama mulai Rp1,5 sampai Rp2,5 juta, Tim Non Medik Rp1 juta per orang, kecuali cleanig service Rp700 ribu per orang.
Seperti halnya Sopir Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sulthan Dg Radja Bulukumba, juga mendapat insentif senilai Rp5 juta.
"Itu haknya. Karena selain staff, sopir juga masuk dalam tim teknis TGC (Tim Gerak Cepat) yang sudah terdaftar namanya ke dalam SK (Surat Keputusan) sejak awal pandemi Covid-19," katanya.
Sopir itu, lanjutnya, ikut bekerja membantu medistribusikan logistik bagi tenaga kesehatan (Nakes).
“Mereka yang membantu mendistribusikan makanan dan penambah daya tahan tubuh bagi nakes yang kami sediakan secara swakelola mulai dari petugas jaga sore sampai jaga malam,” tambahnya.
Ia mengungkapkan, sopir direktur tidak hanya mengantarnya ke sana kemari, tapi juga bekerja untuk lingkup RSUD Bulukumba.
“Di saat ada pasien terkonfirmasi positif yang meninggal baik sore maupun tengah malam, mereka ikut membantu menyiapkan dan memakaikan pakaian hazmat dan persiapan lainnya,” jelasnya.
"Dia ini masuk anggota teknis. Dia dapat insentif Rp1 juta. Kenapa bisa dapat Rp5 juta, karena terlambat tidak dilakukan pembayaran, jadi sekaligus dia dapat," tambahnya.
