Editorial
KAMI untuk Siapa?
Siapa di balik gerakan KAMI? Benarkah berafiliasi dengan partai politik?
PEDAGANG di pasar-pasar bilang “Paling untuk politik”. Di kedai-kedai orang-orang sambil nyeruput kopi juga komentar sama. Katanya “jangan-jangan ujungnya jadi partai politik,”.
Lalu di tempat lain asumsi orang sama saja. Mereka bilang “sulit membedakan gerakan moral dan gerakan politik”. Karena hari ini banyak orang yang muncul menyuarakan moral. Tapi besok sudah jadi ketua parpol.
Akhirnya moral dan parpol berada di satu tempat. Mau disebut gerakan moral, tapi di dalamnya bercampur orang-orang berafiliasi politik.
Disebut politik tidak juga. Karena samar. Yang mereka suarakan melulu soal moral. Bukan politik. Suara mereka membela keadilan. Membela rakyat.
Tapi kita sudah terbiasa disuguhi kepalsuan seperti itu. Gerakan politik yang dibungkus simbol-simbol moral.
Apa sebenarnya ini?
Di atas itu adalah respons publik atas lahirnya gerakan KAMI. Gerakan yang diinisiasi Din Syamsudin cs.
Gerakan ini dideklarasikan 18 Agustus kemarin. KAMI disokong oleh tokoh-tokoh nasional. Ada Gatot Nurmantyo, Refly Harun dan lebih dari 100 tokoh lintasprofesi.
Ada tokoh lintasagama hingga cendekiawan. Juga beberapa nama yang sejak pilpres lalu menjadi pentolen dari barisan penentang Jokowi.
Mereka adalah Rahmawati Soekarnoputri, Rizal Ramli, Sri Edy Swasono, Rahmat Wahhab dan Taufik Ismail. Ada pula MS. Kaban, Rocky Gerung dan Said Didu.
KAMI adalah Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia. Dari namanya jelas ini bukan parpol. Lebih mirip gerakan moral.
Lalu narasinya “menyelamatkan Indonesia”. Inipun bukan narasi politik. Lebih condong sebagai diksi kebangsaan.
Tapi ini bukan hal baru di Indonesia. Hampir semua parpol yang lahir juga berawal dari narasi moral. Dan itu memang efektif menggaet banyak orang.
Parpol yang memulai langkah dari gerakan moral terbukti memang mendapat cukup tempat.
Nasdem misalnya lahir dari rahim ormas. Nasdem juga melempar isu perubahan di awal kelahirannya.
Di ujungnya, Nasdem menjadi parpol. Dan “maaf”, sekarang Nasdem mau tak mau harus mengurangi bicara gerakan moral. Sebab mereka kini berada di panggung berbeda. Panggung politik
Nasdem tak bisa lagi lari dari misi politiknya. Tujuan perubahan moral sudah jauh tercecer. Narasinya sekarang bagaimana memenangkan pilkada sebanyak mungkin.
Selanjutnya menjadi pemenang Pemilu. Berkuasa. Lalu mengendalikan negara. Itulah tujuan akhir dari politik.
Nah, lantas KAMI itu apa? Murni gerakan moral. Gerakan yang lahir dari keprihatinan atas kondisi bangsa.
Atau seperti tadi. Lahir dengan narasi perbaikan. Tapi di ujungnya menjelma menjadi kawanan politik.
Kami juga tidak tahu KAMI ini di panggung mana?
Pertanyaannya sederhana. KAMI ini lahir benar-benar untuk menyelamatkan Indonesia yang sedang karam? Atau ini hanya jalan menuju kekuasaan?
Lagi-lagi samar.
Jadi jangan salahkan jika rakyat berucap “jangan-jangan”. Karena jangan-jangan ini hanya bentuk sakit hari Pak Din, Rachmawati dan Rocky Gerung pada Jokowi.
Atau jangan-jangan ini gerakan memperkenalkan Gatot Nurmantiyo sebagai capres 2024. Atau jangan-jangan Refly Harum ingin melampiaskan kekecewaan setelah “terusir” dari Istana.
Banyak “jangan-jangan” yang bisa muncul. Publik berhak menilai. Berhak menolak. Kita tunggu siapa KAMI sebenarnya.
- 1
- 2
- 3
- 4
- 5
