JAKARTA, PEDOMANMEDIA - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan para peneliti menemukan adanya tiga varian Corona yang memiliki mutasi ganas. Dua di antaranya diduga sudah masuk ke Indonesia.
Variant of concern adalah varian Corona yang menunjukkan adanya bukti peningkatan penularan, keparahan penyakit misalnya peningkatan rawat inap atau kematian, penurunan signifikan dalam netralisasi antibodi, hingga penurunan efektivitas dalam pengobatan.
Berikut 3 varian mutasi 'ganas' COVID-19 yang jadi perhatian WHO dikutip detikcom:
B117. Pertama kali terdeteksi: Inggris
- Adanya peningkatan transmisi sebesar 50 persen
- Potensi peningkatan keparahan berdasarkan tingkat rawat inap dan angka kematian kasus
- Dampak minimal pada netralisasi dengan plasma konvaselen dan pasca vaksinasi
Varian ini diperkirakan sudah masuk ke Indonesia per Januari 2021
P.1. Pertama kali terdeteksi: Brazil
- Terdapat bukti varian ini mempengaruhi penularan dan kemampuan antobodi yang dihasilkan baik dari infeksi maupun vaksinasi untuk menetralkan virus
- Penurunan kerentanan yang signifikan terhadap pengobatan antibodi monoklonal
- Dampak minimal pada netralisasi antibodi dengan plasma konvaselen dan pasca vaksinasi
B1351. Pertama kali terdeteksi: Afrika Selatan
- Adanya peningkatan transmisi sebesar 50 persen
- Dampak minimal pada netralisasi dengan plasma konvaselen dan pasca vaksinasi
- Mempengaruhi netralisasi yang cukup signifikan terhadap pengobatan antibodi monoklonal
Varian ini diperkirakan sudah masuk ke Indonesia pertengahan April 2021
Varian of concern memerlukan upaya yang lebih masif dan luas untuk mengendalikan penyebaran, peningkatan pengujian, dan penelitian untuk menentukan efektivitas vaksin dan pengobatan pada varian tersebut.
BERITA TERKAIT
-
AS Resmi Keluar dari WHO, Presiden Trump: Mereka tidak Adil
-
Gelombang Panas Selimuti Bumi, WHO Ingatkan Risiko Kematian Tinggi
-
Seorang Wanita Brasil Tewas Tertular Flu Babi, WHO Ragu
-
Peringatan WHO: Virus Marburg Bergejala Seperti Covid, tapi Lebih Mematikan
-
Virus Marburg Meluas di Afrika, WHO Khawatir jadi Pandemi Baru