Selasa, 20 April 2021 16:59

Corona di India Menggila Usai Pelonggaran, Indonesia Masih Mau Buka Sekolah Juli?

Ilustrasi (int)
Ilustrasi (int)

Sejauh ini formulasi belajar tatap muka belum jelas. Terutama soal pengaturan jam belajar dan skenario pengetatan interaksi antarsiswa dalam kelas.

JAKARTA, PEDOMANMEDIA - Gelombang baru kasus Corona kembali menggila di India dalam dua pekan terakhir. Lonjakan angka kematian meledak jauh melampaui saat pertama pandemi ini melanda pertengahan 2020 lalu.

Ledakan kasus terjadi setelah negara ini melakukan pelonggaran. Berbagai aktivitas keagamaan dan pendidikan dibuka sejak Januari lalu.

Dikutip dari laman Worldometers, India melaporkan adanya 256.947 kasus baru harian dan 1.757 kematian pada Senin (19/4/2021). Jumlah ini menambah banyaknya kasus positif COVID-19 di India, dengan total keseluruhan mencapai 15.321.089 kasus.

Baca Juga

Saat ini, terdapat 2.031.957 kasus aktif, dengan 13.108.581 orang sudah sembuh dan 180.550 orang meninggal dunia akibat terpapar Corona.

India juga disering Corona varian baru. Dikutip dari laman livemint.com, varian baru yang disebut dengan mutasi ganda diduga menjadi pemicu gelombang baru infeksi di India, yang mendorong negara ini berada di posisi kedua dengan kasus terbanyak di dunia.

Adapun 16 negara bagian dengan laporan kasus peningkatan setiap harinya. Salah satunya di Delhi dan Maharashtra.

Maharashtra melaporkan kasus harian baru tertinggi dengan 63.729 kasus, diikuti Uttar Pradesh dengan 27.360 kasus baru dan Delhi dengan 19.486 infeksi baru.

Bagaimana dengan Indonesia, masihkah target sekolah tatap muka akan dibuka Juli nanti? Kementerian Pendidikan memberi ruang dimulainya sekolah tatap muka lebih cepat dari rencana. Jika memungkinkan akan diuji coba pada beberapa provinsi usai Lebaran nanti.

Hanya saja rencana ini mendapat banyak sorotan. Kesiapan pemerintah daerah dalam penerapan protokol kesehatan di sekolah dinilai masih rendah. Risiko munculnya klaster baru sangat dikhawatirkan.

"Kita tidak mau justru nanti klaster itu muncul dari anak anak sekolah. Karena akan sangat sulit menerapkan prokes jika formulasi pembelajaran tidak tepat," kata Sumardi Atmojoyo, pengamat pendidikan.

Menurut Sumardi, sejauh ini formulasi belajar tatap muka belum jelas. Terutama soal pengaturan jam belajar dan skenario pengetatan interaksi antarsiswa dalam kelas.

Ia juga mempertanyakan bagaimana mengatur agar tidak terjadi kerumunan di lingkungan sekolah.

"Ini butuh kesiapan semua pihak. Jangan sampai karena semangat kita untuk membuka sekolah membuat kita lupa bahwa pandemi masih ada di tengah tengah kita," jelasnya.

Sumardi menyoroti soal kasus Corona yang masih cenderung tinggi. Meski angka kesembuhan naik di atas rata rata dibanding Desember 2020, tetapi rasio penyebaran juga masih cukup rentan.

Saat ini kasus Corona di Tanah Air sudah menyentuh 1,5 juta kasus. Angka ini naik lebih dari 100 ribu kasus sejak Januari 2021.

"Jadi jangan ngototlah. Harus ada skenario yang aman. Dipaparkan dulu seperti apa agar kajiannya jelas bahwa itu efektif," imbuhnya.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim sendiri tetap berharap pembelajaran tatap muka dimulai Juli nanti. Ia beralasan, riset di banyak negara membuktikan tingkat infeksi Covid-19 pada anak sangat rendah.

"Riset di banyak negara sudah membuktikan bahwa anak usia 3-18 tahun itu memiliki tingkat mortalitas yang sangat rendah dibandingkan usia yang lain. Makanya banyak negara sudah membuka sekolah tatap muka," kata Mendikbud.

Nadiem mengungkapkan, anak-anak di bawah usia 18 tahun memiliki tingkat risiko infeksi yang rendah dibanding orang dewasa. WHO juga menyampaikan rendahnya kasus penularan Covid-19 pada anak di seluruh dunia. Ini menjadi pertimbangan banyak negara memulai sekolah tatap muka meski memiliki kasus Corona yang cukup tinggi.

Sementara itu Menkes Budi Gunadi Sadikin mengaku masih ragu. Menkes menganjurkan ada evaluasi.

Editor : Muh. Syakir
#Belajar Tata Muka #Corona di India #Mendikbud Nadiem Makarim
Berikan Komentar Anda