Rabu, 31 Maret 2021 07:24

Ironi Pandemi Menuju 2 Juta Kasus, dan Sekolah Tatap Muka yang Penuh Risiko

Ilustrasi (int)
Ilustrasi (int)

Belajar tatap muka harus diuji coba. Risiko tetap ada. Namun semua tergantung bagaimana penerapan protokol kesehatan di sekolah.

JAKARTA, PEDOMANMEDIA - Pemerintah dihadapkan pada dua pilihan yang sama pentingnya. Membuka sekolah agar pendidikan segera recovery. Atau tetap belajar daring untuk menghindari risiko munculnya klaster baru.

Pendidikan memang harus segera recovery. Setahun penuh belajar jarak jauh membuat kualitas pendidikan awut-awutan.

Tetapi di sisi lain kita tengah dihadapkan pada ironi. Di mana angka Corona kini menuju 2 juta kasus. Melihat tren penambahan setiap haringa, diprediksi kurva akan menyentuh 2 juta pada Mei atau Juni nanti.

Baca Juga

"Ini pilihan sulit. Tapi kita harus selamatkan pendidikan anak anak. Belajar daring telah merusak psikologi pendidikan," kata Budiman Afred, pemerhati pendidikan, Selasa (30/3/2021).

Ia menilai, belajar tatap muka harus diuji coba. Menurut Budiman, risiko tetap ada. Namun semua tergantung bagaimana penerapan protokol kesehatan dan kenormalan baru di sekolah.

"Karena kalau harus menunggu sampai pandemi berakhir sampai kapan. Saya rasa tidak ada yang tahu. Jadi sebaiknya sekolah dibuka. Sisa kita mengatur agar dalam satu kelas ada pembatasan jumlah siswa. Jam belajar juga harus ada penyesuaian," kata Budiman.

Kasus Corona sudah menembus 1,5 juta di Tanah Air. Pemerintah telah mengumumkan larangan mudik sebagai klaster potensial. Tapi target belajar tatap muka tetap di bulan Juli.

Data per Senin (29/3/2021), kasus Corona telah mencapai 1.501.093 kasus. Dalam 24 jam terakhir terjadi penambahan sebanyak 5.008 kasus.

Kasus baru positif Covid-19 tersebut tersebar di 32 provinsi. Jawa Barat menjadi provinsi dengan kasus tertinggi yaitu sebanyak 1.610 kasus baru. Menyusul DKI Jakarta sebanyak 1.014 kasus baru, Jawa Tengah sebanyak 388 kasus baru, Banten sebanyak 328 kasus baru dan Kalimantan Selatan sebanyak 275 kasus baru.

Sebelumnya pemerintah menargetkan pembelajaran tatap muka dimulai Juli 2021. Presiden Joko Widodo mengatakan, sedikitnya 5 juta guru masuk dalam target vaksinasi tahap dua. Guru menjadi prioritas agar belajar tatap muka bisa dimulai awal semester mendatang.

"Vaksinasi untuk guru masuk dalam prioritas sampai Juli nanti. Kita target 5 juta guru terakomodir. Dengan begitu belajar tatap muka sudah bisa dimulai awal semester nanti, " kata Jokowi.

Sempat ada rekomendasi dimulainya pembelajaran tatap muka Januari 2021. Namun rencana itu ditunda menyusul naiknya kembali angka kasus Corona di Tanah Air.

Selain itu mutasi baru Corona yang sedang menyerang Eropa juga menjadi kekhawatiran. Di Eropa, Corona dengan varian baru menyebar dengan cepat. Wabah ini bahkan sudah ditemukan di Asia.

Plt Gubernur Sulsel Sudirman Sulaiman mengatakan, kalau pembelajaran tatap muka dibuka, harus memenuhi semua pertimbangan keamanan. Aman bagi siswa, pengajar dan lingkungan. Harus juga dipastikan, penerapan protokol kesehatan di sekolah benar benar berjalan sebagaimana mestinya.

Ia menjelaskan bahwa, hal yang harus dipahami bersama adalah upaya dalam memutus mata rantai Covid-19. Pengalaman yang ada, Sulsel berada di urutan ke lima jumlah kasus Covid-19. Bahkan tertinggi di luar Pulau Jawa.

Mendikbud Nadiem Makarim tetap menargetkan sekolah dibuka Juli.

"Kita tak bisa lama-lama lagi menunda belajar tatap muka. Kita sudah tertinggal jauh. Kita harapkan target secepatnya sekolah bisa dibuka," ujar Nadiem.

Ia menyebutkan, hasil uji coba belajar tatap di beberapa daerah cukup efektif. Angka kasus Corona juga relatif lebih landai. Belum ada laporan adanya klaster baru pada sekolah.

Sehingga menurut Nadiem, target belajar tatap muka bisa diorientasikan lebih cepat. Ia menyebut target memulai pada tahun ajaran baru nanti diharapkan tak lagi ditunda.

Sementara itu Menkes Budi Gunadi Sadikin berharap evaluasi dilakukan lebih awal. Agar rencana membuka sekolah benar-benar berdasarkan observasi objektif.

Menurut Menkes, soal dampaknya yang bisa membatalkan rencana belajar tatap muka masih akan dilihat sampai Mei dan Juni nanti. Jika tingkat penyebarannya dianggap berisiko tinggi maka akan dipertimbangkan kembali.

 

Editor : Muh. Syakir
#Belajar Tata Muka #Menkes Budi Gunadi Sadikin #Mendikbud Nadiem Makarim
Berikan Komentar Anda