Muh. Syakir : Rabu, 24 Maret 2021 06:56
Andi Yuliani Paris

MAKASSAR, PEDOMANMEDIA - Anggota DPR RI Andi Yuliani Paris (AYP) angkat bicara soal kelangkaan solar di Bulukumba. Ia mempertanyakan masih banyaknya nelayan yang menggunakan solar, padahal mereka telah disubsidi mesin berbahan bakar LPG sejak 2018 lalu.

"Saya bingung soal kelangkaan solar di Bulukumba, kenapa terjadi? Bulukumba sudah saya kasi 975 mesin untuk nelayan berbahan bakar LPG. Harusnya kan pelan-pelan mereka beralih dari premium ke LPG," ungkapnya.

Politisi PAN itu mengatakan distributor solar ke Bulukumba itu sudah sesuai dengan kuota Badan Pengatur Hilir (BPH) Migas.

"BPH itu kan mitra kerja saya, jadi saya tahu. Masalahnya, kuota sudah dihitung sesuai dengan kebutuhan nelayan yang memakai solar. Karena nelayan yang memakai solar itu nelayan besar, kalau nelayan yang menggunakan perahu kecil/penangkap ikan itu semua rata-rata mesin 13 HP. Nah nelayan yang di bawah 13 HP itu sudah kita sudah kasih mesin 975 mesin. Dan nilai 1 mesin itu Rp9,5 juta waktu 2018," ungkapnya.

Hal yang harus dilakukan sekarang, kata dia, nelayan yang memakai solar harus didata dengan benar.

"Sebenarnya kita harus mendata dengan benar, nelayan yang pakai solar itu berapa dan ini rata-rata mereka sebenarnya nelayan besar yang sebenarnya tidak perlu bersubsidi," bebernya.

"Nelayan yang memakai solar itu merupakan nelayan dengan kapal besar. Kenapa langka? Karena kapal besar, seharusnya mereka tidak memakai solar bersubsidi. Tapi kenyataannya masih banyak yang memakai solar bersubsidi," tambahnya.

Ia pun akan meminta Pertamina mengecek kelangkaan itu. Karena Badan Pengatur Hilir (BPH) Migas sudah mengatur kuota sesuai dengan data yang masuk. Berapa kebutuhan untuk Bulukumba.

"Ini harus lebih diteliti lagi, apakah nelayan besar yang menggunakan solar bersubsidi. Seharusnya mereka tidak memakai solar bersubsidi. Sebenarnya untuk nelayan besar yang minta solar itu ada administrasinya. Ada surat pengantar dari Dinas Perikanan," jelasnya.

Sebelumnya Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Bulukumba, Andi Alfian Mallihungan, merespons kelangkaan solar bagi nelayan di Pantai Merpati. Ia mengakui ada persoalan teknis yang membuat pasokan bahan bakar terhambat.

Alfian Mallihungan mengaku, SPDN milik dinas perikanan yang ada saat ini dalam masa perbaikan. Pompanya pun sudah diganti dan diupayakan agar segera beroperasi.

Ia membeberkan, SPDN di kota memang hanya ada satu. Sementara, SPDN lain yang terletak di kecamatan Bonto Bahari dan Kajang, tetap beroperasi untuk para nelayan.

"Saat ini kita sudah mengeluarkan rekomendasi untuk pembangunan SPDN baru di kecamatan Herlang dan Bontotiro," kata Alfian.

Pihaknya, kata Alfian, telah berkoordinasi dengan pihak SPBU yang ada di kota Bulukumba. SPBU juga berkoordinasi dengan Pertamina untuk penambahan kuota solar.

Sebelumnya, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Bulukumba meminta pemerintah turun tangan memberikan solusi atas kelangkaan solar bagi nelayan.

"Kita harap pemerintah segera mengambil langkah tegas, berhubung karena menimbulkan keresahan di kalangan nelayan khususnya di Pantai Merpati," kata Alfian Hardani, Ketua PMII Bulukumba.

Sementara itu, nelayan di Pantai Merpati Bulukumba, H Muhammad Nur, mengatakan, kondisi kelangkaan solar merugikan mereka. Bahkan berimbas kepada stok es yang telah dibeli.

Ia menerangkan, ada ratusan nelayan yang terdampak kelangkaan solar ini. Termasuk juga nelayan-nelayan kecil yang menggunakan perahu katinting.