SUMUT, PEDOMANMEDIA - Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) bersama tim gabungan Polda Sumatera Utara melakukan pemusnahan lima hektare ladang ganja di Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara, pada Sabtu (31/10).
Kabid Pemberantasan dan Intelijen BNNP Sumut, Kombes Pol Josua Tampubolon, mengatakan bahwa penemuan ladang ganja ini berawal dari informasi masyarakat tentang adanya tanaman ladang ganja di Perbukitan Tor Sihite, Desa Rao-rao, Dolok Kecamatan Tambangan, Madina.
Selanjutnya, petugas melakukan penyelidikan di lokasi dengan melewati jalur terjal dan hutan perbukitan dengan waktu tempuh sekitar 6 jam dengan ketinggian 1.170 MDPL.
Kemudian, petugas menemukan dua titik ladang ganja yang diperkirakan luasnya sekitar 5 hektare.
"Tim berhasil menemukan dua titik ladang ganja dengan luas keseluruhan diperkirakan 5 hektare," kata Josua dalam keterangannya, Minggu (1/11).
Josua menuturkan, dua titik ladang ganja tersebut berada dalam jarak yang berdekatan. Titik pertama ditemukan ladang ganja seluas 4,5 hektare dan titik kedua berjarak 10 meter ditemukan ladang ganja seluas 0,5 hektare.
BNNP Sumut bersama tim gabungan kemudian melakukan pemusnahan ladang ganja tersebut.
"Selanjutnya tim melaksanakan pemusnahan seluruh ladang ganja yang ditemukan dengan cara dicabut dan dibakar sampai habis," ujar Josua.
Dalam 5 hektare ladang ganja tersebut, sebanyak 150.000 batang ganja dengan jarak tanam 75 sentimeter ditemukan. Jika dikonversikan, setiap batang diperkirakan memiliki berat 2 ons, maka keseluruhan batang ganja diperkirakan memiliki berat mencapai 30 ton.
Josua menuturkan, pihaknya telah mengantongi identitas pemilik ladang ganja tersebut dan saat ini dalam pengejaran.
"Iya, kita sudah kantongi nama-namanya ya. Tapi kan saat ini karena itu kan banyak masyarakat di situ ya. Jadi kita masih melakukan penyelidikan juga dan pengembangan," ucap Josua.
Menurutnya, saat petugas datang menuju lokasi, ditemukan pondok di sekitaran ladang ganja yang telah kosong.
"Kemarin kan ada kita duga, cuma engga di tempat karena itu kan gunung ya. Terus kemudian kita, dari pondok-pondok yang di situ kita lihat ada, siapa yang bangun kita tanya kan itu. Jadi intinya, dengan kepala desa kemarin sama tokoh-tokoh masyarakat di sanalah kita minta ikut juga membantu aktif. Iya (dalam pengejaran), karena waktu kita naik ke atas itu, kita lihat pondok-pondok mereka itu sudah kosong," ucap Josua.