Wujudkan Zero Sampah, DLH Wajo Paparkan 5 Agenda Lintas OPD
Kebiasaan sederhana ini diharapkan dapat berkembang menjadi budaya baru di tengah masyarakat, dimulai dari rumah sendiri, kemudian diterapkan di kantor.
WAJO, PEDOMANMEDIA - Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Wajo, A. Fakhrul Rijal B mengundang para sekretaris Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk duduk bersama. Pertemuan dimaksudkan untuk menyatukan langkah dalam mewujudkan pengelolaan sampah yang lebih baik di Kabupaten Wajo.
Andi Fakhrul mengatakan, ada lima agenda utama yang menjadi perhatian bersama dalam masalah sampah.
1. Mendukung Indonesia Zero Sampah 2029 dan Gerakan Indonesia Asri
Mendukung arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto dalam mewujudkan Indonesia Zero Sampah 2029, dengan mendorong agar seluruh sampah dapat terkelola secara optimal, mulai dari sumbernya hingga di tempat pemrosesan akhir (TPA).
Hal ini juga sejalan dengan semangat Gerakan Indonesia Asri melalui pembiasaan hidup bersih, pengurangan timbulan sampah, pemilahan, serta pengolahan sampah secara bertanggung jawab.
2. Mewujudkan Wajo Bersih, Sehat, dan Hijau
Mewujudkan Kabupaten Wajo yang bersih, sehat, hijau, resik, dan indah membutuhkan keterlibatan seluruh pihak. Pengelolaan sampah harus dimulai dari rumah tangga, perkantoran, sekolah, tempat usaha, warkop, kafe, hotel, pasar, hingga fasilitas umum lainnya.
3. Implementasi Perda Kabupaten Wajo Nomor 8 Tahun 2022 tentang Pengelolaan Sampah
Peraturan daerah tersebut menjadi salah satu landasan dalam mendorong pengelolaan sampah yang bertanggung jawab. Karena itu, diperlukan kesadaran dan komitmen seluruh OPD, masyarakat, serta dunia usaha untuk membiasakan pemilahan dan pengolahan sampah sejak dari sumbernya.
4. Mendukung Pelepasan Sanksi TPA Cempalagi
Pembenahan pengelolaan sampah dari sumbernya hingga ke TPA menjadi bagian penting dalam upaya perbaikan pengelolaan TPA Cempalagi. Sampah yang masih dapat dimanfaatkan perlu dipilah dan diolah, sehingga sampah yang masuk ke TPA semakin terkendali dan diutamakan berupa sampah residu.
5. Bersama Menuju Adipura Tahun 2026
Persiapan penilaian Adipura tidak cukup hanya dengan membersihkan jalan dan mengangkut sampah. Diperlukan perubahan perilaku secara menyeluruh, mulai dari pengurangan sampah, pemilahan, pengolahan sampah organik, pemanfaatan sampah anorganik, hingga pemeliharaan kebersihan lingkungan secara berkelanjutan.
Pisota Menjadi Gerakan Bersama
Untuk mendukung seluruh agenda tersebut, DLH Kabupaten Wajo mengajak seluruh OPD dan elemen masyarakat menyukseskan Gerakan PISOTA: Pilah Sampahta, Olah Sampahta, Tanami Pekaranganta.
PISOTA merupakan gerakan bersama yang mendorong pemerintah, masyarakat, dunia usaha, lembaga pendidikan, dan berbagai elemen lainnya agar mengambil peran nyata dalam pengelolaan sampah.
Penekanannya sederhana, tetapi harus dilaksanakan secara konsisten: setiap rumah, kantor, sekolah, dan tempat usaha harus mulai memilah dan mengolah sampah dari sumbernya.
Dalam pelaksanaan Gerakan PISOTA, DLH Kabupaten Wajo merekomendasikan dua sarana sederhana yang dapat diterapkan sesuai kondisi masing-masing:
1. Biopori untuk sampah makanan dan sampah dapur
Setiap rumah dan tempat kegiatan diharapkan menyediakan sarana pengolahan sampah organik, khususnya sisa makanan dan sampah dapur, agar dapat dimanfaatkan menjadi kompos. DLH merekomendasikan penggunaan ember biopori atau model biopori lainnya yang sesuai.
2. Karung waring untuk botol plastik
Setiap rumah, kantor, sekolah, dan tempat usaha diharapkan menyediakan wadah khusus untuk mengumpulkan botol plastik agar tidak bercampur dengan sampah lainnya. DLH merekomendasikan karung waring atau wadah lain yang sesuai, sehingga botol plastik dapat dikumpulkan dan disalurkan untuk dimanfaatkan kembali atau didaur ulang.
Sebagai bagian dari Gerakan PISOTA, DLH Kabupaten Wajo juga mendorong Gerakan SURAT KAWAN BIOPORI, singkatan dari Satu Rumah Satu Karung Waring dan Biopori.
Gerakan ini mengajak setiap rumah tangga membiasakan dua langkah nyata: menyediakan biopori untuk pengolahan sampah organik dan menyediakan karung waring untuk mengumpulkan botol plastik.
Kebiasaan sederhana ini diharapkan dapat berkembang menjadi budaya baru di tengah masyarakat, dimulai dari rumah sendiri, kemudian diterapkan di kantor, sekolah, tempat usaha, dan lingkungan masing-masing.
Kadis DLH Kabupaten Wajo mengajak seluruh sekretaris OPD dan jajaran perangkat daerah untuk menjadi pelopor serta memberikan contoh nyata kepada masyarakat.
“Mari kita belajar dan bergerak bersama melalui Gerakan PISOTA. Mulai dari diri sendiri, mulai dari rumah sendiri, dan mulai dari lingkungan kerja kita. Sampah harus dipilah dan diolah sejak dari sumbernya, bukan semuanya dibuang ke TPA," jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah memerlukan keterlibatan seluruh pihak. DLH tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan OPD, pemerintah kecamatan, pemerintah desa dan kelurahan, dunia usaha, lembaga pendidikan, serta masyarakat.
“Kebersihan bukan tanggung jawab DLH semata, tetapi tanggung jawab kita semua. Dengan kebersamaan dan tindakan nyata, kita optimistis dapat mewujudkan Wajo Bersih, Sehat, dan Hijau, mendukung Indonesia Zero Sampah 2029, memperbaiki pengelolaan TPA Cempalagi, serta mempersiapkan diri menuju Adipura 2026," imbuh Fakhrul.
- 1
- 2
- 3
- 4
- 5
