Militer Myanmar Bombardir Pasar, 50 Orang Tewas
Korban tewas merupakan warga sipil, termasuk pedagang pasar, pembeli, orang yang sedang melintas, dan pekerja bongkar muat.
MYANMAR, PEDOMANMEDIA - Serangan udara militer Myanmar menghantam sebuah pasar ramai di Kota Kyauktaw, Negara Bagian Rakhine, pada Senin (28/9), menewaskan sedikitnya 50 orang dan melukai 58 lainnya.
Dua pekerja bantuan lokal mengatakan pada Selasa (29/9), jumlah korban tewas masih berpotensi bertambah karena sejumlah jenazah hilang dalam kebakaran yang terjadi setelah serangan.
“Jumlah korban tewas telah mencapai 50 orang dan 58 lainnya terluka,” kata pekerja bantuan lokal Wai Hun Aung, seperti dikutip AFP.
Serangan terjadi sekitar tengah hari waktu setempat atau pukul 12.00, ketika kawasan pusat perdagangan di tepi sungai itu sedang ramai oleh pedagang dan warga.
Kelompok pemberontak Arakan Army (AA) yang menguasai wilayah tersebut sebelumnya melaporkan 49 orang tewas dan 58 lainnya terluka, termasuk 22 korban dalam kondisi kritis.
Para pelayat menyaksikan jenazah para korban dibaringkan di pemakaman sebelum dimakamkan setelah serangan udara militer di pasar dan jembatan yang berdekatan di Kyauktaw, negara bagian Rakhine Barat, Myanmar, Senin (28/9/2026). Foto: AFP
Menurut AA, korban tewas merupakan warga sipil, termasuk pedagang pasar, pembeli, orang yang sedang melintas, dan pekerja bongkar muat.
Militer Myanmar belum memberikan komentar terkait serangan tersebut.
Pasar dan jembatan di dekatnya menjadi pusat perdagangan penting sejak perang saudara pecah setelah kudeta militer pada 2021. Jalur perdagangan sungai menuju India bahkan menjadi salah satu sumber kehidupan bagi masyarakat di Rakhine yang sebagian besar wilayahnya terisolasi akibat konflik.
Rakhine merupakan salah satu wilayah yang terdampak paling parah oleh perang. Data PBB menunjukkan hampir 500 ribu orang masih mengungsi akibat konflik, sementara pemantau konflik ACLED memperkirakan lebih dari 100 ribu orang tewas di Myanmar sejak kudeta 2021 yang menggulingkan pemerintahan terpilih Aung San Suu Kyi.
- 1
- 2
- 3
- 4
- 5
