Muh. Syakir : Selasa, 09 Maret 2021 07:03
Ilustrasi (int)

JAKARTA, PEDOMANMEDIA - Corona varian Inggris yang ditemukan di Indonesia dua pekan lalu, diduga telah menyebar ke sejumlah provinsi. Jika angkanya tak terkendali sampai 3 bulan ke depan, rencana belajar tatap muka memungkinkan batal.

"Kasusnya memang sudah ada. Kita sedang observasi sekarang bagaimana tingkat risikonya pada manusia. Tapi penyebarannya lebih cepat dari covid-190," jelas Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Senin (8/3/2021).

Menurut Menkes, soal dampaknya yang bisa membatalkan rencana belajar tatap muka masih akan dilihat sampai Mei dan Juni nanti. Jika tingkat penyebarannya dianggap berisiko tinggi maka akan dipertimbangkan kembali.

"Kita observasi berdasarkan kemungkinan dan risikonya. Kita lihat dalam dua bulan ke depan," jelasnya.

Menkes mendorong agar prokes tetap diperketat. Karena itu menjadi faktor pencegahan paling efisien saat ini. Termasuk vaksin yang harus memenuhi target rampung hingga akhir 2021.

Terkait rencana pembukaan sekolah Juli nanti, Presiden Joko Widodo mengatakan, sedikitnya 5 juta guru masuk menjadi prioritas agar belajar tatap muka bisa dimulai awal semester mendatang

"Vaksinasi untuk guru masuk dalam prioritas sampai Juli nanti. Kita target 5 juta guru terakomodir. Dengan begitu belajar tatap muka sudah bisa dimulai awal semester nanti, " kata Jokowi.

Sejumlah gubernur juga menyampaikan harapan soal kepastian belajar tatap muka. Sebelumnya pemerintah mempertimbangkan kembali rencana pembelajaran tatap muka, April nanti. Ini setelah dari hasil kalkulasi harian, kasus Corona diprediksi akan mencapai ledakan baru pada Mei nanti.

Plt Gubernur Sulsel Sudirman Sulaeman mengatakan, pemerintah belum punya target soal pembelajaran tatap muka. Ia akan menunggu sampai vaksinasi sudah mencapai target.

"Soa target April kan masih ancang ancang. Kalau kasusnya masih laju, saya kira target kita evaluasi lagi. Kalau vaksinasi untuk guru tercapai kemungkinan kita kaji," terang NA.

Sebelumnya pemerintah memberi rekomendasi dimulainya pembelajaran tatap muka Januari 2021. Namun rencana itu ditunda menyusul naiknya kembali angka kasus Corona di Tanah Air.

Selain itu mutasi baru Corona yang sedang menyerang Eropa juga menjadi kekhawatiran. Di Eropa, Corona dengan varian baru menyebar dengan cepat. Wabah ini bahkan sudah ditemukan di Indonesia

Menurut Sudirman, sebelum pembelajaran tatap muka dibuka, harus memenuhi semua pertimbangan keamanan. Aman bagi siswa, pengajar dan lingkungan. Harus juga dipastikan, penerapan protokol kesehatan di sekolah benar benar berjalan sebagaimana mestinya.

Ia menjelaskan bahwa, hal yang harus dipahami bersama adalah upaya dalam memutus mata rantai Covid-19. Pengalaman yang ada, Sulsel berada di urutan ke lima jumlah kasus Covid-19. Bahkan tertinggi di luar Pulau Jawa.

Saat ini Sulsel sudah zona hijau. Untuk mempertahankan semua ini potensi munculnya klaster baru harus bisa dihentikan. Salah satunya lingkungan sekolah.