Jusrianto : Minggu, 07 Maret 2021 19:57
Direktur PDAM Wajo Andi Dedhy.

WAJO, PEDOMANMEDIA - Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Wajo mencatat, pelanggan PDAM yang menunggak pembayaran mencapai Rp2,1 miliar. Meskipun begitu, angka ini mengalami penurunan dari Rp3,2 miliar.

Direktur PDAM Wajo Andi Dedhy Ahmad Iqbal mengatakan, sejauh ini sudah ada penurunan jumlah tunggakan PDAM Wajo dari sebelumnya Rp3 milliar lebih menjadi Rp2,1 miliar lebih.

Namun ia tidak terlalu merincikan jumlah pelanggan yang melakukan tunggakan dan begitu juga soal rata-rata tunggakan pelanggan dan termasuk jumlah sambungan yang dimaksud serta total jumlah yang telah dilakukan pemutusan sambungan pelanggan PDAM.

"Di 2021 ini, kami break ikut program MBR karena idal capacity sudah tidak memungkinkan lagi dengan kapasitas mesin produksi dan tahun ini kami fokus untuk membenahi infrastruktur," ungkapnya.

"Kami berencana ikut lagi program MBR di tahun 2022 setelah kondisi di lapangan (infrastruktur) kembali membaik. Bagi saya untuk sementara PDAM tidak perlu dulu menjadi perusahaan profit oriented, biarkan berfungsi sosial. Air lancar mengalir setiap hari," sambungnya.

Selama ia menjabat sebagai Direktur PDAM sudah ada kemajuan progresif, tim teknis dan distribusi setiap hari melakukan pembenahan, mendeteksi setiap masalah di lapangan dan melakukan maintenance jalur-jalur distribusi.

"Salah satunya adalah Grand Hill 3 yang dulunya sangat susah mendapatkan pelayanan air bersih, sekarang tidak lagi mengalami kondisi tersebut. Jadwal pendistribusian telah lancar 90% dan jika ada masalah dengan pendistribusian, penyebabnya ada pada jaringan. Biasanya kalau kondisi seperti itu, masalahnya ada pada pipa pelanggan yang masuk ke rumah," jelasnya.

"Dan apabila kalau ada komplain atau keluhan seperti tersebut, harap disertakan nama dan alamat yang jelas agar tim distribusi segera ke rumah pelanggan yang bersangkutan untuk diperbaiki," tambahnya.

Untuk saat ini, kata doa jika dibandingkan dengan jumlah total pelanggan PDAM 18.500 lebih, itu dianggap sudah tidak seimbang dengan kapasitas produksi air yang hanya 250 liter/detik. Padahal itu untuk melayani sekitar 8 kecamatan yakni Kecamatan Tempe, Sabbangparu, Pammana, Bola, Tanasitolo, Pitumpanua, Keera, dan Belawa.

“Nah ini yang perlu sekarang kita tingkatkan produksinya agar bisa terwujud dan bisa seimbang serta dapat mengalir 24 jam nonstop. Ideal kalau sudah capai 450 liter/detik,” terang Dedhy.

Namun diakuinya, membutuhkan anggaran besar untuk merealisasikan hal tersebut. Karena itu, dia akan mengusulkan ke pusat untuk mendapatkan bantuan dana hibah melalui Kementerian PUPR.

“Kita akan coba usulkan dan maksimalkan untuk tiga IKK masuk wilayah kota yaitu IKK Tempe, Pammana, dan Tanasitolo. Itu dengan estimasi sekitar kurang lebih Rp20 milliar. Jika terwujud kami dapat pastikan dan menjamin ketersediaan dalam kota secara 24 jam nonstop,” tandasnya.