Senin, 29 Juni 2026 19:21

Anwar Hafid Ajak Kampus Jadi Mitra Strategis Wujudkan Sulteng Nambaso

Anwar Hafid Ajak Kampus Jadi Mitra Strategis Wujudkan Sulteng Nambaso

Ia optimistis sinergi antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi akan mempercepat terwujudnya visi Sulteng Nambaso.

PALU, PEDOMANMEDIA – Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid, menegaskan bahwa pembangunan sumber daya manusia (SDM) menjadi fondasi utama untuk mewujudkan visi Sulteng Nambaso. Penegasan itu ia sampaikan saat menjadi pembicara dalam Kuliah Tamu bertema “Kampus Berdampak untuk Sulteng Nambaso: Inovasi, Riset, dan Pengabdian dalam Mendukung Transformasi Daerah” di Aula Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat (UNISA) Palu.

Kuliah tamu tersebut dihadiri Rektor Universitas Alkhairaat Muhammad Yasin, para dosen, mahasiswa, serta sivitas akademika.

Di hadapan peserta, Anwar Hafid mengajak perguruan tinggi mengambil peran strategis dalam mengatasi berbagai persoalan pembangunan di Sulawesi Tengah. Menurutnya, kemajuan daerah tidak akan tercapai hanya melalui pembangunan fisik, tetapi harus dimulai dari peningkatan kualitas manusianya.

Baca Juga

“Sulawesi Tengah hanya akan menjadi daerah yang besar jika memiliki sumber daya manusia yang hebat,” tegas Anwar.

Anwar menjelaskan bahwa lahirnya visi Sulteng Nambaso berawal dari hasil kajian terhadap berbagai indikator pembangunan manusia.

Pemerintah Provinsi menemukan fakta bahwa sekitar 50 persen lulusan SMP tidak melanjutkan ke SMA, sementara sekitar 50 persen lulusan SMA juga tidak mampu melanjutkan ke perguruan tinggi. Setiap tahun terdapat sekitar 12 ribu lulusan SMA di Sulawesi Tengah yang menghadapi persoalan tersebut.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan angka harapan lama sekolah masyarakat Sulawesi Tengah baru mencapai sekitar sembilan tahun. Artinya, rata-rata penduduk berusia 25 tahun ke atas hanya mengenyam pendidikan hingga tingkat SMP.

Menurut Anwar, akar persoalan tersebut bukan karena rendahnya minat belajar, melainkan keterbatasan ekonomi keluarga.

“Kami telusuri penyebabnya. Kami bertanya langsung kepada masyarakat mengapa anak-anak mereka tidak melanjutkan sekolah. Jawaban yang paling dominan adalah karena biaya pendidikan,” katanya.

Dari hasil kajian tersebut lahirlah konsep Nambaso, yang dimaknai sebagai Anak Miskin Bisa Sekolah. Filosofi itu kemudian berkembang menjadi visi besar pembangunan daerah, yakni menjadikan Sulawesi Tengah sebagai daerah besar melalui pembangunan manusia.

Untuk mewujudkan visi tersebut, Anwar bersama Wakil Gubernur dr. Reny Lamadjido menyusun strategi pembangunan yang dinamakan 9 Berani.

Menurutnya, “Berani” bukan sekadar slogan, melainkan singkatan dari Bersama Anwar-Reny, yang menjadi sembilan program prioritas pemerintahan.

Anwar menjelaskan bahwa strategi tersebut lahir setelah pemerintah memetakan sejumlah persoalan mendasar di Sulawesi Tengah, mulai dari kemiskinan, rendahnya tingkat pendidikan, tingginya pengangguran, hingga dominasi lapangan kerja sektor informal.

Saat ini angka kemiskinan Sulawesi Tengah telah turun dari sekitar 11 persen menjadi sekitar 10 persen dalam satu tahun pemerintahan. Pemerintah menargetkan penurunan hingga lima persen dalam lima tahun ke depan sehingga ratusan ribu masyarakat dapat keluar dari garis kemiskinan.

Di bidang pendidikan, pemerintah menargetkan peningkatan rata-rata lama sekolah dari sembilan tahun menjadi 12 tahun, sehingga masyarakat Sulawesi Tengah minimal menyelesaikan pendidikan hingga SMA.

Sementara di sektor ketenagakerjaan, pemerintah berupaya mendorong pergeseran tenaga kerja dari sektor informal menuju sektor formal agar masyarakat memperoleh pekerjaan yang lebih layak dan berkelanjutan.

Program pertama adalah Berani Cerdas, yang difokuskan untuk memastikan seluruh anak Sulawesi Tengah memperoleh akses pendidikan.

Anwar menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak boleh menyerah pada alasan keterbatasan kewenangan.

Ia menilai pendidikan tinggi juga merupakan urusan konkuren yang memungkinkan pemerintah daerah memberikan dukungan pembiayaan.

Karena itu, Pemerintah Provinsi menghadirkan berbagai bantuan pendidikan, mulai dari dukungan untuk SMA/SMK hingga mahasiswa. Pemerintah juga mengalokasikan Bantuan Operasional Sekolah Daerah (Bosda) sebagai pelengkap dana BOS dari pemerintah pusat sehingga sekolah tidak lagi membebani orang tua dengan berbagai pungutan.

“Saya punya keyakinan, Sulawesi Tengah hanya akan maju jika pendidikannya maju,” ujarnya.

Program kedua adalah Berani Sehat, yang bertujuan mengurangi beban masyarakat dalam memperoleh layanan kesehatan.

Anwar mengungkapkan masih banyak warga Sulawesi Tengah yang belum terlindungi jaminan kesehatan, terutama mereka yang kehilangan pekerjaan atau tidak lagi mampu membayar iuran BPJS.

Melalui Berani Sehat, masyarakat tetap dapat memperoleh pelayanan kesehatan menggunakan KTP sesuai mekanisme yang berlaku.

Program tersebut merupakan pengembangan pengalaman Anwar saat memimpin Kabupaten Morowali, yang saat itu memberikan jaminan pembiayaan kesehatan bagi seluruh masyarakat.

Sepanjang tahun 2025, tercatat sekitar 183 ribu warga Sulawesi Tengah telah memanfaatkan program Berani Sehat.

Anwar juga memaparkan program prioritas lainnya, mulai dari Berani Lancar untuk mempercepat pembangunan jalan provinsi melalui skema pembiayaan bertahap, Berani Menyala untuk memperluas akses listrik hingga ke desa-desa terpencil, Berani Bergerak melalui penyediaan internet satelit Starlink di desa-desa blank spot, hingga Berani Panen Raya yang mendorong peningkatan produktivitas pertanian dan pengembangan komoditas unggulan seperti durian, kopi, dan padi.

Pemerintah juga menjalankan Berani Tangkap dengan memberikan bantuan alat tangkap modern bagi nelayan serta Berani Berkah, yaitu penguatan tata kelola pemerintahan yang berlandaskan nilai-nilai spiritual dan kearifan lokal.

Menurut Anwar, keberhasilan sebuah pemerintahan tidak hanya ditentukan oleh kebijakan ekonomi, tetapi juga oleh integritas para pemimpinnya.

“Saya meyakini keberkahan akan hadir jika pemerintahan dibangun di atas nilai-nilai spiritual dan kearifan lokal,” katanya.

Pada akhir kuliah tamu, Anwar mengajak seluruh perguruan tinggi menjadi mitra strategis pemerintah daerah.

Ia menawarkan agar setiap kampus memiliki desa binaan dan mengarahkan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) untuk melakukan needs assessment atau pemetaan kebutuhan masyarakat secara langsung dari rumah ke rumah.

Menurutnya, mahasiswa tidak perlu lagi berfokus pada pembangunan fisik yang bersifat sementara, melainkan menghasilkan riset yang mampu menjadi dasar penyusunan kebijakan pemerintah.

“Mahasiswa harus hadir mendengar langsung kebutuhan masyarakat. Dari situlah lahir rekomendasi yang benar-benar dibutuhkan daerah,” ujarnya.

Ia optimistis sinergi antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi akan mempercepat terwujudnya visi Sulteng Nambaso, yaitu Sulawesi Tengah yang maju melalui pembangunan sumber daya manusia, riset, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat.

Penulis : Faizal

Editor : Muh. Syakir
#Pemprov Sulteng #Gubernur Sulteng Anwar Hafid
Berikan Komentar Anda