Rabu, 03 Maret 2021 18:03

Tunjangan Pensiun ASN Rp1 M Masih Digodok, Kemenpan: Bisa ya, Bisa Batal

Tjahjo Kumolo
Tjahjo Kumolo

Soal jadi tidaknya semua skema itu akan sangat bergantung pada kondisi keuangan negara. Saat ini pandemi masih menyedot hampir 70 persen anggaran belanja.

JAKARTA, PEDOMANMEDIA - Pemerintah tengah mengkaji penerapan tunjangan pensiun ASN sebesar Rp1 miliar. Hanya saja kebijakan ini masih terganjal banyak problem nonteknis, hingga bisa saja batal.

"Sedang kita pertimbangkan untuk diterapkan. Kami sudah komunikasi dengan Taspen. Kemungkinan ke sana tetap ada," ujar Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Tjahjo Kumolo dalam keterangan, Rabu (3/3/2021).

Tjahjo mengatakan, hasil diskusi dengan Taspen ada peluang mewujudkan tunjangam pensiun sampai Rp1 miliar. Bahkan sudah ada persetujuan Kemenkeu. Sayangnya, gelombang pandemi 2020 membuat rencana itu ditunda.

Baca Juga

Ia mengaku tidak tahu apakah rencana itu bisa direalisasikan kembali atau tidak. Pasalnya dampak pandemi terhadap perekonomian nasional sangat dalam.

Sehingga ada kemungkinan tak terealisasi. Tapi juga mungkin tidak dalam masa tertentu.

"Termasuk tunjangan kinerja yang harusnya kami targetkan tahun ini sudah selesai semua, minimal gaji pokok ditambah 80% tunjangan kinerja, dan lain-lain, saya kira sudah cukup. Cuma karena pandemi COVID-19 saya kira berat," imbuhnya.

Menurut Tjahjo, soal jadi tidaknya semua skema itu akan sangat bergantung pada kondisi keuangan negara. Saat ini pandemi masih menyedot hampir 70 persen anggaran belanja.

"Ini yang menyulitkan kita. Nda mungkin dipaksakan. Karena ini menyangkut keberlangsungan hidup masyarakat. Semua harus dipertimbangkan," imbuhnya.

Apalagi saat ini utang luar negeri Indonesia terus membengkak. Per Januari 2021 sudah menyentuh Rp6.000 triliun.

Ekonom mengkritik utang yang kian membengkak. Situasi ini dinilai sebagai pangkal makin terpuruknya daya beli masyarakat. Ini juga salah satu penyebab tunjangan pensiun ASN ditunda.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menilai pertumbuhan utang Indonesia masih lebih normal dibanding negara negara maju di Eropa. Analogi perbandingan Menkeu ini dinilai sesat.

"Sangat tidak tepat analogi perbandingannya. Indonesia dibandingkan dengan Eropa. Amerika. Potensi masalahnya beda. Percepatan pemulihan ekonomi Eropa dan Indonesia juga sangat jauh. Jadi sesat pemikiran itu," terang pengamat ekonomi Sjamsul Ridjal.

Sri menyebut kontraksi ekonomi RI lebih baik. Ada negara yang lebih baik seperti Vietnam, China, dan Korea Selatan. Namun hampir sebagian besar negara G20 atau negara ASEAN terjatuh lebih dalam dari Indonesia.

Termasuk beberapa negara Eropa dan Amerika. Soal utang luar negeri RI yang sudah melampaui Rp6.000 triliun, Menurutnya, angka ini juga masih terbilang lebih baik dibanding negara negara maju.

Indonesia tumbuh di bawah 6% per tahun. Sementara Amerika dan beberapa negara Eropa di atas 10%.

Menurut Sjamsu, di sinilah kekeliruannya. Membandingkan dua negara dengan asas masalah yang berbeda. Indonesia terjerat utang bukan hanya karena Corona. Indonesia sudah mencatat grafik kenaikan utang jauh sebelum pandemi.

Utang pemerintah RI per Desember 2020 menyentuh level Rp 6.074 triliun. Angka ini melejit Rp 136,92 triliun hanya dalam tempo satu bulan.

Editor : Muh. Syakir
#Menpan RB Tjahjo Kumolo #Tunjangan Pensiun ASN #Menkeu Sri Mulyani
Berikan Komentar Anda