Jumat, 08 Mei 2026 20:47

Polisi Gerebek Markas Sindikat Scamming di Surabaya, WN Jepang-China Ditangkap

Polisi Gerebek Markas Sindikat Scamming di Surabaya, WN Jepang-China Ditangkap

Sebelum melakukan aksinya, para pelaku tersebut telah mempunyai data para korban.

SURABAYA, PEDOMANMEDIA - Polisi menggerebek salah satu rumah di Kota Surabaya pada April 2026 kemarin. Rumah tersebut dijadikan markas sindikat penipuan daring atau online scamming warga China dan Jepang.

Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Edy Herwiyanto, mengatakan para pelaku yang digerebek merupakan warga asing dari China dan Jepang. Mereka menjalankan aksinya di beberapa tempat di Indonesia, termasuk di Surabaya.

Para pelaku ini menyamar sebagai anggota kepolisian China dan Jepang untuk melakukan teror kepada para korban WN China yang tinggal di Jepang dan China.

"Di Surabaya, ada di Solo, ada di Bali, ini jaringan internasional," kata Edy saat dihubungi wartawan, Jumat (8/5).

"Korbannya itu dari warga China dan Jepang. Dia itu menghubungi korban yang ada China dan Jepang. Seolah-olah dia itu sebagai anggota kepolisian China, kepolisian Jepang, tergantung perannya masing-masing," tambahnya.

Sebelum melakukan aksinya, para pelaku tersebut telah mempunyai data para korban.

Setelah itu, mereka menghubungi para korban dengan menipu dan mengancam untuk menyerahkan uang atau tabungannya ke para pelaku.

"Dia kan mendeteksi dulu nomor rekeningnya. Mungkin dia ngomong sama korban uang yang ada di tabungannya itu adalah bagian dari uang TPPU [pencucian uang], hasil kejahatan dan sebagainya. Kemudian dia mengaku sebagai karyawan ekspedisi yang ada di China sana yang ada di Jepang. Dia modusnya itu melakukan penipuan," ujarnya.

"Iya uang korban dikuras. Nanti pembayarannya dengan kripto dan sebagainya. Ini jaringan internasional," imbuhnya.

Namun, Edy belum bisa mengidentifikasi berapa jumlah korban scamming ini. Sejauh ini, tidak ada warga Indonesia yang menjadi korban modus tersebut.

"Kita bekerja sama dengan kepolisian Jepang dan China. Kalau korbannya dari Indonesia tidak ada. Korbannya warga China yang ada di China dan Jepang. Kegiatannya dilakukan di Indonesia, di Surabaya," jelas Edy.

 

Editor : Muh. Syakir
Berikan Komentar Anda