JAKARTA, PEDOMANMEDIA - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menilai kontraksi ekonomi akibat pandemi masih relatif terkendali. Indonesia berada di level moderat dibanding banyak negara maju yang merasakan imbas lebih dalam.
"Ada negara yang lebih baik dari kita seperti Vietnam, China, dan Korea Selatan. Namun hampir sebagian besar negara G20 atau negara ASEAN mereka jauh lebih dalam dampak perekonomiannya akibat pukulan Covid-19,” kata Sri Mulyani dalam Rapim TNI-Polri 2021 seperti dilansir Kompas.com dari Antara, Selasa (15/2/2021).
Sri Mulyani juga menyinggung soal utang luar negeri RI yang sudah melampaui Rp6.000 triliun. Menurutnya, angka ini juga masih terbilang lebih baik dibanding negara negara maju. Indonesia tumbuh di bawah 6% per tahun. Sementara Amerika dan beberapa negara Eropa di atas 10%.
"Kita masih lebih baiklah. Pertumbuhan kita kira kira 6% per tahun. Negara maju seperti Eropa dan Amerika banyak yang tumbuh 10%," terang Sri.
Utang pemerintah RI per Desember 2020 menyentuh level Rp 6.074 triliun. Angka ini melejit Rp 136,92 triliun hanya dalam tempo satu bulan.
Pada November 2020, utang RI masih di kisaran Rp 5.910 triliun. Kenaikan itu menjadi yang tertinggi sepanjang 2020 dilihat dari pertumbuhan per bulan.
Sri Mulyani menuturkan selama ini pemerintah menetapkan langkah-langkah dengan mengutamakan prinsip kehati-hatian sehingga kontraksi ekonomi cukup moderat dan defisit APBN sebesar 6 persen, juga relatif lebih kecil dibanding negara lain yang di atas 10 persen.
Tak hanya itu, ia menyebutkan banyak negara maju yang utang pemerintahnya telah melampaui nilai Produk Domestik Bruto ( PDB) seperti AS sekitar 103 persen, Perancis lebih dari 118 persen, Jerman 72 persen dari PDB, China hampir 66 persen, dan India mendekati 90 persen.
Sementara itu, Indonesia juga mengalami kenaikan utang, namun rasio terhadap PDB di level 38,5 persen sehingga masih dalam posisi prudent dibandingkan negara maju dan ASEAN. Seperti Malaysia 66 persen, Singapura 131 persen, Filipina 54,8 persen dan Thailand 50 persen.
“Kita perkirakan (utang Indonesia) akan mendekati 40 persen dari PDB namun sekali lagi Indonesia masih relatif dalam posisi yang cukup hati-hati atau prudent,” tegas Sri Mulyani.
Meski demikian, Sri Mulyani menegaskan pemerintah akan terus memulihkan perekonomian nasional melalui APBN maupun instrumen lain termasuk dari sisi moneter.
Belanja APBN 2021 akan mencapai Rp 2.750 triliun meliputi belanja Kementerian/Lembaga (K/L) Rp 1.059 triliun, belanja non K/L Rp 910 triliun dan transfer ke pemerintah daerah mencapai Rp780 triliun.
“Ini lah yang menjadi bekal kita untuk terus menjaga pemulihan ekonomi nasional dan tetap menjaga kesehatan dari APBN dan perekonomian kita,” ujar Sri Mulyani.
BERITA TERKAIT
-
2023 Tahun Kelam, Sri Mulyani Optimistis RI tak Kena Resesi
-
Sri Mulyani: Belanja Rokok Orang Indonesia Tertinggi Kedua Setelah Beras
-
Sri Mulyani Warning Pertamina Soal Subsidi BBM: Membengkak Rp502 T
-
Sri Mulyani Sebut Jokowi Setujui Tarif Listrik Naik Lagi
-
Wakil Ketua MPR Sesalkan Sri Mulyani yang Sebut Utang Rp7.000 T Masih Aman