Oleh Aswar Hasan
Di HUT kemerdekaan ke-80, bangsa ini mestinya bergembira. Namun, justru sebuah pemandangan tak biasa memicu gelombang diskusi.
Di beberapa sudut negeri, bendera bajak laut dari serial One Piece, Jolly Roger, justru berkibar. Bagi mereka yang peka membaca tanda zaman, ini bukan sekadar kain bergambar tengkorak—melainkan cermin retak yang memantulkan wajah bangsa.
Undang-undang melarang pengibaran bendera selain Merah Putih dalam peringatan resmi. Lebih memprihatinkan adalah pelanggaran dari rasa bangga, rasa memiliki, dan rasa percaya kepada simbol-simbol negara.
Namun, jika sebuah karya fiksi terasa lebih jujur mewakili semangat perlawanan dibanding slogan-slogan resmi, maka itu pertanda narasi kebangsaan kita sedang keropos.
Di dunia One Piece, bajak laut bukan sekadar para bajak laut yang menjarah laut.
Mereka adalah figur yang menolak tunduk pada aturan timpang, dan lebih memilih mempertaruhkan nyawa demi kebenaran dan persahabatan. Mereka melawan penguasa yang licik, sistem yang berat sebelah, dan kekuasaan yang memelihara kepalsuan.
Entah kebetulan atau tidak, dunia fiksi itu justru terasa akrab bagi mereka yang bosan pada realitas yang diwarnai skandal tak tuntas, janji yang menguap, dan keputusan yang lebih berpihak pada meja elit ketimbang meja makan rakyat.
Kritik di negeri ini kini juga bertranformasi telah jarang berbentuk pekikan di jalan raya. Kini hadir dalam bentuk meme, mural, musik, bahkan bendera bajak laut yang kini ramai dibicarakan dan didiskusikan. Bahasa sindirannya dianggap lebih aman dan nyaman dibanding bahasa tuduhan.
Mungkin karena di negeri ini, kata-kata bisa dianggap lebih berbahaya daripada kesalahan itu sendiri. Itulah sebabnya, banyak orang memilih berbicara lewat simbol—karena simbol sulit dibungkam, dan seringkali lebih nyaring daripada mikrofon.
Mencuatnya fenomena seruan pengibaran bendera One Piece memicu pro-kontra di kalangan pejabat pusat dan daerah. Namun, Presiden Prabowo Subianto dianggap tidak merasa gusar dengan fenomena pengibaran bendera One Piece jika tujuannya sebagai bentuk kreativitas masyarakat (suara.com,9/8/2025).
Olehnya itu, Mensekneg Prasetyo Hadi menegaskan bahwa pemerintah tidak akan melakukan razia pengibaran bendera One Piece. Pemerintah menghargai simbol kritik yang ingin disampaikan melalui pengibaran bendera dari serial karya Eiichiro Oda itu. “Makna kritik enggak masalah”.
Pemerintah sangat terbuka. Kami menyadari banyak pekerjaan rumah yang perlu diperbaiki," kata dia.(Tempo.com,5/8/2025). Sayangnya, sikap presiden dan Mensekneg tersebut, tidak seragam di kalangan pejabat di pusat dan di daerah.
Dalam pada itu, menarik untuk disimak kritik karikatur yang mengelitik atas berubahnya simbol Panji Koming (karikatur kritik Kompas) menjadi mirip simbol di bendera one piece (Kompas,10/8/2025).
Bung Hatta pernah berkata, “Indonesia merdeka bukan untuk satu orang, satu golongan, tetapi untuk semua.”
Kalimat itu kini terdengar seperti surat cinta lama yang tersimpan di laci berdebu—indah dibaca, tapi tak terasa di pelukan sehari-hari. Bung Karno pun mengingatkan, “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah. Perjuangan kalian akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri.” Dan di sinilah kita: terjebak dalam perjuangan melawan ketidakpedulian yang pelan-pelan merampas makna kemerdekaan.
Ketika kritik hadir dalam melalui bendera Jolly Roger, berbentuk tengkorak bertopi jerami bersilangkan tulang, maka tugas negara bukan hanya menegur, tetapi juga bagaimana bisa mendengar. Sayangnya, mendengar adalah kemewahan komunikasi yang kini jarang dipraktikkan. Kita lebih suka menutup telinga sambil mengibarkan spanduk keberhasilan.
Mungkin, inilah ironi terbesar di tengah kemeriahan perayaan kemerdekaan kita, dimana ada generasi yang lebih memilih simbol bajak laut sebagai tanda perlawanan. Mereka tidak sedang menolak bendera bangsanya.
Tetapi mereka sedang mengingatkan bahwa kapal bangsa ini yang sedang berlayar, haluannya mulai salah arah. Dan seperti dalam cerita One Piece, awak kapal yang baik tidak diam melihat nakhodanya lupa tujuan pelayaran. Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
BERITA TERKAIT
-
UJUNG PENA: Ketika Negara Mengancam Rakyatnya dan Diperlakukan Sebagai Musuh
-
UJUNG PENA: Berani Karena Benar, Melawan Kebohongan Demi Kejujuran
-
UJUNG PENA: Jika Kebenaran Ditinggalkan Oleh Penguasa
-
UJUNG PENA: Ijazah Identik, Tapi Dipertanyakan Otentitasnya
-
UJUNG PENA: Surat Sakti untuk Anak Istri Menteri