MAKASSAR, PEDOMANMEDIA - Sektor otomotif terpukul hebat sejak pandemi. Untuk menggairahkan kembali penjualan, pemerintah menyetujui relaksasi PPnBM 0%. Nah, mampukah kebijakan ini mendongkrak market mobil dalam negeri?
"Saya rasa ada efeknya tapi tak begitu besar. Mungkin akan signifikan jika pandemi sudah berakhir. Kalau tidak, akan sulit memulihkan daya beli," terang Abdi Sumadi, pemerhati ekonomi marginal, Senin (15/2/2021).
Abdi mengatakan, dampak kebijakan PPnBM akan terlihat dalam 6 bulan ke depan. Parameter keberhasilan program ini akan terukur dalam rentan waktu itu karena sepenuhnya dalam 5 bulan ke depan konsumen masih memilih menahan uang.
Menurut Abdi, masih ada kekhawatiran situasi ekonomi akan memburuk. Akhirnya masyarakat memilih menahan konsumsi. Dan menunggu sampai situasi benar benar aman.
"Karena kita masih dalam bayang bayang resesi. Sampai sekarang ekonomi masih minus. Prediksinya paling banter naik sampai 2% April nanti," katanya.
Jika ramalan ekonomi itu meleset, situasinya akan lebih buruk. Kemungkinan PPnBM 0% tidak memengaruhi penjualan mobil.
Sebelumnya pelaku industri otomotif memperkirakan relaksasi pajak 0% untuk pembelian mobil baru tidak akan efektif jika waktunya dibatasi hanya 1 tahun. Kebijakan ini harusnya dibuat lebih panjang.
Marianto Boma, pelaku bisnis otomotif di Makassar mengatakan, butuh waktu panjang untuk menggairahkan kembali industri otomotif yang terpukul akibat Corona. Ia memperkirakan, kebijakan ini baru akan memberi pengaruh jika diberlakukan paling singkat 1 tahun.
“Soalnya kan sekarang resesi. Daya beli menurun sekali. Apalagi kan kita belum tahu apakah 2021 pandemi sudah berakhir. Kalau belum, artinya daya beli kendaraan itu masih akan turun,” paparnya.
Kebijakan relaksasi ini memang diragukan banyak pihak bisa mendongkrak sektor otomotif. Pasalnya, daya beli masyarakat memang sedang menurun dengan presesi tajam. Relaksasi hanya akan sedikit mendorong naiknya daya beli.
Marianto melihat, penjualan mobil baru bisa terpukul sampai pertengahan 2022. Ini adalah prediksi lebih cepat jika pemerintah mampu mengakhiri resesi pertengahan tahun ini.
BERITA TERKAIT
-
Pasar Otomotif RI Lesu di 2024, Sulit Pulih Lebih Cepat
-
Raksasa Otomotif Nissan di Ambang Kolaps, akan PHK 9.000 Karyawan
-
Gaya Wuling Cloud EV yang Futuristik, Harganya Tembus Rp500 Juta
-
Luhut Sampaikan Tren Kasus Corona Turun Signifikan, RI di Ujung Pandemi?
-
Kia Carens Dipesan 7.000 Unit Sehari, Bakal Jadi Raja Baru MPV?