UJUNG PENA: Fasih Retorika tapi Gagap Empati
Tanpa empati, kita akan terus bicara tentang perubahan iklim sambil menyalakan AC penuh di gedung kaca.
Oleh Aswar Hasan
Gunawan Mohamad pernah menyentil kita dengan tajam; "Kita adalah bangsa yang pandai menyusun retorika, tapi sering gagap dalam empati." Kalimat itu bukan sekadar sindiran yang menyayat hati kita, tapi merupakan jarak pemisah yang mengungkapkan jurang antara apa yang kita ucapkan dan apa yang kita lakukan. Retorika dan empati, adalah dua unsur penting dalam kehidupan berbangsa, kita seolah berjalan di rel yang tak pernah bersentuhan.
Betapa banyak seminar digelar dengan tema bombastis: “sustainability”, “ekonomi hijau”, “transformasi energi bersih”. Bertempat di ruangan pendingin yang menyala penuh, proyektor pun menampilkan data tentang krisis iklim, dan mereka para pembicara itu, menyebut angka-angka karbon sambil menyeruput kopi.
Ironisnya, kopi itu mungkin berasal dari ladang yang kini tak lagi hijau, karena telah digunduli demi memperluas kebun komersial.
Retorika kita, sungguh sempurna. Kata-katanya canggih. Tapi empatinya lemah. Kita berbicara tentang “energi hijau”, sambil menandatangani izin eksplorasi tambang yang menghancurkan hutan adat rakyat.
Kita bangga pada proyek smart city, tetapi tak bertanya ke mana nelayan-nelayan pergi setelah lautnya ditimbun untuk reklamasi. Kita menanam bunga di taman kota yang setiap pagi sore disirami air sembari membiarkan petani kehilangan air karena sungai yang tercemar industri.
Masalahnya bukan pada teknologi, bukan pula pada konsep. Masalahnya adalah kita telah memisahkan akal dari hati kita. Kita mencintai ide-ide besar, tetapi tak lagi mampu merasakan perihnya perasaan orang kecil. Kita merancang kebijakan untuk masa depan, tetapi lupa bahwa masa depan itu justru dibangun di atas luka yang belum sembuh hari ini.
Retorika tanpa empati menjelma menjadi kekuasaan yang buta arah tanpa tedeng aling-aling. Ia membangun jalan tol ke resort mewah, tapi tidak ke kampung-kampung nelayan yang terpinggirkan.
Ia mengutip ayat suci untuk pembangunan, tapi mengabaikan tangis ibu-ibu yang sawahnya digusur demi pabrik. Ia mengucurkan kredit miliaran ke pengusaha, di tengah rakyat terjerat Pinjol, ia menyusun rencana strategis lima tahunan di hotel mewah, tapi tak punya waktu duduk di balai desa untuk mendengar keluhan petani.
Empati bukanlah kelemahan ia adalah fondasi dari keadilan. Tanpa empati, kita hanya menghasilkan solusi yang menjawab pertanyaan orang elite, bukan kebutuhan rakyat kecil.
Tanpa empati, kita akan terus bicara tentang perubahan iklim sambil menyalakan AC penuh di gedung kaca. Kita akan terus menyebut "inovasi hijau" sambil membiarkan anak-anak di pesisir bermain di antara lumpur limbah.
Kini saatnya bangsa ini berhenti sekadar menyusun retorika. Kita perlu mengembalikan dan menghadirkan hati ke dalam ruang kebijakan. Para pengambil keputusan perlu turun ke bawah, menyapa nelayan, dan merasakan tanah yang becek atau retak karena kekeringan. Para akademisi perlu berbicara dengan rakyat, bukan hanya sibuk dengan data. Para aktivis perlu membawa suara korban dan memperjuangkannya bukan hanya slogan.
Dan,... di sanalah retorika bertemu empati. Barulah di sana, kita tidak sekadar membangun negeri, tapi juga menyembuhkannya. Wallahu a’lam bisawwabe
- 1
- 2
- 3
- 4
- 5
