Muh. Syakir : Selasa, 26 Januari 2021 07:16
Danny Pomanto

MAKASSAR, PEDOMANMEDIA - Moh Ramdhan "Danny" Pomanto menatap rencana besarnya untuk lima tahun mendatang. Usai ditetapkan sebagai wali kota Makassar terpilih, ia mulai beberapa langkah penting.

Kemarin, Danny mengambil keputusan mengejutkan. Ia menunjuk mantan pj Wali Kota Yusran Jusuf sebagai ketua tim transisi. Yusran diberi tugas sebagai tim penilai kinerja para pejabat di lingkup Pemkot Makassar.

Penunjukan Yusran menarik. Dulu ia sempat menjadi orang kepercayaan Gubernur Nurdin Abdullah sampai akhirnya diangkat menjadi pj wali kota menggantikan Iqbal Suhaeb.

Sayang, masa jabatan Yusran hanya seumur jagung. Ia dicopot karena dipandang tak menunjukkan kinerja baik menangani pandemi. Yusran digantikan Rudy Djamaluddin.

Pencopotan Yusran menuai banyak prokontra. Lama tak terdengar kiprahnya, nama Yusran tiba tiba muncul setelah ditunjuk Danny menjadi ketua tim transisi.

Danny Pomanto punya alasan menunjuk Yusran. Kata dia, profesor Unhas itu memiliki kapasitas untuk menilai sistem pelayanan di lingkup Pemkot Makassar. Dalam tim nantinya, Danny juga akan melibatkan Pakar Hukum Tata Negara, Aminuddin Ilmar.

"Saya melihat beliau mumpuni dan punya kapasitas. Track record-nya juga beliau bagus," ungkap Danny.

Pembentukan tim transisi adalah bagian dari upaya "bersih-bersih" yang akan dilakukan di awal pemerintahannya. Danny secara terbuka mengungkapkan rencana restrukturisasi total di balaikota.

Isyarat ini memberi gambaran akan adanya kembali mutasi besar besaran. Selain itu, Danny Pomanto juga menyusun program penanganan Covid-19. Yang menurutnya, dibutuhkan skenario untuk mengintervensi penularan virus.

Di awal menjabat nantinya, dia juga akan menata ulang tata kelola pemerintahan dan pengembalian konsep smart city.

Di akhir periode pertama lalu Danny memutasi lebih dari 1.000 ASN. Namun SK mutasi besar besaran ini dianulir Komisi ASN. Seluruh pejabat dikembalikan ke posisinya semula.

Mutasi ini adalah buntut dari kegagalan Danny bertarung di pilwalkot. Danny yang berpasangan dengan Indira Mulyasari dianulir KPU sebagai peserta pilkada.

Pilwalkot hanya diikuti satu pasangan. Munafri Arifuddin-Rachmatika Dewi (Appi-Cicu). Sayangnya Appi-Cicu juga tumbang melawan kotak kosong.

Setelah kembali menjabat usai cuti, Danny mencopot 15 camat. Mereka dinilai tak netral di pilwalkot. Selanjutnya beberapa pejabat eselon dua juga nonjob. Saat itu lebih dari 1.000 ASN turut direstrukturisasi.

Karenanya usai terpilih kembali, Danny disarankan melakukan mutasi bertahap. Menurut pengamat politik Juanda Alim, Danny harus mempertimbangkan sisi kompetensi. Bukan sekadar like and this like dan semangat untuk memotong lawan-lawannya.

"Konsolidasi harus dibangun ulang. Kita tahu setelah mutasi massal dulu, dukungan birokrasi ke Danny itu jadi lemah. Nah sekarang bagaimana dibangun kembali," katanya.

Juanda melihat, masih ada aroma politik yang dibawa-bawa hingga kini. Danny menerima banyak masukan untuk membersihkan orang orang yang tidak pro kepadanya di pilwalkot lalu.

Menurutnya itu harus diakhiri. Danny mesti berbesar hati merangkul semua "lawan". Terutama mereka yang memang memiliki kompetensi personal.

Cara ini juga akan memproteksi masuknya figur-figur tak kompeten dalam struktur baru nanti. Dikatakan Juanda, Danny butuh figur kuat untuk membantunya membangun Makassar. Bukan sekadar orang orang yang berjasa penyokongnya di pilwali.

"Sekali lagi dalam komunikasi pemerintahan jika efek itu tak dipertimbangkan akan merugikan Danny. Saya setuju dia bersih bersih di balaikota. Tapi harus terukur," katanya.