Telusuri Masalah Kenaikan Harga Beras, KPPU Kumpulkan Pelaku Usaha dan Pemerintah
Beberapa permasalah yang terungkap dalam FGD dan jadi penyebab mahalnya harga beras.
JAKARTA, PEDOMAN MEDIA– Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) lakukan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) kemarin di Kantor Pusat dengan berbagai pemangku kepentingan, khususnya instansi pemerintah dan pelaku usaha guna mendalami fenomena volatilitas harga pangan, khususnya beras.
Hal ini disebabkan antara lain adanya tren
kenaikan harga beras khususnya dalam 6 bulan terakhir serta berbagai informasi mengenai kelangkaan komoditi beras di pasar retail.
Hadir sebagai pimpinan rapat dalam kegiatan
tersebut, Anggota KPPU Hilman Pujana dan M. Noor Rofieq, serta Deputi bidang Kajian dan Advokasi KPPU, Taufik Ariyanto.
Kegiatan turut dihadiri oleh Badan Pangan Nasional, Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, Satuan Tugas Pangan POLRI, asosiasi, dan berbagai pelaku usaha besar di komoditas tersebut.
Anggota KPPU Hilman Pujana mengatakan, beberapa permasalah yang terungkap dalam FGD dan jadi penyebab mahalnya harga beras di pasaran adalah, adanya hambatan di hulu (panen gabah), dimana berbagai macam faktor diduga mengakibatkan turunnya tingkat produksi gabah panen dan beras.
"Beberapa faktor tersebut diantaranya adalah faktor musim dan cuaca, faktor luas lahan tanam yang berkurang serta produktifitas lahan yang relatif rendah. Dari sisi penggilingan padi, terdapat informasi mengenai makin banyaknya usaha penggilingan padi kecil yang tidak memiliki kemampuan bersaing untuk memperoleh gabah hasil panen, apabila dibandingkan dengan usaha penggilingan besar, "paparnya.
Selain itu ada pula hambatan di sisi produksi dan distribusi beras, dimana sejak akhir 2023 sampai awal Februari 2024." Para pelaku usaha di bidang beras menyampaikan adanya kesulitan untuk menemukan komoditi beras untuk disalurkan ke pasar (terutama pasar modern), "ungkapnya.
Memasuki periode akhir Februari, beberapa daerah sudah melakukan panen, sehingga
diharapkan komoditi beras dapat tersedia kembali di tingkat penggilingan padi sampai ke distributor.
Sementara dari pihak Persatuan Penggiling Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) memaparkan bahwa penentuan harga komoditi ini dibentuk oleh pelaku usaha yang memiliki jaringan langsung dengan produsen di wilayah sentra produksi. Hal ini kemudian berpengaruh secara langsung terhadap harga jual beli di daerah lain.
"Efektifitas kebijakan harga eceran tertinggi (HET) untuk komoditi beras, dimana berdasarkan data dan informasi dari berbagai daerah, harga yang terbentuk di pasar relatif lebih besar dari HET yang ditetapkan oleh pemerintah, " katanya.
- 1
- 2
- 3
- 4
- 5
