Belajar Tatap Muka Ditunda Lagi Satu Semester
Situasi Covid di Sulsel, khususnya Makassar masih sangat mengkhawatirkan. Sekolah dianggap sebagai klaster potensial yang bisa mendorong kenaikan kasus.
MAKASSAR, PEDOMANMEDIA - Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah menegaskan rencana pembelajaran tatap muka Januari 2021 dipastikan diundur lagi. Kemungkinan kebijakan ini baru akan re-skedul paling cepat 6 bulan ke depan.
"Tidak ada pembelajaran tatap muka dalam waktu dekat. Situasinya sekarang tidak mungkin dilakukan karena angka kasus Corona masih cukup tinggi," ujar NA, Jumat (8/1/2021).
Hal yang sama ditegaskan Plt Kepala Dinas Pendidikan Makassar Irwan Bangsawan. Irwan mengatakan, pemerintah sudah memutuskan menunda rencana pembelajaran tatap muka. Setidaknya rencana itu tidak dijadwalkan hingga semester mendatang.
"Bahkan kalau ada sekolah yang masih nekat buka kita akan proses hukum," ketusnya.
Kata Irwan, situasi Covid di Sulsel, khususnya Makassar masih sangat mengkhawatirkan. Sekolah dianggap sebagai klaster potensial yang bisa mendorong kenaikan kasus.
Dalam lima pekan Sulsel mencatat kenaikan kasus di atas rata-rata.
Berdasarkan data nasional Satgas, hingga pekan pertama Januari, tak ada lagi daerah di Sulsel yang masuk dalam zona merah. Namun demikian kenaikan angka kasus Corona cukup tinggi. Bahkan trennya naik di atas rata-rata dibanding Oktober lalu.
Menurut NA, sebelum pembelajaran tatap muka dibuka, harus memenuhi semua pertimbangan keamanan. Pertama, angka kasus yang relatif rendah dengan trwn menurun yang signifikan.
"Sekarang kan justru naik. Jadi dari sisi itu saja sudah tak memungkinkan," katanya.
Kedua, aman bagi siswa, pengajar dan lingkungan. Harus juga dipastikan kata NA, penerapan protokol kesehatan di sekolah benar benar berjalan sebagaimana mestinya.
Dari data Desember 2020 tercatat jumlah kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Sulawesi Selatan mencapai 30.000 orang.
Peningkatan jumlah kasus ini sendiri seiring dengan peningkatan jumlah pemeriksaan spesimen untuk diagnosis Corona yang hampir dua kali lipat dari sebelumnya.
NA mengatakan bahwa, peningkatan kasus yang terjadi, khusunya di Sulsel karena berbagai pelaksanaan kegiatan, dengan interaksi tinggi. Seperti libur panjang dan pelaksanaan pilkada.
Ia menuturkan, pemeriksaan yang semakin masif dilakukan, karena dikhawatirkan virus mudah menyebar. Semakin ditemukan kasus positif tentu akan semakin menurunkan angka penularan.
"Mudah-mudahan ini adalah sebuah kegiatan yang kan menyatukan langkah kita terutama, memutus mata rantai penularan Covid-19 di Sulsel," sebutnya.
Ia menjelaskan bahwa, hal yang harus dipahami bersama adalah upaya dalam memutus mata rantai Covid-19. Pengalaman yang ada, Sulsel berada di urutan ke lima jumlah kasus Covid-19. Bahkan tertinggi di luar Pulau Jawa.
- 1
- 2
- 3
- 4
- 5
