Rabu, 06 Januari 2021 08:23

Vaksin Coronavac yang Masuk ke Indonesia Lulus Syarat, Bersertifikasi Lot Release Standar WHO

Ilustrasi
Ilustrasi

Sertifikat Lot Release adalah persyaratan penting yang harus dipenuhi dalam memastikan kualitas vaksin.

JAKARTA, PEDOMANMEDIA - Sebanyak 1,2 juta vaksin coronavac sudah tiba di Indonesia. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI memastikan mutu dan keamanan vaksin Covid-19 itu.

Hal itu dikatakan Juru Bicara Vaksinasi Covid-19, Lucia Rizka Andalusia dalam keterangan resminya di Jakarta, belum lama ini.

Bahkan kata dia, BPOM juga mengawal proses penyediaan vaksin hingga terbitnya izin penggunaan darurat atau Emergency Use Authorization (EUA).

Baca Juga

BPOM pun lanjut Lucia, telah melakukan sampling dan pengujian vaksin saat tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta.

"Pada proses penerimaan di bandara, Badan POM melakukan pengecekan kesesuaian dokumen serta kesesuaian suhu tempat penyimpanan vaksin coronavac," terangnya.

Vaksin coronavac ini dinyatakan lulus syarat. Itu dibuktikan dengan terbitnya sertifikat Lot Release.

Menurut Lucia, sertifikat Lot Release adalah persyaratan penting yang harus dipenuhi dalam memastikan kualitas vaksin.

Persyaratan ini merupakan standar yang ditetapkan World Health Organization (WHO). Yaitu berupa proses evaluasi yang dilakukan otoritas obat di setiap negara untuk menjamin mutu setiap lot atau setiap batch vaksin tersebut.

"Untuk penerbitan sertifikat ini, Badan POM  melakukan pengujian di laboratorium Pusat Pengembangan Pengujian Obat dan Makanan Nasional," lanjut Lucia.

Sementara untuk proses percepatan penerbitan EUA vaksin Covid-19 itu, BPOM telah melakukan rolling submission.

Uji praklinik pun dilakukan dengan tiga tahapan. Fase pertama dan kedua untuk menilai keamanan dan respon imun dari penggunaan vaksin.

Sedangkan fase ketiga, merupakan hasil uji klinik yang dipantau dalam periode 1 bulan setelah suntikan yang kedua.

"Tentunya, sesuai persyaratan dari WHO minimal pengamatan harus dilakukan sampai 3 bulan untuk interim analisis. Yang akan digunakan untuk mendapatkan data keamanan dan khasiat vaksin sebagai data dukung pemberian EUA," terang Lucia.

Lucia lanjut menjelaskan, jika khasiat vaksin harus dibuktikan dengan beberapa parameter. Itu harus sesuai dengan standar WHO.

Parameter pertama adalah efikasi. Yang merupakan parameter klinis. Diukur berdasarkan persentase penurunan angka kejadian penyakit pada kelompok subyek orang yang menerima vaksin, dibandingkan kelompok subyek atau orang yang menerima plasebo pada uji klinik fase 3.

Kedua, paramater imuno genesitas. Ialah parameter pengganti atau surrogates end point, efikasi berdasarkan pengukuran kadar antibodi yang terbentuk atau dikenal IgG setelah orang diberikan suntikan.

Dan pengukuran netralisasi antibodi atau kemampuan antibodi yang terbentuk untuk menetralkan atau membunuh virus. Pengukuran ini dilakukan dua minggu setelah pemberian dosis terakhir, dan dilakukan pengukuran ulang pada 3 bulan sampai 6 bulan setelah vaksin disuntikkan.

"Setelah kita mendapatkan data-data tersebut, maka dapat diberikan persetujuan penggunaan atau EUA. Sedangkan untuk efektivitas vaksin kita terus akan memantau kemampuan vaksin menurunkan kejadian penyakit di masyarakat dalam jangka waktu yang lama," tambahnya.

Jadi, Lucia menambahkan, untuk efektivitas vaksin diukur setelah digunakan secara luas di masyarakat pada kondisi yang nyata di lapangan atau di dunia pelayanan kesehatan yang sebenarnya.

Kendati begitu, saat ini BPOM masih menunggu penyelesaian analisis data uji klinik fase 3 di Bandung untuk mengkonfirmasi khasiat atau efikasi vaksin Coronavac dalam rangka penerbitan EUA.

Editor : Budi Santoso
#Vaksin Coronavac #Covid-19 #BPOM RI
Berikan Komentar Anda