TATOR, PEDOMANMEDIA - Ketua Apdesi Tana Toraja Pradyan Londong Allo tengah viral di media sosial. Pernyataannya yang menyebut dirinya sebagai kepala lembang berwatak preman banyak menuai prokontra.
Pradyan oleh warga dinilai kebablasan. Belakangan, setelah videonya viral, banyak orang justru mengungkit kasus dugaan pidana yang menjeratnya beberapa waktu lalu.
Pradyan diketahui pernah tersangkut kasus dugaan pemalsuan dokumen saat maju sebagai calon kepala lembang Tana Toraja. Kasus tahun 2019 itu masih bergulir di kepolisian.
Pradyan Londong Allo saat ini berstatus Kepala Lembang Batualu. Saat dikonfirmasi mengenai kasus pemalsuan dokumen yang menjeratnya, Pradyan mengaku sudah diperiksa terkait laporan itu. Namun ia tidak tahu perkembangannya sudah sampai di mana.
"Dari 2019 saya sudah diperiksa pak. Soal statusnya silakan bapak tanyakan ke penegak hukum," kata Pradyan, Kamis (5/10/2023).
Kepala lembang yang akrab disapa IIN mengaku tidak bisa menjawab kepada soal statusnya diperiksa di kepolisian.
"Ya, silakan konfirmasi ke penegak hukum yang menangangi. Kalau kamu tanyak saya ya saya tidak bisa jawab, karena bukan saya penegak hukum. Silakan cek ke pihak yang berwajib, tahun 2019," ungkap Pradyan.
Pradyan juga mengaku tak takut. Ia siap menjalani proses hukum.
"Maksud saya, saya siap menjalani hukuman kalau memang saya diproses. Begitu maksudnya," bebernya.
Pradyan sendiri menjadi viral setelah videonya yang mengaku preman. Ia dalam video berdurasi beberapa menit itu awalnya menyampaikan soal adanya oknum wartawan yang mengirim chat bernada mengancam kepada kepala lembang.
Dijelaskan Pradyan, dalam chat yang dikirim via WhatsApp, wartawan yang bersangkutan mengancam akan membuka kasus kepala lembang.
"Jadi ada chat yang dikirim kepada sejumlah kepala lembang. Isinya katanya ingin membuka kasusnya," terang Pradyan.
Menurut Pradyan, chat bernada mengancam itu tidak seharusnya terjadi. Kata dia, jika memang ada oknum kepala lembang yang bermasalah silakan datang dan konfirmasi langsung. Bukan dengan mengirim chat bernada mengancam.
Sebab menurut Pradyan tidak semua kepala lembang punya watak yang sama.
"Ada kepala lembang berwatak pendeta. Ada yang berwatak suka menyumbang. Ada juga yang berwatak preman. Nah saya ini salah satunya yang berwatak preman," ketus dia.
Statemen 'watak preman' inilah yang kemudian menuai kontroversi. Beberapa warganet dan para pekerja pers menyayangkan hal itu.
"Sangat disayangkan karena dia tidak menyadari dirinya sekarang menjadi pejabat publik. Seharusnya gaya preman dia tinggalkan karena semua pejabat publik tanpa terkecuali di mata pelaku pers sama. Tetap diberitakan. Wartawan banyak meliput terkait kasus premanisme. Aparat saja berkawan sama wartawan. Ini baru kepala lembang ngaku preman," ujar seorang wartawan.
Di akhir video itu, Pradyan mengajak kepala lembang untuk menjalin kemitraan dengan media dan LSM.
"Teman teman kepala lembang saya minta ke depan agar menjalin kemitraan dengan media dan LSM. Pada prinsipnya mereka itu baik. Bagaimana pun kita butuh media untuk menginformasikan pembangunan. Biar apa yang kita lakukan kalau tidak diberitakan, ya sama saja. Tidak ada artinya," imbuhnya.
Penulis: Niel